OMG! Waktunya Sidang Skripsi!

OMG! Waktunya Sidang Skripsi!

(Bonus 7 Tips Ketika Sidang)

OMG waktunya sidang skripsi

Sabtu, 20 Juli 2013

Satu-persatu teman seperjuanganku dipanggil ke ruang sidang. Bergiliran, mereka keluar-masuk dengan ekspresi beragam. Kalau ditanya, yang tercetus bukanlah sugesti negative, melainkan kata-kata penyokong semangat semacam; tenang saja, pasti bisa!

Ketika aku tengah di depan pintu ruang sidang, datang teman-teman yang belum terbagi jadwal sidang hari ini. N, teman yang menemani ketika aku melaksanakan sidang komprehensif pun datang.

“Nomor urut berapa?” tanyanya. 

“12.”

“Waktu sidang kompre ke-11, sekarang 12. Dasar 11-12. Heheheh.”

“Heheheh,” Aku ikut nyengir dan mengingat-ingat apakah iya nomor urutku waktu sidang komprehensif itu 11. Tak sampai memakan waktu lama, aku sadar bahwa waktu sidang komprehensif dialah yang ke-12 dan memang benar aku yang ke-11. Jadi sekarang benar sekali, 11-12. Beuh, cetar sekali daya ingatnya. -___-

Sesaat setelah nomor urut 7, para dosen penguji meminta istirahat waktu dzuhur. Jadi deh kami mesti menunggu lagi. Kami pun menunaikan sholat. Setelah itu, suasana menanti dilanjut lagi. Sambil memberangus rasa kesal, kami mengobrol atau memanfaatkan jaringan internet yang ada. Kurang lebih satu jam sidang dimulai lagi dari nomor urut delapan yakni teman sekelasku, Teh Lissy.

Demikian waktu merangkak ke nomor urut Sembilan, sepuluh lalu sebelas, giliran Teh Pera. Begitu dia masuk, aku makin mendekati pintu ruang sidang lalu duduk dan di kursi yang ada di dekatnya. Kubuka-buka lagi skripsiku dan mulai menata lagi kalimat apa yang hendak aku sampaikan. Kubuka juga inbox yang berisi percikan semangat luar-biasa dari para sahabat. Terima kasih banyak buat kalian, ya. ^_^

Brak…

Hanya sebentar, Teh Pera keluar. Usai memastikan dia mengucapkan “ayo selanjutnya masuk”, aku segera masuk. Begitu pintu ruangan aku tutup, aku menggunakan gesture tubuh sebagai bahasa apakah diizinkan untuk bisa memulai sidang atau mesti menunggu dahulu. Ketiga penguji mempersilakan.

“Uh, deixis ini mah…” ucap Pak Lector Kepala (kebetulan adalah Pak I, Dosen Pembimbing 1-ku) begitu melihatku.

“Hehe iya, Pak…”

“Ada berapa orang ya yang deixis tuh?”

“Yang sekarang sidang ada tiga orang, Pak.”

“Oh… ya udah, silakan.”

Kutarik napas dan membuka file slide skripsiku. Kuawali dengan menyapa dan lanjut membeberkan judul skripsi. Baru saja menjelaskan awal-awalnya, Pak I langsung berujar “skip”. Oke, aku melanjutkan membuka slide berikutnya. Ketika sampai pada “Research Question” dan “The Objectiove of the Research”-nya, para penguji memberi keleluasaan waktu untukku presentasi.

Tepat ketika slide yang memampangkan landasan teori, Pak Lector kembali memintaku untuk melewatinya. Bab 3 pun sama. Aku tak berkesempatan mengeksplor point-point di slide, seputar desain, data collection dan data analysis-nya. Begitu sampai bab 4, kembali penguji membiarkanku cas-cis-cus membeberkan hasilnya. Kubuka lagi slide ‘conclusion and suggestion’, Pak I menyetop dan menganggap cukup. Barulah pendamping kiri beliau (Pak Da) yang bicara,

“Research question satu… hm… oke… tapi jawaban untuk research question kedua bisa dijelaskan lagi, nggak?”

Aku menuruti permintaannya. Karena beliau bertanya dalam Bahasa Indonesia, lupa, aku malah menggunakan Bahasa Indonesia juga. Awalnya setelah aku menjelaskan, dosen penguji itu belum ‘ngeh’ dengan jawabanku. Tanpa disangka, Pak I membantuku. Beliau malah menunjukkan penjelasanku itu memang tercantum di halaman dan alinea dalam skripsiku. Dosen itu pun mengangguk-angguk, menandakan semuanya cukup. Ah syukurlah…

Sebelum keluar, aku pun menyalami para penguji. Mulai dari Pak Da yang meminta penjelasan Research Question 2. Saran beliau adalah mempertegas jawaban Research Question 2 dan mengecek daftar bibliography. Kemudian Pak I menyarankanku untuk mengecek tata-bahasa dan penguji terakhir (Pak Di) yang no-comment sama-sekali menyarankanku agar memperbaiki skripsi sesuai saran penguji yang lain.

Selesai. Aku pun sangat senang menerima sambutan teman-teman. Beberapa kerap menanyakan padaku seperti, “Di dalem gimana aja?”, “Ditanya apa aja?”, “Pak anu gimana?”

Maaf lahir-bathin. Tak ada maksud menggurui, hanya sharing. Berikut tips-tips ketika tengah sidang:

1. Perhatikan Penampilan
Sebelum benar-benar menginjak ruang sidang, ada baiknya memperhatikan penampilan dari atas sampai bawah. Baik itu cara berpakaian, dandanan, jas, celana, sepatu. Apakah bersih, rapi dan pantas dipakai dalam situasi formal? Tentu tidak perlu berlebihan untuk berdandan, memakai aksesoris, menyematkan perhiasan, dst.

2. Salam-Sapa-Senyum
Senyum perdana biasanya mampu menyalurkan ketenangan dalam segala hal, baik itu menjadi tenang dalam gerak-gerik maupun cara berbicara. Lakukan pula salam dan sapa sebagai pembukaan, agar jalannya skripsi bisa tersusun sebagaimana mestinya.

3. Jelaskan Inti dari Skripsi
Jika dipersilakan, beberkan latar-belakang skripsi kita. Namun, jika penguji hanya memberi waktu yang terbatas, ungkapkan saja hal-hal utama dalam skripsi. Semisal rumusan masalahnya, jawabannya, hasil analisisnya, kesimpulannya, dst. Usahakan menghindari penjelasan teori, seperti mengemukakan deifini sesuatu. Bagaimanapun, tanpa kita kasih tahu, para penguji tentu telah lebih tahu dan paham duluan. Heheh. Bukan apa-apa, nanti terkesan kita tengah menggurui. Kecuali kalau penguji menanyakan, baru deh kita jelaskan.

4. Woles
Ketika menjelaskan, usahakan kita bisa berbicara dengan tenang. Tak terlalu cepat, tidak juga patah-patah. Maka, dianjurkan sebelum berbicara, kita menarik napas panjang dan segera menyusun kata atau point apa yang hendak dikemukakan. Begitupun ketika menerima pertanyaan, kritik atau konfirmasi. Tetap senyum dan berpembawaan santai, supaya tak mengganggu konsentrasi kalau-kalau penguji menguji kita dengan cecaran pertanyaan. Padahal kita tahu jawabannya, namun karena gugup, biasanya akan blank.

5. Show your best
Bisa dikatakan, sidang skripsi adalah ‘performance’ terakhir kita. Usahakan tampilkan yang terbaik, utamanya ketika tanya-jawab. Kerahkan kemampuan, ingatan, pemahaman dan keterampilan berbicara. Meski demikian, baiknya tetap menjaga etika ketika berhadapan dengan dosen atau penguji.

6. Menuruti Penguji
Penguji memang tugasnya memberi ujian, entah itu menguji pengetahuan maupun mental. Wajar sekiranya mereka bertanya-tanya, memberi kritik dan mencecarkan saran. Kalau tidak begitu, bukan penguji lagi namanya. Heheh

Karena penguji adalah orang-orang yang berkompeten, tingkat pendidikannya lebih tinggi dan banyak pengalaman… baiknya terima saja segala masukannya. Tak perlu membantah dan mendebat. Insya Allah semua itu memang mereka pertimbangkan demi kebaikan skripsi kita sendiri.

7. Ucapkan Terima Kasih
Se-PAP (Pahit, Asem, Pedas) apapun komentar penguji, percaya saja, semua itu memang diperlukan sebagai ujian untuk mengasah mental juga kemampuan. Lagipula… mereka tentu meluangkan waktu dan memerah pikiran demi memikirkan saran terbaik apa untuk skripsi kita. Nah, demi mengapresiasinya… tak ada rugi kalau kita mengucapkan terima kasih, syukur-syukur sambil menyalami mereka dengan takdzim.

Usai sidang skripsi, rasanya ‘plong’. Ibaratnya sih kegalauan bertahun-tahun itu luruh seketika. Heheh. Bagi yang belum sidang, mudah-mudah segala sesuatunya dimudahkan. Aamiin… [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *