Pelepasan, Bukan Perpisahan

Pelepasan, Bukan Perpisahan

pelepasan bukan berarti perpisahan

Rabu, 28 Mei 2014

Ada yang pelu aku diskusikan dengan anak-anak Rombongan Belajar (Rombel) INTEL…

Suara hatiku seolah nyetrum dengan salah satu anak, Nia. Dia mengirim sms, menanyakan kapan ujikom akan dilaksanakan. Kebetulan jadwal mereka itu Rabu-Kamis. Rabu sekarang masuk namun besok Kamis libur tanggal merah. Dan mengingat mereka sudah lulus, waktu les memenuhi empat bulan dan semua materi sudah tersampaikan… kurasa sudah saatnya mereka ujian.

Aku memang hendak mengajukan beberapa opsi pada mereka. Pertama, ujikomnya hari ini saja (sekalian dengan evaluasi Microsoft Power Point). Kedua, ujikomnya minggu depan. Ketiga, ujikomnya berbarengan dengan Rombel lain (kelas X). Dan rencananya ujikom resmi baru akan dilaksanakan pada mid Juni 2014.

Siang itu, dalam perjalanan menuju LKP, aku berpapasan dengan tiga muridku terdahulu. Mereka menyapa dan mengetes nama padaku. Tentu saja aku masih ingat; Syamsul, Susi dan Mila.

“Cie Susi, cie Syamsul,” godaku, baru ingat kalau mereka pernah terlibat hubungan lebih dari teman.

“Si Ibu suka kepo!” seru Susi sambil mesem-mesem. Aku bisa memahami betapa tergodanya Susi oleh Syamsul. Ketampanannya memang orisinal. 😀

“Bu, pengin les lagi,” kata Mila, entah benar atau bercanda belaka.

He he he, sudah saatnya kalian bertebaran dan menggapai impian. ^_^

Setibanya di ruang KBM, baru ada Nia dan Irwansyah. Sambil menunggu yang lain (kalau datang) dan peralatannya, kami mengobrol soal mereka dan masing-masing rencananya. Kebetulan keduanya hendak ke luar kota dan menginginkan ujian sekarang. Aku setuju setuju saja. Tak mau rasanya membebani mereka yang hendak mengadu nasib ke luar kota. Walau dalam hati, aku sempat mengharapkan kalau mereka berwirausaha saja, bukan bekerja. Heuheu.

“Nah, kita mulai aja, ya?!” kataku berbau ‘perintah’, begitu peralatannya sudah lengkap.

“Tapi yang lain juga mau datang, Bu,” sela Nia.

“Ya gak apa-apa, kalian aja dulu,” Aku bersikukuh dan mereka begitu patuh.

Nia dan Irwansyah. Keduanya memang sosok yang rajin dan mentaati waktu. Hari itu, waktu seakan menyediakan kesempatan penuh padaku untuk berdekatan dengan mereka, mengorek apapun yang hendak mereka lontarkan. Dan sebagai kakak, aku berdoa; mudah-mudahan mereka bisa membawa diri, menggapai apa yang diinginkan, tetap rendah hati dan selalu melibatkan Allah Swt dalam segala hal.

Setelah beberapa lama, datang Lia-Ai-Wiwin-Nitha. Aku tak berbasa-basi lagi dan segera memberi lembar evaluasi pada keempatnya. Memang bukan disengaja, lembar kerja yang berwarna tinggal tiga. Maka, mesti ada satu orang yang menerima potokopiannya saja dan dia adalah Nitha.

“Pilih kasih!” tuding Nitha.

Sementara aku sudah terbiasa mendengarnya dan sudah biasa juga tak terlalu menanggapinya. Memang benar-benar tidak kusengaja dan tidak bermaksud pilih kasih. Meski kuakui, dia memang kerap jadi objek yang ‘aku tumbalkan’. Kebiasaan, di setiap kelas, ada saja yang jadi korban. Hal itu kumaksudkan dengan tujuan bercanda saja. Agar kelasnya lebih hidup dan interaktif. He he

“Nah, Lia-Ai-Wiwin-Nitha, Nia sama Irwansyah mau izin ujian sekarang…”

“Kenapa?”

“Mereka mau ke luar kota. Jadi kalau ujiannya nanti, ditakutkan tak bisa ikut,” jelasku, “Jadi sekarang kalian punya pilihan. Mau ikut ujian sekarang, minggu depan atau bareng sama rombel lain?”

“Kalau besok?” Ai bertanya, “Eh gak bisa, ya? Kan libur?” Dia menjawab pertanyaannnya sendiri.

“Minggu depan aja,” Nitha menyumbang jawaban.

“Aku sih gimana baiknya aja,”kata Lia.

“Sekarang aja!” tegas Wiwin.

“Tapi, Bu, kalau ujian sekarang berarti nanti gak akan les lagi dong?” tanya Lia dan kurasa dia tahu jawabannya.

“Ya iyalah,” timpalku.

“Gini aja,” Nitha mengajukan solusi – yang kukira bagus – ternyata…,”Kita ujian sekarang, tapi minggu depan tetap les?”

“Enggak, kalian udah bebas…”

“Si Ibu emang pengin melepas kita, biar lega,” potong Lia.

“Ya… biar bisa fokus…”

“Sama yang lain!” Lia menikung perkataanku lagi.

“Iya, juga biar kalian bisa fokus. Yang mau kerja, buka usaha, nikah, kuliah, dst.”

Mereka bergeming.

“Tapi kalau kalian mau ke sini, ya tentu boleh aja,” kataku lagi.

“Masa pertemuannya cuma segini?” Lia yang bilang.

“Iya sih,” Aku mengakui, “Tapi ya itu, kalau mau ke sini ya ke sini aja.”

“Iya ah!” seru Nitha.

“Kamu sih enak, rumahnya deket!” Ai nimbrung.

“Yaaah… Kita gak bisa ketemu lagi, dong?” Lia menyayangkan, mungkin masih berat kalau mesti terpenggal jarak dengan sahabat, dalam waktu dekat.

Tapi begitulah perpisahan. Kedatangannya tak memandang keadaan. Meski sedang betah atau sedang nyaman dengan kebersamaan, kalau sudah waktunya berakhir, ya sudah… selesai.

“Gak apa-apa, Bu, sekarang aja,” Wiwin teguh pendirian dan aku sangat menyetujuinya.

Meski demikian, diskusi kembali bergulir. Namun seperti biasa, selalu diiringi tawa, sampai Bu Heni dan anak-anak Bahasa Inggrisnya geleng-geleng. Dan kemudian, kami mendapat keputusan final. bahwa ujian akan dilaksanakan hari ini juga!

“Kejutan ya sekarang?” kata Lia, pada semuanya, “Surprise!”

“Tapi ini keputusan kalian, ya? Enggak dipaksa loh!” Aku meyakinkan, takut nanti ada salah paham.

“Dipaksa!” sahut Nitha. Sentimen banget! -_-

“Iya, Bu,” jawab Wiwin melegakan, sementara yang lain memilih bungkam. Aku artikan aksi diam mereka sebagai tanda kesepakatan. Hohoho.

Sesaat setelah evalusi Ms Power Point selesai, kami langsung melaksanakan ujikom. Soal-soalnya aku ambil dari materi Ms Excel 2007. Kasian sih, sebab ujikomnya memang seperti kata Lia – mengejutkan. Tapi aku menaruh kepercayaan pada mereka. Pasti bisa!

Ujian berlangsung. Aku memutuskan untuk ‘jadi orang lain’; mengabaikan mereka mau benar atau salah, ‘hinggap’ sebentar saja lalu berlalu dan sama sekali tak memberi clue. Selain menghormati maksud baik dari ujikom, aku memang ingin tahu skill mereka sudah sejauh mana. Meski demikian, kubentuk suasana se-rileks mungkin. Bahkan kadang-kadang Pak Rian gabung untuk berbagi canda.

“Gatel, Bu,” ucap Nitha sambil menggaruk dahinya. Aku kebetulan menghampirinya dan tertegun menatap kolom isiannya terjawab dengan benar. Jadi bangga!

“Ya garuk,” Aku menimpali dengan datar dengan mata terus tertuju pada kolom isiannya.

Grrrr!

Mereka terpingkal. Jadi aku yang garuk-garuk. Ada apa, ya?

“Yah… garukin kek, Bu,” seloroh Nitha. Etdah ni bocah!

Tabel pertama soal fungsi IF sederhana dan fungsi rank sudah mereka lalui. Tabel kedua, fungsi IF OR. Sebagian besar masih merasa pusing dan baru Nitha yang kuperhatikan lolos. Lalu tabel terakhir, fungsi Hlookup & Vlookup. Soalnya sepele, namun cukup jadi alasan untuk mereka merasa mumet. 😀

Waktu terus bergulir. Kelas Bu Heni sudah bubar dan beliau memutuskan untuk meninggalkanku. Huft! Dan beberapa saat kemudian, Pak Rian dan anak-anaknya menyusul. Jadilah tinggal kelas kami.

“Jangan dipaksakan, save aja seadanya,” kataku.

“Kasih tahu dong, Bu!” pinta Nia.

“Si ibunya lagi pelit,” Wiwin yang menjawab dan memang benar. Untuk saat ini, lebih baik menerima jawaban mereka seadanya, ketimbang memberi tahu jawaban sebenarnya.

“Yeaaaay!” Ai bersorak girang, membuat naluri latahku sempat keluar. Rupanya dia berhasil menaklukan tabel terakhir. Wuih! Good job, girl!

Ada kendala. File Ms Power Point milik Lia belum bisa di-save. Sepertinya masih loading atau no responding sama-sekali. Aku pun duduk menghadapi netbooknya, diantara Lia dan Nitha. Kucoba membantunya dan alhamdulillah, tersimpan!

“Alhamdulillah,” ucapku, menyadari semuanya sudah berakhir dengan baik, “Nah… selamat tinggal, semuanya. Selamat menempuh hari-hari dan aktivitas baru…”

“Aaaak!” Mereka histeris.

“Selamat datang di dunia nyata,” sambungku.

“Iya ya, Bu? sekarang baru kerasa,” kata Wiwin.

“Iya dunia sekolah ibaratnya masih jadi dunia khayal, dan sekarang udah lulus, udah saatnya menghadapi kenyataan,” perkataanku mulus tanpa terjegal, “Terus tak lupa. Teteh minta maaf sama kalian,” Aku memandangi mereka satu per satu.

“Sama-sama,” kata Lia yang duduk di sebelah kananku.

“Maaf ya Lia, Irwan, Nia, Wiwin, Ai,” Aku memandangi adik-adikku dari sisi paling kanan.

“Hmmm,” Nitha yang duduk persis di sebelah kiriku berdehem dan yang lain tertawa.

“Iya sama Nitha juga,” ucapku, “Mohon maaf sudah jadi objek yang sering dikadalin,” Aku jujur.

“Gak dimaafkan!” ketusnya, membuat yang lain tertawa.

Aku tak acuh. Senyumin aja. Pasti dia bercanda. Lagipula jika permintaan sudah diucap, ya sudah, tak peduli mau dimaafkan atau bahkan ditolak. Dan Nitha tak berkata apa-apa lagi, melainkan merangkulku. Aku jadi terharu.

“Maafkan Lia juga ya, Bu,” kata siswi periang ini begitu kami berdiri, “Suka ketawa mulu, bikin ibu khawatir. Ha ha ha.” -_-‘

Mereka menyalamiku satu per satu. Dan Nitha, memelukku lagi. Tak ada perasaan sedih. Selain aku hanya jadi tutor pengganti untuk mereka, memang tak perlu ada duka atas perpisahan ini. Sudah waktunya.

Yang ada adalah perasaan, hmmm… apa, ya? Ya layaknya seorang kakak yang hendak melepas adiknya untuk keluar rumah, memilih jalan kehidupannya. Akhirnya… selamat berjuang, adik-adikku. Mudah-mudahan ridho Allah Swt selalu menyertaimu. Aamiin. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *