Penemu Solusi dan Pemecah Masalah

Penemu Solusi dan Pemecah Masalah

setia

Suatu malam, aku tengah mengobrol dengan seorang sahabat. Dia merupakan salah-satu karyawan di salah-satu perusahaan air mineral. Layaknya dua sahabat perempuan, obrolan kami menggelinding ke mana-mana. Dari hal yang privasi, yang umum sampai pada yang gak jelas sekalipun. 😀

Acara mengobrol kami yang tak sengaja itu ditemani oleh camilan-camilan dan gelas-gelas plastik air mineral.

“Makan mulu nih, jadi haus,” kata temanku masih sambil mengunyah kripik singkong berlevel pedas yang rendah.

“Minum atuh,” Aku menawarkan air mineral kemasan yang ada.

“Yah, merk A!” keluhnya melihat minuman yang kutawarkan, “Bukannya yang merk B, AN atau T!”

“Merk-merk itu gak dijual di sini!” responku terkait merk B, merk minuman mineral yang berasal dari pabriknya.

“Haha iya, market kita malah bukan daerah kita sendiri.”

“Pantesan waktu KKN malah dapetnya yang merk T itu. Perasaan asing, eh malah dari kabupaten sendiri.”

“Iya, pasar kita emang ke sana.”

“Hmm.”

“Padahal minuman kayak gini gak sehat, tau?!” kata temanku lagi, malah sambil menyedot minuman yang kutawarkan.

“Lebih sehat air yang dimasak sampai mendidih,” tambahnya.

“Lha, terus kenapa kita mesti minum minuman kayak gini?”

“Praktis!”

“Praktis juga umurnya, ya?”

“Hahaha iya banyak zat kimianya.”

“Tapi kadarnya diteliti dulu, ‘kan?”

“Ya iyalah, layak atau enggaknya,” sahabatku itu memastikan, dia lalu melihat-lihat kemasan luarnya.

“Gini nih, aku suka kemasannya. Kelihatan fresh, jadi orang itu tergiur buat minum.”

“Mmm, hu’uh… hu’uh…” Aku setuju.

“Eh,” sahabatku rupanya menemukan sesuatu, “Jangka kadaluarsanya kok lama banget sih? Sampai 3 tahun.”

“Emang mestinya berapa lama?”

“Rata-rata sih 2 tahun.”

“Ooo,” Aku mengangguk-angguk, “Emang air ada basinya juga, ya?”

“Iya gimana, ya?!” Dia nampak memikirkan jawaban yang tepat, “Mikrobanya bakal tambah banyak. Bisa bahaya tuh!”

“Mmm,” Aku masih memikirkan sesuatu, “Karyawannya sendiri suka minum?”

“Kalo di kantor sih iya,” jawab sahabatku, lalu membuat jeda, “Tapi aneh, sekarang aku minum yang bermerk lain.”

“Murtad! Hahaha.”

“Hahaha, iya rasa memilikinya berkurang,” Dia juga tertawa, lalu reda, “Padahal sekarang lagi musim orang hajatan, bisa deh aku jual beberapa dus.”

“Ah kalo dikit mah kagok, belum lagi transport-nya repot.”

“Iya sih, pembelian minimalnya harus 50 dus.”

“Oo…”

“Kan ada buruhnya yang mengundurkan diri, eh cuma bikin surat pengunduran diri, udah deh. Gak ada apresiasi apa, gitu?!”

“Gak ada pesangon? Ya ampun kayak pamitan ke temen aja. Kok gitu sih?”

“Iya soalnya dia masih karyawan harian. Makanya aku kasian kalo mesti masukin orang sembarangan ke sana, apalagi yang pendidikan belum tinggi,” paparnya, sebab memang ada beberapa orang yang minta “dititipkan” ke perusahaan air mineral itu.

“Oo, gitu. Padahal buruh itu banyak jasanya buat pabrik, ya?”

“Ya iyalah, makanya gak aneh banyak buruh pada demo. Kinerja mereka kadang gak sesuai sama bayarannya. Malah kadang, buruh yang udah mengabdi sepuluh tahun gajinya malah sama dengan orang baru.”

“Setia bener, ya?”

“Konsekwensinya tinggi kalo keluar. Mending kalau udah ada cadangan pekerjaan yang lebih baik, lha kalau gak ada sama-sekali? Repot lagi!”

“Hmm bener, bener, bener.”

Well…

Apresiasi orang, termasuk seorang bos terhadap karyawannya bisa dengan dua cara ya, Bro-Sist. Ada “praising” dan “correction”. Praising artinya pujian (bisa dengan lisan, penghargaan, gaji tambahan, dst) dan correction adalah perbaikan. Sebagai bos, semestinya kita melakukan itu semua sebab keduanya merupakan “feedback” yang amat efektif. Dan sebagai karyawan, semestinya kita siap menerima keduanya. Baik itu pujian maupun koreksi.

PR2

Sekelumit obrolan bersama sahabat di atas sedikit banyak menyinggung soal karyawan ya, Bro-Sist. Baik itu menyinggung tanggung jawabnya, kinerjanya, apresiasinya, dst. Karyawan sendiri terbagi menjadi 2 tipe:

Problem Solver:

Secara bahasa, artinya adalah pemecah masalah. Karyawan macam ini bisa menyelesaikan masalah yang memang jadi tanggung jawabnya. Misalnya Si A bertugas sebagai operator mesin. Suatu saat ketika dia telah mengerjakan tugasnya, dia menemukan sampah berserakan.

Jika dia bertipe problem solver, maka dia akan berpikir “Ah membersihkan sampah ‘kan tugasnya Si Anu, gue sih udah mengoperasikan mesin sebagai tugas utama. Bodo amat deh sampah ini memenuhi pabrik juga!”

Solution Finder

Secara bahasa, maknanya itu penemu solusi. Karyawan macam ini bisa menyelesaikan masalah bahkan sampai ke akar-akarnya, walaupun masalah tersebut bukan tanggung jawabnya. Misalnya Si B bertugas sebagai pencuci piring di suatu restoran. Suatu saat ketika dia telah mengerjakan tugasnya, dia mendengar keluhan manajer terkait anjloknya jumlah pengunjung.

Jika dia bertipe solution finder, maka dia akan terpanggil untuk ikut beraksi. Setidaknya dia akan turut mengemukakan pendapat mengenai cara menaikkan jumlah pengunjung dan pendapatan restoran. Bahkan dia tak segan-segan bertidak langsung, misalnya memasarkan masaka-masakan andalan restoran tersebut ke sosial media, membuat blog sendiri, membuat page di fesbuk, melakukan gebrakan unik, dst.

Intinya… apapun kita, selama benar-benar bertanggung jawab dan amanah, insya Allah berkah ya, Bro-Sist. [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *