Penyebab Hubungan Persahabatan Retak / Putus

7 Penyebab Hubungan Persahabatan Retak / Putus

broken friendship

Punya ‘sahabat sejati’ ‘kan, Bro-Sist? Percaya gitu sama istilah ‘persahabatan’? Hehehe

Percaya atau tidak, bukan itu masalahnya. Yang jelas kebanyakan orang memiliki teman-teman terdekat – istilahnya ‘yang paham luar-dalam’ tentang kita. Mulai dari sering jalang bareng, makan bareng, curhat, paham sifat/kebiasaan/kesukaan, dst. Merekalah yang kerap kita sebut sahabat – yang kalau lagi ada, suka nyebelin-bikin risih-rame, namun sekalinya gak ada… hampa juga! -_-‘

Sekarang, gimana hubungan Bro-Sist sama para sahabat? Ada yang sedang renggang kah? Ow ow ow. Berikut ini beberapa faktor atau penyebab persahabatan jadi rusak bahkan terpisah. Jom!

Jarak

Tak seperti ketika berdekatan, kalau sudah jarak jauh, hal yang sering kita keluhkan adalah komunikasi. Meski sudah punya senjata berupa ponsel dan media sosial, namun tak selamanya kita bisa intens merajut hubungan. Lagipula, komunikasi jarak jauh seringkali terasa ‘kurang afdhol’ – emosinya kurang ’dapet’, ketergantungan pada teknis, biaya, dst. Kecuali jika kita tipe orang yang bisa mempertahankan ‘ritme’ merajut hubungan, mungkin faktor jarak bisa teratasi.

Status Sosial/Pendidikan

Di pihak yang status sosial/pendidikannya kurang, ia kerap merasa minder menghadapi sahabatnya yang telah ‘lebih tinggi’. Jadi ada rasa sungkan, segan dan takut dianggap kurang menempatkan diri – walaupun sang sahabat tidak mempermasalahkan hal tersebut. Beda sekali ketika mereka sama-sama dalam satu ‘level sosial’.

Selain itu, mindset dan gaya hidup pun akan otomatis berubah dan berbeda. Misalnya… kalau dulu sering sama-sama jajan di warung-warung pinja (pinggir jalan), kini dia memilih di tempat-tempat makan bonafid yang higienis, berkelas dan mahal.

Atau, kalau dulu merasa bebas-lepas dalam berbincang, kini tiba-tiba dia berubah jadi makhluk paling serius dalam menghadapi hidup. Sedikit-sedikit mencomot istilah asing, menyangkut-pautkan dengan yang ilmiah-ilmiah, membahas topik yang bikin pusing, kurang tertarik sama hal-hal tradisional dan gampang tersinggung ketika bercanda. Hmm… jelas sekali terpental dari kebiasaan-kebiasaan lama. Heu

Status Pribadi (menikah/belum)

Ketika sama-sama masih sendiri (belum menikah), kita bisa sesuka hati mengatur-atur waktu pertemuan dengan para sahabat. Mau jalan kapan, ke mana, mengagendakan apa, dst. Namun begitu salah-satu diantara kita menikah, rasa ‘sesuka hati’ itu pelan-pelan akan sirna.

Secara otomatis, kita akan mempertimbangkan pasangan sahabat kita. Bagaimanapun, mereka telah memiliki tanggung jawab dan ‘keterikatan’ satu-sama lain, sehingga wajib meminta izin. Dan, kita tak bisa terus-terusan ‘mengganggu’ keluarga sahabat sendiri.

Kesalahpahaman yang tidak terluruskan

Kesalahpahaman hadir karena komunikasi yang kurang baik. Ada pesan yang tak tersampaikan, atau ada pesan yang kurang dipahami. Jika hal ini terjadi dan terpendam terus-menerus, bisa jadi kesalahpahaman itu akan seperti untaian benang yang terus menggelinding – sampai kapanpun, jika tak diluruskan, akan kusut tak karu-karuan.

Tak heran, ada para sahabat yang tiba-tiba berubah. Jadi kurang ‘care’, terkesan menghindar, sungkan berkomunikasi, tertutup, dst. Jika tak ada penyebab lain, kemungkinan ada kesalahpahaman yang belum kita uraikan.

Pergaulan/ teman-teman baru

Jika sudah merasa ada ‘sahabat pengganti’ yang sama baiknya atau bahkan lebih baik, pelan namun pasti – kita bisa mengesampingkan sahabat-sahabat lama. Bagaimanapun, intensitas kita dalam menjalin hubungan dengan ‘wajah-wajah’ baru itu lebih tinggi. Terlebih, mereka itu begitu dekat dan lebih ‘update’ mengenai segala hal tentang kita.

Aktivitas/Kesibukan

Lambat-laun, kesibukan atau aktivitas kita bisa mengalihkan bahkan menggerus pikiran dari apapun – termasuk para sahabat. Waktu kita akan banyak dihabiskan oleh aktivitas, sehingga jatah kebersamaan kita dengan para sahabat akan berkurang bahkan kalau terlalu fokus, tak akan tersisa sekalipun! :O

Murni karena tak ingin bersahabat lagi

Kadang, ada sahabat yang ternyata ‘sama-sekali bukan sahabat’. Kita kerap memujanya, menganggapnya sebagai makhluk tersolid yang pernah sukarela menjadi sahabat kita, namun ternyata… (intinya ada alasan-alasan tertentu yang membuat kita enggan melanjutkan jalinan persahabatan).

Sehingga, dalam suatu waktu kita tersadar dan terpikir untuk ‘menyudahi’ hubungan persahabatan itu. At least, tak menjadikannya sebagai sahabat melainkan seorang teman biasa saja. Karenanya, usaha yang kerap kita lakukan adalah menghindar secara perlahan. Mulai dari jarang ketemu, komunikasi, sedikit lebih tertutup, kurang kepo, dst.

Faktor-faktor di atas bisa bertambah dan berkembang ya, Bro-Sist. Lagipula sifatnya subjektif, jadi tak semuanya berlaku. Ya… mudah-mudahan Allah Swt meridhoi persahabatan diantara kita. Aamiin. [#RD]

*31 Maret 2014

2 Comments
  1. Vitha Vielove
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *