Percaya Keajaiban Jodoh

Young Woman Looking Up at Sky

Usai lebaran, sering saja, kartu undangan berserakan. Jika di kertas kotak putihnya tertera namaku, aku segera membuat rencana. Sebaik mungkin aku berusaha menyambut undangannya. Untuk hadir, untuk mengajak teman lain, untuk menyiapkan ‘amplop’, dst. Bukankah salah-satu perintah Rasul itu menghadiri undangan? Heu. ^_^

Khusus bulan syawal, daftar orang yang memiliki hajat untuk menikah atau mengkhitan puteranya sangat bejibun. Maklum, syawal menjadi salah-satu bulan favorit sebagai waktu untuk mengadakan hajatan. Salah-satu faktornya, mungkin syawal dianggap sebagai bulan di mana semua orang ‘pulang’. Jadi kemungkinan berkumpulnya sangat besar.

Sayangnya… rencana menghadiri undangan tak selamanya terjawab. Aku memiliki ‘schedule’ (cieh, skedul :D) untuk menghadiri pernikahan teman (N). Sahabatku, Eva, terus menghubungiku. Intinya, dia meminta konfirmasi apakah aku hendak datang atau tidak. Biar bareng. Namun sekali lagi, sayang. Kebetulan kakak perempuanku melahirkan anak kedua. Aku jadi ‘kecipratan’ repot. Karena keadaan beliau tidak memungkinkan, aku mesti siaga menjaga warungnya sekaligus menjaga anak pertamanya yang masih balita.

Jadi deh aku tidak bisa bersilaturahm ke rumah N yang tengah berbahagia. Yang aku bisa hanya menitipkan amplop, hitung-hitung perwakilan diriku. 😀 Bicara soal N, berita pernikahannya cukup memberi kejutan. Sebab, lelaki yang menikahinya itu adalah kakak kandung dari mantan kekasihnya. Tak heran, sebelum menikah banyak sekali yang melontarkan candaan padanya:

“Pacaran sama adiknya, eh nikah sama kakaknya.” 😀

“Ah yang dulu sih main-main aja,” begitu cara N menangkis.

“Yah namanya juga jodoh… tak terduga,” sebagian orang menanggapinya demikian.

Tak hanya N yang menikah pada hari-hari usai lebaran. Ada dua kakak kelasku yang juga ikut menikah, Teteh I dan Teteh V. Waktunya berbeda beberapa hari dari akad nikah N. Itu sebabnya kerepotanku yang mulai renggang memberi kesempatan tersendiri untuk bertandang ke rumah mereka.

Sore-sore, aku bersama Teteh Itha, Teteh Widya dan keponakan Teteh Widya mengunjungi rumah Teteh I. Sebelumnya, seorang adik kelas berseru padaku,

“Teteh! Nikahnya juga nanti lusa kok udah mau kondangan?”

“Yang bener? Haduh, gimana nih?” kataku meminta pendapat Teteh Itha dan Widya.

“Gak apa-apa lah sekalian, daripada nanti balik lagi.”

Kami pun memutuskan untuk lanjut saja. Benar, rumah Teteh I masih sedang bersiap. Di rumahnya pun tak ada seseorang yang tengah berkunjung. Namun tetap saja kakaknya Teteh I menyambut dan mempersikan kami masuk. Beliau tidak mempermasalahkan kedatangan kami yang tak sesuai tanggal undangan. 😀

“Teteh I-nya mana, Teh?” tanyaku pada kakaknya Teteh I.

“Belum pulang kerja, tapi udah di-sms kok…”

“Kerja?”

“Iya, dikasih liburnya mulai besok, Neng…”

“Ckckck,” Kami berempat cukup terkejut.

Obrolan mengelinding sebentar. Seputar calon suami Teteh I. Kami memang tak cukup mengetahui hubungan mereka. Tahu-tahu dapat undangan menikah. Wah, jarang-jarang ada lelaki yang ‘gentle’ membawa hubungannya ke ranah seserius, sesuci dan sesakral pernikahan. ^^

Karena Teteh I tak juga datang, berat hati kami pamit. Kami mesti melanjutkan rencana untuk kondangan ke Teteh V. Beda dengan suasana rumah Teteh I, di rumah Teteh V sudah cukup hiruk-pikuk. Orang keluar masuk menemui sang empunya hajat, terutama menemui orang tua Teteh V itu sendiri.

Sementara Teteh V yang melihat kami segera menyambut hangat. Kami memiliki ‘tempat khusus’ untuk bercengkrama berlima. Tak jauh-jauh kami membicarakan persiapan Teteh V menyambut pelepasan status lajang.

“Rasanya gimana, Teh? Deg-degan, yah?”

“Nggak, biasa aja.”

“Sama deg-degannya kayak mau UN apa nggak, Teh?” tanyaku lagi, ceplas-ceplos polos. Semua tertawa.

“Nggak, beneran. Malah ini juga bangun tidur…”

“Ya ampun kok sempet-sempetnya tidur…”

“Iya lebih deg-degan waktu Si Aa bilang mau nikahin Teteh, tauuuk?!”

“Gitu, ya? Emang gimana ceritanya kok bisa mau nikah sama Aa I, sih? Perasaan pacarannya bukan sama dia…”

“Itu dia… pacaran aja ke sana-sini, eh yang serius dan mau jadi suami malah Aa I…”

“Iya gimana ceritanya?”

“Intinya sih kami kenal dalam hitungan bulan, terus pas lagi jalan dia bilang mau ‘ngiket’. Udah paham lah artinya apa?! Teteh guling-guling di kasur gak bisa tidur, mau bangunin mamah-papa kasian lagi pada nyenyak…”

“Terus?”

“Kan Teteh itu kebetulan lagi nyari kerja di Bank, syaratnya harus berstatus single selama setahun. Gimana gak galau tuh?!”

“Oo… gimana dong?”

“Ya pas udah pikir-pikir, pertimbangan… akhirnya ya udah, toh orang yang cari kerja ujung-ujungnya pengin nikah juga…”

“Waaah…”

“Ya jadi Teteh mah gelar sarjana itu emang buat anak-anak Teteh kelak, tapi kalau ada lowongan sih mau aja. Hehehe.”

Matahari makin bungkuk dan obrolan terus berlanjut. Hari gelap memaksa kami untuk menyudahi topic yang cukup seru ini. Intinya, kita selalu dibikin percaya dengan keajaiban jodoh. Proses dan jawaban dari usaha kita, bagaimanapun, tak akan lepas dari campur-tangan Tuhan. [#RD]

*23 Agustus 2013

2 Comments
  1. heri
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *