Pertemuan dengan Tante-Tante Hebat

Pertemuan dengan Tante-Tante Hebat

cerita pertemuan dengan tante tante hebat

evanmarckatz.com

Kota kecilku, Kuningan, diguyur terik yang bikin menjerit. Hawa panas, tenggorokan kerontang, keringat bermunculan dari balik pori-pori dan perasaan khas kepanasan pun otomatis kurasakan. Kalau sudah dalam kondisi demikian, kadang daku berimajinasi untuk loncat ke sebuah kolam.

Siang itu daku berbelanja untuk keperluan kios. Karena tak terlalu banyak, agenda berbelanja pun tak menguras banyak waktu. Tak sampai berjam-jam, daku sudah disuguhi (kalau tidak salah) 3 kantong plastik besar. Ada yang bobotnya berat, ada pula yang ringan.

Seperti biasa, daku menunggu di sebuah warung – yang kadang jadi tempat jajan juga. Awalnya daku mencari angkutan umum yang sudah kukenal, namun niat itu berbelok. Betapa tidak, tak ada seorang supir pun yang familiar. Sekalinya ada, eh angkutan umum dengan trayek berbeda menghalangi. Alhasil dia pergi dan daku mesti menunggu lagi.

Karena tak tahan panas, daku naik sembarang angkutan umum saja. Duh, agak menyesal juga ketika daku masuk. Daku ingat, Pak sopirnya kurang menyenangkan – rewel dan kerap mengetem. Namun ya sudahlah, mungkin sudah menjadi rezeki masing-masing. Kendaraan yang kosong melompong itu merayap perlahan.

Ketika kuredakan penat dan konsentrasiku mulai pecah, angkot berhenti. Sepertinya ada penumpang, pikirku. Benar saja, seorang tante-tante terlihat tengah menanti di pinggir jalan. Dari penampilan luarnya, dia memang belum terlalu tua. Perkiraanku usianya antara 35-40 tahunan. Rambutnya pendek, memakai kaus pendek, berkulit putih, menggunakan sebuah tongkat sebagai penyangganya untuk berjalan dan tengah menggenggam sesuatu.

“Santai ya, Mang,” katanya sebelum masuk angkot.

Terlebih dahulu ia meletakkan barang genggamannya ke kursi penumpang yang kosong. Sekilas seperti vitamin rambut. Aku melongok keluar, ternyata ada salon. O, mungkin dia sudah ke tempat itu.

Tante-tante itu menggeletakkan tongkatnya, lalu susah-payah menggeletakkan dan menggeser-geser pantatnya hendak masuk ke dalam angkot. Ia seperti tengah mencari-cari cara dan posisi yang nyaman, sebab begitu ia nekad mengangkat kakinya sembarangan… bibirnya mengaduh kesakitan. Daku refleks meraihnya, membantu mengamankan vitamin rambut dan tongkatnya.

“Duh, kok ibu sendirian sih? Minta dianter pendamping kek!” Pak Sopir khawatir, “Hati-hati jangan terlalu di pinggir, nanti takut jatuh, saya yang kena,” katanya lagi.

“Udah biasa, Pak,” kata tante-tante itu, “Maaf mesti sabar ya kalau saya naik, memang keadaannya begini.”

“Ya udah tau gitu, kok ya gak ada yang mendampingi, Bu,” sungut sang sopir, lalu merayap begitu sang tante telah duduk nyaman. Posisinya tepat berhadapan denganku.

“Ibu habis dari mana?” tanyaku, sebenarnya ada yang lebih penasaran untuk ditanyakan.

“Udah potong rambut, Neng.”

“O, turunnya di mana?”

“Deket, di depan, di LK.”

“O…”

“Saya biasa sendiri, Neng,” kata tante-tante itu lagi.

“Kenapa, Bu?”

“Kalau didampingi, justru saya grogi, Neng,” jelasnya sambil tersenyum simpul, “Boro-boro mau ngapa-ngapain, saya jatuh aja sebisa mungkin bangkit sendiri.”

“Mandiri banget, Bu?”

“Iya, belajar!” tegas sang tante.

Saya tak berkata apa-apa lagi, takut salah dan melukai perasaannya. Jadinya saya hanya tersenyum mengangguk-angguk.

“Segini sih saya udah dinyatakan sembuh lho, Neng,” ucap sang tante.

“Memang ibu sakit apa?” tanyaku akhirnya, penasaran beliau menderita suatu penyakit atau pernah mengalami kecelakaan. Bingo!

“Sakit penyempitan pembuluh darah, Neng,” jawabnya membuat keningku mengerut, “Dulu dokter udah manggil saya sebagai mayat hidup,” kenangnya.

“Wah masak sih, Bu? Emang dulu benar-benar gak bisa gerak?” Daku penasaran.

“Iya, cuma bisa telentang. Gak bisa ngapain-ngapain.”

“Mati rasa ya, Bu?”

“Iya, kalau dipaksakan gerak berlebih suka sakit. Makanya tadi pas mau naik mesti pelan-pelan. Nanti turun juga begitu,” tuturnya tanpa raut menyesal sebab telah mengutus penyakit tersebut.

Dasar sopirnya merayap, perjalanan menuju tempat sang tante semestinya telah sampai dari tadi. Namun untungnya, daku jadi bisa bercengkrama cukup lama. Sampai kemudian sang tante menyetop dan pamit untuk turun. Sang sopir menepikan angkot, sengaja merapat ke trotoar. Prosesnya tak terlampau lama, tak seperti ketika ia hendak naik.

“Tetep saja ya, Neng, mandiri… mandiri… kalau ada apa-apa ‘kan kasian,” gerutu sang sopir begitu kami berlalu dari kawasan tempat tinggal sang tante. Daku hanya mengiyakan saja, asal cepat.

Baik si tante atau mungkin Pak Sopir tak sadar, kalau sekelumit pertemuanku dengan mereka memang sangat inspiratif. Betapa si tante menerima keadaan tanpa keluhan, tak mau menyusahkan orang lain dan berusaha belajar menjalaninya. [#RD]

*Note: January 8, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *