Pertemuan Kita Tak Lagi Sama

Pertemuan Kita Tak Lagi Sama

pertemuan kita tak lagi sama

Liburan kemarin, adakah yang mengadakan acara bersama orang-orang masa lalu? Hehe. Buka bersama, misalnya? Atau halal bil halal? Reuni? Dst.

Di masa sekolah, pertemuan dengan para sahabat adalah sesuatu yang mudah. Tak perlu “prosedur” belibet. Tinggal hadir di sekolah, langsung ketemu. Pergi ke kantin, ketemu. Waktu upacara, ketemu. Di UKS, ketemu. Di ruang guru/TU, ketemu. Di toilet, ketemu lagi. Atau ketika di luar (pas ekskul dan main), peluang untuk ketemu begitu besar.

Tak sekadar ketemu, dalam arti berpapasan muka. Pertemuan itu bisa kita isi dengan berbagai macam agenda. Kita bisa saling ngobrol, sharing hal dari yang gak penting sampai yang levelnya serius, makan, nonton, olahraga, nongkrong, wah pokoknya banyak. Betapa tidak, durasi pertemuan kita begitu panjang. Karenanya, kita begitu berhutang budi pada waktu. Betapa waktu telah memberi kesempatan yang cukup panjang dan berkesan.

Nah saat itu, kita tak sadar betapa kemudahan pertemuan itu tak akan berlangsung selamanya…

Setelah kita keluar sekolah, atau kuliah, atau mencari kerja, atau bekerja, atau berkeluarga, sudah lain ceritanya. Pertemuan kita tak lagi mudah, tak lagi panjang dan (mungkin) tak lagi cukup menancapkan kesan.

Kita (oke, intinya aku dkk) mesti ikut ‘aturan main’ untuk menghelat suatu pertemuan. Kita mesti saling cari nomor kontak, sms-an dulu, telponan dulu, chatting-an dulu, komen-komenan dulu, ya pokoknya diskusi cukup alot dulu di medsos. Semua itu demi… jangan dulu jawab demi sharing, demi makan-makan, demi nonton, demi poto-poto, gila-gilaan dst, tapi demi ketemu. Ya, demi melaksanakan suatu pertemuan aja dulu – sesuatu yang masa dulu begitu enteng, namun sekarang berubah jadi begitu susah.

Tak hanya itu. Kita pun mesti mengatur segala sesuatunya terlebih dahulu. Kita musyawarahkan waktunya, tempatnya, durasi pertemuannya, dst. Semuanya serba terbatas, tak sebebas dan selepas dulu. Ada yang kepentok mudik, jatah cuti, waktu libur, acara lain, dst. Jika semua saling mengandalkan, bisa-bisa pertemuan itu hanya sebatas rencana – tak akan pernah jadi nyata. Karena itu, diperlukan sosok yang jadi ‘jembatan’, yang bisa mengerucutkan pendapat masing-masing.

Tapi kita dilarang men-judge bahwa sahabat yang gak mau ketemuan itu pengin mutusin silaturahim. Akui saja , kita (oke, maksudnya aku :D) pernah berada pada “posisi tidak bisa”. Entah karena ada pekerjaan, ada keperluan, ada janji lain, sakit, atau mungkin ada sesuatu lain yang begitu pribadi (misalnya minder, padahal hati terus meneriakan kerinduan).

Padahal sudah kita ketahui bersama kalau silaturahim itu memperpanjang masa hidup dan melancarkan rezeki. Tentu sangat mulia sekali, orang yang berinisiatif mengawali tersambungnya tali silaturahim kembali. Sebab, tak semua orang bisa menghargai dan merasa masih peduli dengan kenangan pleus dengan orang-orang di masa lalunya.

Well, perubahan itu ternyata merambah ke segala hal. Tak cuma ke kepribadian seseorang, melainkan pada suatu pertemuan. Benar-benar berbeda-beda, antara dulu dan sekarang.

Dan, rumit-tidaknya proses suatu pertemuan, terjadi-tidaknya suatu pertemuan atau berkualitas-tidaknya pertemuan itu, tergantung kita. Ya, kita saja. Tak perlu bergantung atau menyalahkan siapa-siapa. Hehe. ^_^ [#RD]

*09 Agustus 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *