Please, Berbohonglah Karena Alasan Ini!

Please, Berbohonglah Karena Alasan Ini!

bohong putih

Jujur, siapa yang suka bohooong? Terus, siapa yang gak suka dibohongiiin? (Biar daku tebak, apa rata-rata – atau mungkin semuanya? – menjawab ‘suka berbohong tapi gak suka bingit kalo dibohongin?) -_-‘

Bohong. Kita mengenal istilah ini sebagai sesuatu yang ‘gak banget’, menyimpang dan mesti dihindari. Kebohongan ini bisa kita simpulkan menjadi dua; kebohongan pada diri sendiri dan kebohongan pada orang lain. Kebohongan pada Allah Swt? Weihhh, tak bisa – takkan pernah bisa. Toktoktok!

Efeknya juga ada dua; ada yang buruk (jelas!) dan ada juga yang baik, bahkan dianjurkan – disarankan – recommended deh. Kalo soal efek kebohongan yang buruk, tentu Bro-Sist sudah hapal betul. Yep! kita akan hilang kepercayaan, dapet dosa, dikucilkan, merasa bersalah atau di-bully di dunia nyata dan sosmed (tengok deh para pejabat yang membohongi rakyat, para artis yang ngelempar berita palsu, penipu-penipu, dsb)

Bahkan, kebohongan buruk ini juga sudah lama diwanti-wanti agar tidak dilakukan. Sebab, kebohongan jenis ini bisa merugikan (diri sendiri, orang lain atau hal-hal besar seperti bangsa dan agama). Dalam Al qur’an yang suci, dalam hadist, fatwa-fatwa ulama, dst, tertuang jelas larangan berbohong yang buruk. Ada sindiran, sebutan buruk dan ancaman cukup serius loh buat para pelakunya. Beberapa diantaranya:

“Sesungguhnya Allah Swt tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (Q.S. 40:28)

“Pertanda orang munafik itu ada tiga; bila bicara berbohong, bila janji berbohong, dan bila dipercaya malah berkhianat.” (HR Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan pada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada syurga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah Swt akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan pada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan pada arah neraka. Seseorang yang terus-menerus berbuat bohong akan dituliskan oleh Allah Swt sebagai pembohong.” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu, Berbohong yang Dianjurkan itu Seperti Apa?

Tenang, berbohong yang dianjurkan tentu sudah dapat izin ajaran Islam. Pernyataan ini berdasarkan hadist Nabi Muhammad Saw:

Berkata Ummu Kultsum RA, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah Saw memberikan keringanan pada yang diucapkan oleh manusia (dusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni; perang, mendamaikan perselisihan/perseteruan diantara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya atau sebaliknya.”

Jom kita bahas satu-satu:

bohong dalam Islam, bohong yang dibolehkan

Berbohong dalam Perang/ Ketika ada Bahaya

“Ketika Rasulullah Saw membonceng Abu Bakar RA di atas kendaraan beliau, maka jika ada seseorang yang bertanya pada Abu Bakar RA tentang Rasulullah Saw di tengah perjalanan, beliau (Abu Bakar RA) bilang, ‘Dia adalah penunjuk jalanku’. Sehingga, orang yang bertanya tersebut mengira bahwa ‘jalan’ yang dimaksud bermakna sebenarnya, padahal yang dimaksud Abu Bakar RA adalah ‘jalan kebaikan’ (sabilul khoir). Hal itu semata-mata demi kemaslahatan Rasulullah Saw dari ancaman para musuh.” (HR Bukhari)

Contoh lain di kehidupan sehari-hari. Misal (amit-amit) terjadi tawuran antar pelajar. Tiba-tiba ada Si A, siswa yang ‘terlempar’ dari kawanannya, ke rumah kita. Dia memohon ‘perlindungan’ sebab tengah dikejar-kejar oleh pelajar lawan yang ngacung-ngacungin pulpen-LKS-tongkat pramuka-dst (-_-). Mereka bertanya pada kita ‘Hai, Kaka. Liat Si A gak, Kaka?’. Saat itu, apa kita ‘tega’ berkata jujur dan bilang, ‘Iyanoh Si A lagi jongkok di belakang buffet.’ Well, di saat seperti itu kita punya ‘keringanan’ untuk berbohong, demi selamatnya nyawa/jiwa seseorang dari marabahaya yang tengah mengincarnya.

Berbohong dalam Rangka Mendamaikan Saudaranya

Dalam hadist Ummu Kultsum RA ia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda ‘Tidaklah dikatakan pendusta orang yang mendamaikan manusia (yang berseteru), melainkan apa yang dikatakan adalah kebaikan.” (Muttafaq Alaih)

Pernah gak sih, kita jadi jembatan bagi dua orang yang lagi berantem? Si C dan Si D. Tiap datang ke kita, Si C selaluuu saja membicarakan kejelekan-kejelekan Si D. Sebaliknya, Si D pun tiap ngumpul selaluuu mengulang-ulang keburukan-keburukan Si C (ampe hapal diluar kepala deh pokonya! -_-). Nah, saat Si C bertanya ‘Eh, Si D suka ngomongin aku gag siyh? Pasti ngomongin yang jelek-jelek, eaaa? Ayo jawab dengan tepat dan benar!’.

Saat itu kita ‘diuji’ untuk tidak berkata jujur. Demi menjaga keutuhan hubungan dan mendamaikan saudara sendiri, plis, berbohong saja. Kita bisa katakan hal yang kontras, atau paling tidak, kita bilang saja ‘Nggak, Si D gak suka ngomongin kamu, kok.’ Dengan begitu, mudah-mudahan perseteruan C dan D bisa berakhir dengan bahagia. 🙂

Berbohong Dalam Rangka Menyenangkan Istri atau Suami

Mesti jujur nih. Karena Minde alias Admin ~d~ belum punya pasangan yang syah (suami), maka contohnya akan mengambil dari cerita yang lain. Adalah kakak admin sendiri, yang pernah mengeluhkan masakan istrinya. Dia bilang, rasa masakannya itu berbeda dengan yang di rumah. Padahal sama-sama sayur asem, tapi kok ya lain aja gitu. Namun demikian, beliau tetap makan dan bilang ‘enak’ pada ‘karya istrinya’, padahal dalam hati sedikit mengeluh. Hal itu ‘terpaksa’ dilakukan demi menyenangkan pasangannya. Sebab, kalau kakak belum makan, istri suka terlihat muram.

Heuheu. Petikan cerita di atas tentu memiliki ‘cabang-cabang’ lain. Ada suami yang ‘berbohong’ mengatakan bahwa istrinya adalah seorang perempuan paling sempurna (padahal dalam hati, masih ngefans sama Marshanda). Ada istri yang ‘berbohong’ bilang kalau hadiah panci emas dari suaminya itu bagus (padahal aslinya gak terlalu suka). Atau, ada pula istri yang ‘berbohong’ mengaku bahwa nafkah suami sejuta persetengah hari itu cukup, (padahal pada kenyataannya belum cukup. Eh, istri macam apa tuh? -_-), dst. 😀

Semua ‘kebohongan’ itu memang sedikit pahit di salah-satu pihak, namun amat menentramkan di pihak pasangan. Bukankah sejatinya, jika hati lagi putih, kita selalu rela berkorban demi mengukir senyum orang-orang terkasih?

Hummm… Islam itu bijak banget, ya. ^_^

Well, pada akhirnya kita memiliki pilihan tersendiri; apakah harus jujur atau bohong. Namun untuk tiga hal di atas, insya Allah pilihan berbohong kita akan berakhir dengan perasaan nyaman. [#RD]

2 Comments
  1. Fikri Maulana
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *