RAM pleus Tiga Makhluk Asing

RAM pleus Tiga Makhluk Asing

anak-anak

Jumat, 23 Mei 2014

Oke, aku datang telat hari ini. Dan lagi-lagi, aku berniat akan menebusnya dengan menambah durasi mengajar. Terlebih begitu aku tiba, anak-anak RAM sudah menunggu di luar. Nampak juga seorang, yang wajah dan namanya aku lupa-lupa ingat. Yang pasti dia adalah siswi Pak Ikbal, yang sepertinya akan ‘numpang belajar’ sekarang.

Karena sudah cukup telat, aku segera menggiring mereka untuk masuk. Terlebih lagi, segala peralatan lesnya sudah disiapkan pihak admin yang baik. Layaknya anak RAM, begitu masuk, suasananya langsung gak karuan. Sudah biasa sih, malah aneh kalau masuk kelas RAM, suasananya senyap. Namun ada yang bikin aku sedikit kecewa; murid-murid cowoknya tak ada yang datang. :/

“Eh ada Teh Heni!” Aku melongok ke kelas Bahasa Inggris dan mendapati beliau tengah ngotak-ngatik ponsel, “Teh, aku ada rencana untuk memajukan ujian.”

“Iya boleh aja, apalagi ‘kan udah menginjak empat bulan?”

“Sayang, Dian gak catet kapan kita mulai belajar, tapi kalau di absen sih sudah memenuhi empat bulan,” kataku lagi, lalu aku melambaikan tangan pada murid Bu Heni, yang nampak celingukan di muka LKP.

Aku kembali ke pelukan kelas RAM. Awalnya aku memberi kesempatan pada Ikhwan, Sahbudin dan Ade Salman. Namun setelah beberapa lama tak ada juga, kumulai saja pelajarannya.

“Kemarin Senin belajar apa sama Pak Ikbal?” pancingku.

“Dudaaa araban!” pekik Rilanti. Maksudnya dia hendak menjawab ‘duka’. ‘Duka’ dalam Basa Sunda artinya ‘entahlah’.

“Senin gak masuk, Teh,” kata Cindy.

“Kenapa?”

“Pelulusan!” jawab Rilanti yang kuyakin salah, “Iya, ‘kan?” Dia mengedarkan pandangan, meminta dukungan. Namun rekan-rekannya kompak no comment.

“Pelulusan itu Selasa, bukan Senin!”

“Wooo Rilantiii!” seru yang lain.

“Rapatnya yang Senin, Bu,” Yesi, murid Pak Ikbal yang ikut Jumat, menjawab.

“Tuh ‘kan, berarti Anti bener!” Rilanti bersikukuh, “Eh salah sih, tapi bener,…” Dia bicara gaje.

“Intinya kita meliburkan diri sendiri aja, Teh. Hahaha,” kata Ika, benar-benar bikin aku gregetan. :O

“Iya, Senin mah emang gak suka masuk!” imbuh Cindy.

“Teeeh,” kata Randini, “Si Ivan gitu juga pengin ikut belajarnya hari Jumat aja. Rame, katanya.”

Aku tengah menulis di white board dan tak mempermasalahkan permintaan Ivan itu. Silakan saja, asal tetap juga menghadiri kelas Pak Ikbal. Jangan sampai dikira aku menyabotase kegiatan les. Heuheu.

“Haduh!” pekik Rilanti, “Pengin salam dulu, Teh!” katanya, lalu kami yang sudah menatap, malah lemas. Sudah tradisi, aku geleng-gelengkan kepala saja. Dasar bocah!

“Teh, ujian kita kapan sih?” tanya Randini.

“Kenapa? Pengin cepat, ya?”

“Enggak sih.”

-___-

Dengan usaha yang cukup lumayan, aku bisa mengendalikan kelas. Kubimbing mereka untuk membuat tabel dan chart-nya. Kebetulan aku akan membuat tiga jenis chart hari ini. Namun begitu aku akan menjelaskan menu layout dan fungsinya, terdengar suara berisik dari luar. Aha! Ada Ikhwan, Sahbudin, Ivan dan Yudhi. Lha, kenapa mereka ikut kelasku lagi? Maksudnya, apa mereka gak ikut kelas Pak Ikbal, ya? Duh.

“Kita sorakin, yuk!” Rilanti memprovokasi.

Benar saja, begitu jagoan-jagoanku masuk, para murid perempuan langsung menyorakinya dengan lantang. Beuh! Berisiknya kebangetan! :O

“Kenapa ini, kok telat?” Aku meminta alasan.

“Biasa nih, Teh,” Ikhwan yang menjawab, “Nungguin dulu mereka (melirik Ivan dan Yudhi yang mesem-mesem).”

“Ivan, Yudhi,” Aku menghampiri mereka, “Kenapa? Selasanya gak les lagi, ya?”

“Ada tugas, Bu,” jawab mereka, namun tak bertatapan denganku. Hummm.

Para cowok menulis tabelnya dulu. Sambil menulis, aku mengelilingi yang cowok. Kupastikan mereka berada di track yang benar. Takut-takut nanti membawa keputusan sendiri, misalnya menggambar chart yang belum kuperintahkan.

“Ihk, rugi! Tadi pas bagian kita gak disamperin gitu, terus dijelasin lagi!” gerutu Randini ketika aku ada di antara meja Sahbudin – Ikhwan, menerangkan dasarnya.

Para cewek yang notabene sudah selesai, awalnya sibuk mereka-reka pekerjaan mereka. Setelah ‘nganggur’, mereka bikin rusuh. Ada yang menumpahkan minuman, ngomong ngalor-ngidul, nyetel musik dari dangdut sampai sholawatan, dst. Yang cowok gak kalah, mereka juga menyetel musik. Alhasil, kelas seperti area konser yang buruk. Jadi gak enak sama Teh Heni, pasti beliau terganggu.

“Dasar kelas ini!” umpat Ikhwan, lalu segera dilempari sorakan dari rekan-rekan perempuannya, “Harap dimaklum, ya!”

“Teteh sih udah biasa,” Aku yang menyahut, “Tapi ketiga makhluk asing ini (nunjuk Yessy, Ivan dan Yudhi), pasti kaget!”

Grrrr!

“Wis? Durung?” tanyaku pada Ikhwab, Sahbudin, Ivan dan Yudhi.

Jika Sahbudin – Ikhwan hanya melongo, Ivan dan Yudhi menyahut ‘wis mangan, durung?’ #apasih -_-

Aku kembali mengendalikan kelas. Seketika itu suara-suara gak jelas perlahan reda. Sengaja aku tidak memerintah ‘stop musiknya!’, ingin tahu saja ‘sudah se-dewasa dan se-bijak apa mereka’. Heuheu. Bahkan ketika ada satu-dua yang melamun atau bikin onar, yang lainnya sigap ‘menyadarkan’. Dan, inilah yang kusuka. Mereka bisa menempatkan, kapan bercanda dan kapan menyimak pelajaran. Walau tak terelakkan, candaan mereka kadang kebablasan. Heu

Chart demi chart kami ambil, lengkapi sesuai tabel dan hias sesuai selera. Ketika proses itulah, lagi-lagi, mereka saling melempar canda. Mereka juga seperti terlibat dalam ‘rivalitas dingin’ antara murid laki-laki dan perempuan. Tak ayal, ketika aku (selalu) memuji pekerjaan Sahbudin – Ikhwan, yang perempuan langsung mencemooh tak terima. Betapa tidak, dari segi seni dekorasi, mereka memang terlihat kurang gimana gitu.

“Tuh lihat pekerjaan senior kalian, Teh Yessy, baguuus banget!” Aku puji Yessi, memang karena tabel dan grafiknya lucu.

“Uuuu sekarang mujinya pindah ke Teh Yessiii!” komentar Rilanti Cs.

“Wah Rilanti pinter banget bisa bikin chart line sebagus itu!” Aku mencoba melontarkan pujian.

“Ihk, memujinya enggak banget!” kata Rilanti.

“Wuih, kerjaan Randini keren banget!”

“Apa, Teteh? Belum selesai juga!”

“Aku gak pernah gitu, dipuji,” keluh Ika.

Proses KBM hari Jumat, seperti biasanya, berlangsung ramai, rusuh namun juga fun, powerful dan tentu cheerful. Mereka sepertinya tak terusik sama-sekali dengan keberadaan ‘tiga makhluk asing’ yang hanya ikut ketawa. Mereka juga seolah mengesampingkan anak-anak Bahasa Inggris yang pasti sudah sebal. Heuheu.

Selamat menikmati keceriaan khas masa muda, Dik. Namun mudah-mudahan kalian bisa bijak dalam bersikap. Smile! ^_^ [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *