Sahabat – Persahabatan, Apaan tuh?

Sahabat – Persahabatan, Apaan tuh?

sahabat_persahabatan

Apakah ia suatu hubungan yang mengikat dua orang atau lebih ketika suka, lalu putus ketika duka?

Jika memang seperti itu keadaan persahabatan kita, maka hal tersebut patut diwaspadai. Kualitas persahabatan semacam itu layaknya menempati rumah yang terbuat dari tanah dan dibangun di atas samudera. Dengan kata lain, s e m u. Kita tak berada pada rumah yang sesungguhnya, yang melindungi dan membuat nyaman. 

Ada baiknya sebelum merajut persahabatan, kita saling memahami dulu watak atau kepribadiannya serta motif atau tujuan persahabatannya. Jika saling mengokohkan saat tercapainya sebuah tujuan, lalu ambruk saat hasratnya tercapai, maka pertimbangkan kesemuan persahabatan itu.

Rahul, dalam film Bollywood Kuch-Kuch Hota Hai, mengatakan kalau “Cinta adalah persahabatan”. Jika dibalik, “Persahabatan adalah cinta” mungkin bisa jadi. Artinya, hubungan persahabatan pun dilandasi cinta. Mau susah atau senang, tetap mengaku dan berperan layaknya sahabat.
gambar hati, gambar cinta, cinta lucu, love lucu
Aku sendiri pernah ‘ditodong’ mengenai arti sahabat oleh sebuah nama akun fesbuk asing (pada 26 januari 2012). Mulanya kami hanya chatting biasa, lalu tiba-tiba datanglah pertanyaan itu.

XX: Menurut kamu apa arti sahabat?

Jujur saja, aku tidak ingin menjawabnya (saking bingung mesti menulis apa). Tapi kemudian, secara refleks, aku menulis:

Sahabat adalah salah satu utusan hatiku.

XX: Utusan hati? Susah banget nyernanya

D: Kayak usus aja dicerna (Aku membelokkan obrolan)

XX: Lebih spesifik dong (dia mengukuhkan jalur)

D: (menghela napas sebelum mengetik) Yaa hati itu kan cermin siapa kita sebenarnya. Sesuatu yang paling jujur dan dekat.. Gitu kira2.

XX: Jika sang utusan hati tidak sejalan dan searah dengan kita, apa yang harus kita lakukan?

D: (Bingung) Mm… Iya, ya… kan kadang hati sendiri pernah bertolak belakang dengan ambisi. Apalagi sahabat? Gimana kalo komunikasi lebih intens? Berbagi pertimbangan… sebab pasti dia punya alasan, sama seperti kita dalam melakukan sesuatu…

(Selanjutnya XX curhat-rahasia)

Well, seperti kata cinta, bahagia, sukses dsb yang memiliki banyak definisi, sahabatpun sama. Setiap orang boleh jadi menginterpretasikan sesuatu dengan berbeda.

Sebuah Pengalaman
Penulis buku “Bahaya Teman”, Muhammad Assuderi (MA), menuliskan pengalaman pahitnya dalam persahabatan. Berikut ceritanya:

MA memiliki seorang sahabat. Motivasi persahabatan mereka murni; Persahabatan untuk persahabatan itu sendiri. Awalnya MA melihat sahabatnya itu bersifat ikhlas, tulus dan jauh dari tujuan-tujuan duniawi. Bahkan dia memiliki nama baik di lingkungan masyarakat.

Tak terbayangkan sedikitpun, lama-lama persahabatan MA runtuh juga. Karakter manusia yang cenderung tersembunyi atau disembunyikan dibalik berbagai topeng penampilan, sungguh tak mudah diselami. Tak mudah disimpulkan dalam waktu singkat. Bahkan dalam kurun waktu 10 tahun sekalipun!

Di penghujung tahun ke-10 persahabatan mereka, MA sakit parah. Dengan sangat terpaksa, MA meminta bantuan sahabatnya itu untuk memenuhi berbagai keperluannya selama sakit. Pada minggu-minggu pertama, dia menampakkan penganbdiannya dengan ikhlas.

Namun, kondisi MA makin memburuk, sehingga MA mesti mendekam selama setengah tahun di tempat tidur. MA ingat bahwa sahabatnya itu memiliki hutang yang cukup banyak padanya, tapi tak pernah ia tagih. Dan karena waktu itu uang tengah sangat diperlukan, MA pun menanyakannya dengan cukup bijak. MA pikir, hal itu wajar ia lakukan, sebab ia memang berhak.

Namun, tanggapan sahabat MA tak seperti biasanya. Ia mengirimkan uang tersebut via wesel pos. Bagaimana mungkin MA bisa mengambil kiriman uang, sementara dirinya sendiri tengah terbaring didera penyakit? Tanpa pikir panjang, MA mengembalikan kiriman weselnya dengan penuh keheranan.

Lewat seorang teman, kiriman itu dikembalikan. Lalu, dengan nada ketus sahabatnya berkata,

“Apa lagi yang dia ingin? Apakah dia mau agar aku memberinya uang, lalu aku pula yang membelanjakan uang itu untuknya?”

Masya Allah…

Itu kan uang MA yang wajib dibayar olehnya? Lagipula, sahabatnya itu tak tergolong ekonomi lemah. Bahkan, MA mendengar dari teman yang lain kalau sahabatnya itu bepergian ke luar negeri. Teman itu bertanya,

“Bagaimana keadaan MA?”

“Entahlah, saya belum pernah menengoknya lagi.”

“Kenapa kamu jadi gak begitu peduli?”

“Aku khawatir dia meminta uangnya yang masih ada padaku.”

Tak disangka, sahabat selama 10 tahun menuturkan kalimat semacam itu. Tali kekerabatan dan kepercayaan pun pupus sudah. Semuanya berakhir sedemikian pendek. (*)

Cerita diatas mengingatkan kita akan sebuah kata-kata hikmah:

“Takut dan waspadalah akan kejahatan orang-orang yang telah mendapatkankebaikanmu.”

Bisa jadi, itu artinya kita mesti hati-hati bergaul dengan seseorang dengan tipe ‘membalas air susu dengan air tuba’. Jika kebaikan kita selalu mengalir padanya, namun ia sendiri mengalirkan kejelekan, maka sebaiknya hindari saja.

Seperti cerita MA di atas, atau cerita-cerita sekitar kita. Persahabatan yang telah teranyam dengan waktu panjang, tak mustahil untuk karam. Bahkan malah berbalik, menjadi permusuhan. Persis seperti kata pepatah,

“Jika dua pencuri berselisih, maka tersingkaplah apa yang mereka curi…”

Namanya juga persahabatan, hubungan yang mencerminkan intimasi seseorang, tentu sedikit banyaknya kita saling tahu, siapa sahabat kita dan siapa kita di mata mereka. Orang bilang, kalau ingin tahu siapa dan bagaimana Si A, cari tahu dulu siapa dan bagaimana sahabatnya.

Tak jarang, banyak orang yang begitu blak-blakkan dengan sahabatnya, bukan? Bahkan untuk hal-hal yang privat sekalipun. Tentu tak masalah, selama sang sahabat memang terpercaya dan langgeng hubungannya. Namun, jika sahabat tersebut khianat atau persahabatannya retak? Ingat-ingat syair ini:

“Barangkali seorang teman berubah menjadi musuh. Maka ia lebih tahu tentang apa yang bisa mencelakakanmu.”

Siapa sih Sahabat itu?

Jika seorang sahabat ‘hilang’ setelah keadaan kita di bawah, bisa disimpulkan sementara kalau mereka bukanlah sahabat yang sebenarnya. Ya… Pada zaman sekarang memang agak sulit menemukan sahabat sejati. Namun bukan berarti mereka tak ada. Mereka ada. Mereka… adalah… orang-orang yang ada saat kita berduka.

Saat kita tertimpa musibah, dalam kondisi rendah, terpuruk, terbelakang, terhina, dst, ingat-ingat… Berapa gelintir orang yang ikhlas mengulurkan tangan? Siapa saja mereka? Nah… Nama dan wajah-wajah itulah sahabat kita.

Yang sangat penting bagi kita adalah menjadikan agama sebagai barometer dan ridho Allah sebagai timbangan. Alangkah baiknya kalau kita mempertahankan hubungan persahabatan dengan orang-orang yang membawa manfaat bagi agama, mengingatkan pada kebaikan, tidak mengganggu tugas maupun kewajiban dan tidak pula menjungkalkan kita pada jurang kehinaan.

Bagaimanapun, sahabat kita adalah manusia biasa. Segumpal daging yang dihembusi ruh, berikut nafsunya. Maka pasti tak luput dari khilaf dan dosa. Jika kita bisa berusaha menjadi sahabat yang ideal dan menjadikan ridho Allah sebagai tujuan, insya Allah orang-orang di sekitar kita tak akan jauh demikian adanya. (#RD)

  • Inspirasi tulisan: buku “Bahaya Teman”, karya Muhammad As-suderi.
  • Catatan 05 Agustus 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *