Sakit Sih, Yang Penting Kita Hepi

Sakit Sih, Yang Penting Kita Hepi

cape tapi hepi

Sepulangnya mengajar dari LKP, daku buru-buru melihat sisa perlombaan Agustusan. Kebetulan lokasi lomba di daerah tinggalku ada empat. Waktunya pun terbagi jadi empat.

Dari pagi di titik A (arah barat), tempat perlombaan khas anak-anak (balap kelereng, joget balon, balap karung, dst). Agak siang sampai jam tigaan di lokasi B (arah tengah, di depan rumahku) ada perlombaan pukul air dan rebutan uang koin dalam pepaya yang udah dilumuri arang basah.

Jam empat di arah selatan alias lapangan desa (lomba tarik tambang khusus perempuan, gadis atau ibu-ibu) dan jam lima sampai jelang maghrib di arah utara diadakan tinju air khusus pemuda dan bapak-bapak, sekaligus pemberian hadiah untuk para pemenang. Meski pembagian waktu dan tempatnya beda-beda, tapi aku dan warga ‘rela’ pindah sana-sini. Jadi bener kata blok-blok sebelah,blok kami memang paling kompak! :p

Sayang, begitu aku tiba, perlombaan tinggal sebentar dan beberapa menit kemudian selesai. Aku pun ke dalam rumah, minum, ngunyah sedikit cemilan dan menyalakan televisi. Lalu, datang keponakanku. Dia merengek supaya diijinkan ke lapangan,

“Pengin liat tarik tambang!” pintanya.

Aku pun nurut. Yah, itung-itung hiburan. Lagipula, aku ketinggalan banyak untuk Agustusan tahun ini. Kami pun melangkah. Tak sampai seratus meter sudah sampai. Terlihat, warga blok kami sudah memadati area lapangan sebelah utara. Wuih, tadinya lunglai jadi senang. Sementara di lapangan sebelah selatan, ibu-ibu blok lain tengah tanding futsal.

“Jadi pengin ikutan,” kataku pada Ina, “Yuk, Na?!”

“Ina mah gede-gede juga letoy, Teh!” katanya, “Lagipula telat daftar ihk!” -_-‘

“Ya, tadinya pengin seru-seruan aja, gitu?!”

“Yuk ikut yuk!” Ela setuju, “Tapi kalo cuma Ela dan Teteh aja, kurang dong Teh! Harus bertiga!”

“Yah…”

Sambil berdiri bersama mereka, kami melihat ke arah gerombolan panitia beserta peserta tarik tambang dan tambangnya (yang kemungkinan jika ditarik, akan bikin tangan begitu sakit). Pertandingan pertama dimulai dan Ceu Lelah Cs menang dengan mudah.

“Liat lebih dekat yuk, Na!” ajakku dan anak itu nurut saja.

“Grup ketiga dan keempat siap main!” teriak seorang panitia. Namun kemudian, para peserta yang dipanggil tak kunjung datang. Semuanya pun bingung.

“Dian, ayolah kamu aja!” ajak A Memen.

Ihirrr! Boleh juga. Tanpa ragu, aku maju. Tadinya mau gabung ke grup tiga, tapi kemudian ada yang datang. Aku pun ke grup empat bersama Dede Aan dan kutarik Nurul yang sama-sama tengah nonton. Awalnya ia mengelak, namun kemudian paksaanku berbuah manis. 😀 Jadilah Dede Aan yang posturnya cukup besar di depan, aku di tengah dan Nurul yang sama kecilnya denganku di belakang. Strategi itu mengalir begitu saja.

Pertandingan pertama kami, hum… ya sih, tanganku sakit tapi kami mengalahkan lawan dengan waktu pendek. Bahkan Iboy (panitia yang tentu saja temanku juga berkata), “Dian, kamu cuma ikut ngelus tali aja, ya? Si Dede Aan yang kerja keras, sampe cepet gini kalahnya!” 😀

Hehe. Anak itu memang ‘total’ dalam tarik tambang. Posturnya yang besar dan tenaganya yang kuat memuluskan langkah kami. Yeay! Kami melaju ke babak selanjutnya. Dan beginilah testimoni salah-seorang dari grup yang kami kalahkan,

“Tarikan kalian kenceng. Daripada tanganku kenapa-kenapa, lebih aku lepaskan aja talinya.”

Jyaahh… pantesan gak berasa?! 😀

Pertandingan kedua. Formasi kami masih sama. Dede Aan di depan, aku di tengah dan Nurul di belakang. Kali ini tarikan kami dibalas dengan cukup sengit. Waktu untuk menaklukan mereka pun serasa panjang, sampai talinya terseret-seret ke samping. Bahkan Dede Aan terjatuh segala. Aku sempat down, namun ternyata anak itu tetap menarik talinya – benar-benar pantang menyerah! Dan kerasa, para penonton bersorak dan tertawa di atas tergeseknya tangan kami. Huhu

“Yaaa!!!” Wasit menyeru dan mengangkat tangan. Bahasa tubuh itu sontak saja membuatku lega. Kami menang lagi. Yuhuuu!

Ada testimoni lagi dari lawan kami, katanya,

“Kami, gendut-gendut juga tenaga orang tua. Kalian itu kecil-kecil juga tenaga anak muda. Wajar menang!”

Tarik Tambang Khusus Perempuan di Titik Selatan_Lapangan Desa_Waktu Pukul Empat

AA (kerudung hitam) menarik tali sekuat tenaga, sementara daku di belakangnya dan enggak kepoto. Huft!

Dede (hijab hitam) di depan, di tengahnya aku (tapi gak kepoto 🙁 ) sama Nurul tengah berjuang demi melaju ke final.

Tiba di final. Langsung menit itu juga. Kalau dipikir-pikir, kami paling menderita kerugian. Betapa tidak, durasi istirahat kami amat sangat pendek. Tangan masih merah-merah, panitia sudah main panggil aja.

Lawannya pun tentu tak seperti yang udah-udah. Postur mereka rata, kecil-kecil tapi tarikannya super. Hal itu terlihat dari kemudahan mereka menjungkalkan lawan. Wah… aku harus agak serius nih lomba tarik tambangnya. >:O

“Dede di depan lagi, ya?!” instruksiku ketika kami bertiga berembuk, dan anak seumuran ±16 tahun itu pun mengangguk.

Aku sengaja mengatur strategi itu. Kenapa? Sebab, ternyata dalam tarik tambang, pemain pertama haruslah ‘pemain kunci’ dari grup atau ‘jago’-nya atau sosok yang kemungkinan besar bikin lawan ciut. Dia bisa orang yang posturnya besar, yang wajahnya meyakinkan untuk menang, bermental kuat dan ‘tak mau mengalah’. 😀

“Jangan jatuh kayak tadi!” kata Nurul. Dia anak SMA kelas XI.

“Sengaja, Teh, hehehe,” jawab Si Dede.

“Eh kayak tadi aja lagi?! Kalau kita udah tertekan, seret ke samping!” usulku dan semuanya setuju.

“Teh Dian, kita tukeran posisi, yuk?!” ajak Nurul, “Aku jadi di tengah dan Teteh di belakang, tapi hati-hati harus bisa mempertahankan posisi!” lanjutnya, mengarahkan.

Sebenarnya berat, tapi aku setuju saja. Dan dalam final itulah aku untuk pertama kalinya membelitkan tali pada pergelangan tangan sambil berharap, mudah-mudahan sedikit memberi efek pada pertahanan kami. Dan… lomba pun dimulai!

Kami saling tarik-menarik. Penonton di semua sisi bersorak. Bahkan, blok lain yang tengah mengadakan pertandingan futsal pun terlihat ikut mengerumuni kami. Termasuk seksi dokumentasi mereka, yang justeru sibuk mengambil gambar kami. -_-‘

Yang bikin aku lesu lebih cepat tidak hanya tarikan lawan dan usaha kami untuk menang, melainkan juga… menahan tawa! Ya, lucu saja kami begitu ‘khusyuk’ berlomba dengan penonton yang terpingkal-pingkal. Mereka mungkin merasa riang melihat alotnya pertandingan kami, melihat ekspresi kami dan tentu Dede Aan – yang lagi-lagi – terjatuh, namun sambil terus menarik talinya. Sampai dia tak peduli sorakan orang-orang dan bidikan berbagai mata kamera.

Karena sudah fase final, pastinya lawan kami amat sangat berat. Semuanya ingin menang. Dan tentu pertimbangannya bukan cuma hadiah, melainkan juga harga diri! 😀 Ya, kami terus berusaha. Aku sendiri, selain berusaha menarik tali, juga berusaha menjaga keseimbangan tubuh agar kakiku kuat berpijak dan tak ‘tergoda’ tarikan lawan.

Kerasa betul ketika Dede Aan (mungkin) mengendorkan tarikannya, tubuhku dan Nurul maju ke depan. Lawan hampir saja ‘menggiring’ kami pada kekalahan dan sebenarnya waktu itu, aku agak pendek harapan. Namun kemudian Dede Aan bangkit dan tenaga kami utuh lagi. Dia mengerahkan segenap kekuatan.

DSC06211

Percayalah, daku di tengah-tengah begitu susah-payah. Phew!

“Tarik, Teh! Tarik!” instruksi Nurul dari depan.

“Dian kamu kenapa, ayo tarik! terus! terus!” Apip menyemangati. Lha, emang daku lagi ngapain?

Tiba-tiba, tali yang sedari tadi aku pertahankan dan kuusahakan tarik agak melonggar. Kulirik depan, sepertinya lawan mulai kelelahan dan mungkin salah seorang dari mereka melepaskan talinya. Kami pun dengan sedikit lebih mudah menarik talinya dan kemudian terdengar sorak-sorai penonton (ternyata yang menyeru paling kenceng itu Beni, adikku sendiri),

“Horeee menang!!!”

Phew!

Kulepaskan jeratan tali dan segera berbaur dengan Dede Aan dan Nurul, kemudian menyalami mereka, sebagai ucapan tak terucap ‘Selamat, kita menang!’. Sambil ngos-ngosan, kami saling berbagi kebahagiaan dengan tawa dan keriangan. Terlebih, warga yang lain menghampiri dan memberi selamat. Tapi begitu aku tengah jongkok, seorang paniti menghampiri,

“Kubu lawan protes, minta tanding ulang! Katanya ada indikasi kecurangan, gimana?”

“Nggak!” Kutolak dengan serta-merta, sambil menatap nanar pada telapak tangan yang merahnya merah matang, lalu menikmati rasa perih di tangan, merasakan cucuran peluh, mengelus pinggang yang pegal dan tentu melihat Dede Aan dan Nurul bergantian. Wajah mereka pun sama sepertiku; wajah kelelahan. Lagipula, kecurangan apa sih?

“Kalau mereka bisa protes, kita juga bisa protes dong! Kami gak mau tanding ulang!” tegas Nurul, sungguh jawaban yang mantap.

Sang panitia balik badan. Kulihat dari agak jauh, kubu lawan masih berkata-kata. Blah… blah… blah… namun kemudian salah seorang panitia menggulungkan talinya. Dari pemandangan itu, kami jadi bisa bernapas lega. Yeaaa… kami tetap menang dan yang terpenting, tak ada tanding ulang. 😀

“Sebetulnya grup kami yang udah menang, talinya pun sudah kami tarik, tapi panitia kok kayak gak liat,” begitu alasan kubu lawan, “Terus kubu mereka (aku dkk) udah jatuh lagi?!”

“Kelingking saya sakit, ya saya lepaskan aja. Mau saya urut nih ke Mang Emon,” ujar salah seorang lagi dari mereka. Rupanya talinya membelit kelingking, uh pantas saja sampai harus dipijat segala. Mudah-mudahan cepat sembuh, ya.

Wallahu’alam siapa yang pantas menang. Toh, ini cuma buat hiburan. Yang penting, sampai daku nulis postingan ini, sudah tak ada dendam diantara kami. Hehehe.

Yang penting juga, kami semua sudah sukses besar mengembangkan senyum dan tawa semua warga. Walau sudah berkorban Gembira rasanya… ^_^ [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *