Satu Cinta Sejati

Satu Cinta Sejati

Oleh : Bpk. Arif Subiyanto

satu cinta sejati

Manusia bisa jatuh cinta berkali-kali, tapi dia hanya punya satu cinta sejati, atau tidak samasekali. Cinta sejati, cinta mati, soulmate atau kepingan jiwa itu mungkin teman hidupnya, pacar lamanya, mungkin juga orang yang tak pernah bisa dimilikinya. Renungkan fakta ini dan tak perlu rikuh mengakui meski hanya di dalam hati: bahwa suami atau istri yang bertahun-bermusim mengisi hidupmu itu tak meski menempati tahta tertinggi di istana hatimu.

Di tengah senyapnya malam saat pasanganmu dibuai mimpi, kerap kau tercenung sendiri mengenang sosok yang tak bisa kau usir dari sudut hatimu. Bisa jadi dialah cinta sejatimu. Dia yang tak pernah bisa kau miliki karena kebodohanmu, kemiskinanmu, keangkuhanmu, atau semata-mata sebab dia memang bukan jodohmu. Mungkin juga dia yang dulu banyak berkorban untukmu, memberikan kuping dan ruang di benaknya untuk semua rencana indah masa depanmu, namun pada menit-menit akhir menjelang kesuksesanmu harus kau tinggalkan entah mengapa. Mungkin juga cinta sejati itu kau dapatkan setelah lama kau mengikatkan diri dengan seseorang. Semua itu serba mungkin. Hidup manusia beda dengan robot atau cairan di tabung reaksi.

Cobalah menyikapi perjalanan cintamu sebagai lukisan pada selembar kanvas. Semua guratan garis, titik, sapuan nada dan gradasi warna di atasnya membentuk pola atau tema. Petualangan cintamu di masa lalu adalah titik-titik atau persilangan garis, kurva, warna, sudut pandang dan gelap terang pada karya itu. Perkawinanmu yang sekarang belum tentu jadi tema sentral dari lukisan itu. Kisah-kisah cinta dan petualangan hati di masa lalu tak ubahnya ratusan kepingan kaca berwarna yang menyempurnakan mosaik hidupmu.

Bisa jadi bagian paling indah dari karya itu justru kepingan kecil di sudut pigura. Masalahnya, kita suka cengeng, memaksa atau menipu diri, berusaha meneguhkan hati bahwa yang ada sekarang adalah yang terindah. Inti kedewasaan adalah kejujuran. Apa salahnya kau mengapresiasi cinta pertamamu, setragis apapun dia berakhir dahulu, sebagai penggalan sejarah yang membentuk karakter, kedewasaan dan sikap hidupmu? Tentu saja layak disyukuri jika faktanya suami atau istrimu itulah anugerah kehidupan yang paripurna.

Namun jika kenyataan lain, tak usah gelisah dan kecewa. Syukuri semua yang ada dan pernah ada. Bahwa hidup adalah proses belajar menuju dewasa. Bukalah hatimu untuk menggali hikmah dari segala fenomena dan fragmen kehidupan yang hadir di hadapanmu atau sedang kau lakoni. Bahwa perkawinanmu saat ini hanyalah satu mata rantai dari lakon panjang yang kau awali belasan tahun silam. Cinta sejatimu mungkin adalah petualangan tolol yang kau jalani di bangku kuliah atau SMA. Dia tema sentral dalam kehidupanmu.

Perjodohanmu yang sekarang adalah episode yang melengkapinya. Kau yang kini dewasa, kau yang dulu pernah terluka, terpuruk, kecewa, merana, putus asa, bangkit lagi dan meraih bahagia meski jauh dari sempurna. Semua kekasih lama itu punya andil dalam kebahagiaan atau kesedihanmu yang sekarang. Mereka pernah hadir mengecewakanmu, memacu semangatmu, menginspirasi perjuanganmu, dan sesekali bayangannya singgah berkelebat dalam nostalgiamu. Tak usah munafik dan mencoba menghapus semua memori itu.

Jalani kehidupan dan cintamu yang sekarang dengan penuh komitmen, tanggungjawab dan kesetiaan. Dan biarkan memori kekasih lama itu sesekali hadir menghangati jiwamu yang jenuh atau hampa di remang petang. [*]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *