Sedikit Tips Ketika Niat Baik Diasumsikan Buruk

Sedikit Tips Ketika Niat Baik Diasumsikan Buruk

jengah karena kesalahpahaman

A melihat tas Si B hendak direnggut Si C dari belakang. Serta-merta, A merebut kembali tas tersebut. Si C yang kaget segera kabur, sementara begitu Si B menyadari tasnya ada dalam genggaman Si A… langsung saja marah dan menuduh yang tidak-tidak. Ia menghujani Si A dengan makian, sehingga A kesulitan untuk menjelaskan duduk perkaranya.

***

Cerita di atas hanya ilustrasi. Kemungkinan besar memiliki dua pilihan ending; Si B memberi ruang bagi Si A untuk mengklarifikasi semuanya atau Si B berasumsi negatif selamanya pada Si A. Hehe ^^V

Well… pernahkah Bro-Sist ada dalam situasi seperti Si A, namun dengan beda cerita?

Sepertinya hampir semua orang pernah mengalami situasi “menyebalkan” tersebut. Ya, situasi di mana niat baik kita ternyata diartikan buruk. Biasanya penyebab dari semua itu adalah salah sangka atau kesalahpahaman satu sama lain.

Curcol

Ceritanya saya ini menjadi salah-satu anggota admin dalam sebuah grup kepenulisan fesbuk. Grup yang sangat berpengaruh tersebut, makin hari makin ramai saja. Bukti kecilnya adalah makin bertambahnya orang yang minta di-approve. Awal-awal, saya cukup rajin untuk mengklik akun yang sebagian besar asing tersebut untuk bergabung. Semakin hari, kegiatan meng-approve itu berkurang bahkan berhenti sama-sekali.

Kebetulan, di akhir tahun 2013, grup tersebut mengadakan hajatan tahunan. Yakni, dengan memilih satu anggota grup sebagai “ambassador” tahun 2014. Sebagai admin, kami diberi wewenang untuk memilih kandidat masing-masing. Sedikit curcol, saya sempat kesulitan. Saking banyaknya anggota grup yang baik dan berbakat. Singkat cerita, setelah mendapat kandidat, berbagai seleksi ketat pun dilakukan. Ada proses penugasan, evaluasi dan eliminasi. Sayang kandidat saya terjungkal, tak melaju ke babak berikutnya. Sampai kemudian kandidat juara mengerucut pada angka 3.

Untuk menentukan pemenangnya, 3 besar ini mengundi nasib lewat proses voting – dari para admin, juri dan tentu saja para anggota grup. Voting dari anggota dilakukan lewat wall grup, sedangkan untuk admin dan juri di inbox pribadi (namun hasilnya diumumkan juga di wall grup).

Ada postingan khusus untuk mem-vote para kandidat. Para anggota grup pun menyematkan tanda “like” dan komentarnya. Isi komentar wajib berupa dukungan pada salah-satu kandidat. Di luar itu, akan dihapus demi kemudahan saat penghitungannya.

Saya tidak terlalu mengikuti. Sebagai admin, saya hanya melaksanakan tugas untuk memberi suara via inbox fesbuk saja. Selesai. Hanya saja ada komentar salah seorang anggota yang membetot perhatian. Intinya dia komentar begini, “jumlah anggota grup ini ‘kan ribuan, kok yang ngasih vote cuma ratusan?”. Dia memang benar. Dari situ, saya berpikir kalau saya mesti melakukan sesuatu.

Saya bagikan postingan khusus voting tersebut, berharap teman-teman fesbuk yang jadi anggota grup akan memenuhi hak suara mereka. Kebetulan apa yang saya bagikan itu dikomentari oleh salah-seorang kandidat juara (yang secara kebetulan juga saya dukung). Baru detik ini saya kepikiran, kalau aksi tersebut bisa menyulut curiga. Duh, mudah-mudahan orang (khususnya admin lain dan anggota grup ini) tidak berprasangka apa-apa. Niat saya hanya ingin meramaikan pemungutan suara di grup, sama-sekali tak ada niat mempromosikan salah seorang kandidat. Serius!

Wah, seperti situasi politik saja. Makin sengit. Dan, saya tidak menyadari itu.

Lanjut… suatu hari saya keheranan melihat tumpukan nama yang minta di-approve ke grup, namun tak ada seorang pun yang mengabulkannya. Hmm lagi-lagi niat saya hanya ingin memasukkan orang yang ingin bergabung dan menambah sahabat di grup, saya pun klik semua permintaan. Senang rasanya mereka bergabung, sampai kadang saya bertanya-tanya, mereka tahu dari mana ya? Saya jawab sendiri, o mungkin karena grup ini banyak mengadakan event atau sering diperbincangkan orang.

Di hari yang lain, permintaan semakin banyak. Dan, saya pun meng-kliknya “tanpa dosa”. Semuanya berlangsung begitu saja. Saya sama-sekali belum menyadari dan tak disadarkan siapapun, kalau aksi saya itu kurang tepat. Namun setelah 1-2 hari tak membuka fesbuk, terdapat tanda datangnya beberapa pesan. Saya klik salah-satu pesan, yakni “inbox berjamaah” khusus admin grup ini.

Betapa super kagetnya, sebab nama akun fesbuk saya disebut-sebut. Ternyata kelakuan saya dan seorang admin (duh, sungguh kebetulan dia jadi mentor kandidat juara yang saya dukung) meng-approve orang-orang untuk bergabung ke grup, menuai semacam peringatan. Grup semestinya “puasa” meng-approve siapapun selama proses voting berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar para anggota yang terlebih dahulu bergabung, yang diharapkan lebih mengenali calon “ambassador”, bisa menilai dan menentukan pilihannya.

smile, tips, berteman

Saya berusaha memahami semua itu dan sekaligus merasa sangat konyol, sebab mesti merasa sangat bersalah atas sesuatu yang saya rasa (belum dirasa) tidak salah. @_@

Saya simak apa yang ada di inbox. Yang membuat saya tak enak hati yaitu, apa yang saya lakukan dikatakan sebagai usaha memenangkan salah-satu calon. Kalau mesti sumpah, saya memang tak bermaksud seperti itu. Sungguh!

Tak ada pilihan lain bagi saya selain menjelaskan secara polos, apa adanya, sambil berharap pembimbing-pembimbing saya sesama admin itu bisa percaya. Bagaimanapun, kesalahpahaman itu akan sangat tak nyaman jika tak dibicarakan.

Mungkin ceritanya berbeda-beda, tapi sekali lagi saya yakin banyak orang mengalami hal sama. Hal yang sangat tak mengenakkan – ketika kita memiliki niat baik, namun dianggap tak baik. Dan, berikut ini ada beberapa tips  bagi yang mengalaminya:

Sesulit Apapun, Tetap Berpikir Positif

Sesuai permasalahannya, kita dianggap tak baik di atas niat baik kita. Pasti ada sesuatu yang tak beres sehingga kesalahpahaman itu bisa muncul. Untuk itu, sebisa mungkin kita mengendalikan hati untuk tak berprasangka lebih buruk. Sebaliknya, coba yakinkan dalam hati kalau semua ini bisa diatasi dengan baik-baik.

Jelaskan atau Klarifikasi

Sekalipun kita tak bisa memprediksi, apakah orang lain akan percaya atau tidak, sudah semestinya kita melakukan klarifikasi. Jelaskan secara rinci dan jujur, sebab pasti ada kesalahan komunikasi juga. Kalau memungkinkan, sertakan bukti sebagai pelengkap dan penguat.

Minta Maaf

Minta maaf bukan melulu karena kita memang ada pada posisi salah. Dalam kasus ini, pemintaan maaf bisa dicetuskan karena kita – bagaimanapun –menjadi salah-satu penyebab kesalahpahaman.

Agar semakin komplit, tips-tips di atas sangat memungkinkan untuk bertambah. Dan ngomong-ngomong terima kasih sudah membaca postingan berisi curcol pribadi ini. Saya mohon maaf. Niat memposting cerita ini baik ‘kok (ingin meluruskan), tidak bermaksud apa-apa. Heu ^_^ [#RD]

*30 Desember 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *