Siapa sih yang Disebut Dai?

Siapa sih yang Disebut Dai?

Dai adalahDAI itu siapa, sih? Apakah DAI itu? DAI Adalah…?

Dulu kata ‘dai’ sempat populer, lengkap dengan tambahan istilah ‘dai selebritis’. Gara-garanya seseorang yang disebut ‘dai’ tersandung kesalahpahaman dengan jamaahnya sendiri. Mengenai tarif atau entahlah. Pendapat demi pendapat pun silih berganti memengaruhi masyarakat. Wallaahu a’lam deh, Bro-Sist. -_-‘

Eit, di sini kita gak bakal bergosip ria, kok. 😀 Melainkan meluruskan pandangan mengenai ‘siapa’ sih seorang dai?’. Who knows, diantara Bro-Sist semua ada yang masuk kriteria sebagai seorang dai. ^_^

Dai itu… apakah seseorang yang menyuruh perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk (saja)? Yang pake sorban? Yang pake baju muslim? Yang sering muncul di acara islami televisi? Hm… untuk lebih jauh, jom kita simak kriteria-kriteria seorang ‘dai’!

1. Yang menguasai ilmu
Waduh, apa dai itu harus pinter segala-galanya? Well… maksud ilmu di sini yaitu ilmu yang bersumber dari Al quran dan hadist-hadist shohih ya, Bro-Sist. Kenapa mesti berilmu? Sebab kalau enggak bisa bahaya; bisa sesat dan menyesatkan.

Dai mesti:

  • Menguasai materi dakwah dan memahami hukum syar’i yang akan disampaikan.
  • Memahami dan menguasai kondisi mad’u atau orang yang menjadi objek/sasaran dakwah, Bro-Sist.
  • Memahami metode dakwah sehingga dia bisa menganalisa berbagai dampak negatif dari setiap tindakan dakwahnya sebelum memulai.

2. Yang sabar dalam berdakwah
Dahulu Alm. Ustadz Jeffri pernah bercerita kalau dakwah beliau sempat dipandang sebelah mata. Entahlah karena beliau memang masih muda, berpenampilan ‘gak biasa’, mantan ‘pemakai’, dst… yang jelas kesabaran beliau perlahan membuahkan hasil. Banyak sekali orang yang kemudian menjadi jamaah sekaligus fans beliau, rindu dan kagum dengan lantunan suara berkualitas sekaligus isi ceramah beliau.

Sebagaimana Nabi, para sahabat, ulama atau dai terdahulu… Mereka adalah para penyeru kebaikan, rentan sekali dengan ujian dan tantangan. Namun bisa dipastikan, perjuangan mereka kan berakhir dalam keindahan.

3. Yang mengutamakan prioritas hikmah
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An Nahl: 125)

Dai tidak tergesa-gesa dan menuntut perubahan yang ‘frontal’ atau drastis dari jamaahnya ya, Bro-Sist. Dia menuturkan kebenaran dengan lembut, mudah beradaptasi sehingga bisa diterima oleh umat.

4. Yang berakhlak karimah
Bukan hal aneh, dai menjadi teladan bagi semua orang. Ilmu yang ia sampaikan sewaktu ceramah akan tercermin dari aqidahnya, ibadahnya dan tingkah lakunya. Maka, dai akan berhati-hati. Tidak melakukan kesalahan fatal dengan mengajak orang pada kebaikan namun dirinya sendiri malah lupa untuk beramal.

5. Yang lebih dekat dengan masyarakat
Kriteria dai yang terakhir yaitu tidak membatasi diri dari masyarakat. Kesannya dai itu eksklusif, ‘mahal’ dan sok benar. Sebab… ketika ada permasalahan di tengah masyarakat, mereka akan datang dan berkonsultasi dengan dai beserta orang-orang yang paham agama. Terlampau banyak orang memercayai mereka sebagai pemecah masalah yang paling benar dan terbaik. Namun kalau hubungan diantara dai dan masyarakatnya renggang atau jauh? Tentunya orang-orang akan sungkan ya, Bro-Sist.

Jadi, adakah da’i di sini? Hormat daku… ^_^ [#RD]

~~~

*September 8, 2013
*Gambar: dwiadiblog.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *