Suamiku, Anak Majikanku

Suamiku, Anak Majikanku

love affair

Anak majikan menikah dengan PRT. Rupanya hal itu tak hanya terjadi di dunia sinetron, melainkan dalam kenyataan juga. Aku pribadi tak akan begitu percaya, kalau saja seorang teman tak datang dan menceritakan fase kehidupannya. Ceritanya begini…

“Wah ada Si Dian!” seru seseorang yang hendak masuk ke kios ibu. Kebetulan aku tengah menulis sesuatu.

Aku mendongak. Ada seorang perempuan yang tengah hamil beserta seorang ibu-ibu (nampaknya memang ibunya). Kuamati wajah mereka. Memori otakku bekerja. Rupanya perempuan mengandung itu adalah temanku semasa Mts (setingkat SMP). Kami memang belum pernah sekelas, namun karena sering ketemu dan bercanda, alhasil hubungan kami cukup akrab waktu itu.

“Eh, kamu!” Aku terlonjak, namun belum berani menyebutkan nama karena lupa, “Lagi ‘isi’ rupanya! Udah berapa bulan?” tanyaku sambil menyalami keduanya.

“Udah bulannya (9 bulan),” jawabnya sembari memilah kasur-kasur bayi, “Masih ingat aku, gak? Siapa, coba?”

“Ya ingatlah!” seruku, “Mila!”

Keduanya saling pandang, “Bukan, Dian! Mila… Mila…” sungut temanku, “Aku I.”

“Eh iya, habis suka ketuker,” sahutku keki.

“Kamu ini… waktu aku nikah, kok gak dateng sih?!” Dia masih memegang beberapa alat bayi, “Pokoknya dari daerah kamu tinggal, gak ada satu pun yang dateng!”

“Waduh maaf, I. Aku gak inget dulu gimana…”

“Ah, padahal ‘kan undangannya udah aku titipkan sama E.”

“Iya, iya, maaf,” Aku kesulitan menjawab karena memang tak ingat, mungkin waktu itu masih sibuk kuliah, “Kadang undangannya baru nyampe pas udah tanggal nikah, kadang akunya gak tahu, malah kadang undangannya gak nyampe,” alibiku.

Kami lalu saling bercerita, menguak memori demi memori masa lalu. Dari dialek bahasanya, nampak ia sudah lama tinggal di luar kota. Dugaanku benar. Dia memang bermukim lama di Bekasi. Kali ini kedatangannya ke Kuningan hanya berstatus ‘tamu’ dengan tujuan ‘numpang melahirkan’.

“Betah di sana, I?”

“Kalo gak betah, gak mungkin tahan lama di sana, Dian,” tukasnya sambil terkekeh, benar-benar ‘ngunci’, “Pokoknya kalo tinggal sama suami sih, betah-betah aja.”

Sambil ia berbelanja, kami mengobrol banyak hal. Termasuk pada cerita unik dibalik pernikahannya. Ternyata dulu ia menjadi pembantu di rumah suaminya kini. Kebetulan, ‘mantan majikannya’ juga membuka usaha catering dan produksi kue. Entahlah… memang sudah ketetapan Allah Swt, dia dan anak sang majikan kerap kerja berbarengan. Hubungan keduanya pun makin dekat dan berkomitmen. Yang membuat I yakin, hubungan itu sudah mengarah serius (pernikahan). Bukan sekadar pacaran sebagai pengisi status atau hiburan belaka. Terlebih, majikannya pun memberi restu.

Suatu hari, I memberi kabar padanya ibunya di kampung. Katanya, majikannya ingin berkunjung ke rumah I. Ibunya sempat heran, namun ia tak berpikiran apa-apa. Begitu datang, ibunya sangat terperanjat karena sang majikan dan anaknya datang dengan maksud melamar.

“Kok ibu mau-maunya melamarkan anak ibu sama I?” Ibu I ragu, “Apa gak malu kalo anak ibu menikah dengan pembantunya sendiri?” tanyanya lagi, jujur.

“Kami gak pernah berpikiran begitu, Bu,” Sang Majikan menjawab, “Bahkan saya juga gak tiba-tiba punya usaha begini. Dulu saya tergolong miskin, Bu.”

Begitulah, akhirnya mereka menikah. Usia pernikahannya sudah cukup lama. Sekilas dari pertemua kami, I nampaknya bahagia dan bangga dengan bahtera rumah tangganya. Ah, mudah-mudahan Allah Swt melancarkan proses persalinanmu kelak. Dan, semoga hidupmu dan keluarga senantiasa bahagia, I. Aamiin… [#RD]

*26 Februari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *