Tentang Lelaki/Suami Idaman

Tentang Lelaki/Suami Idaman

Dennis Oh PinterestMemangnya mencuci, memasak, membersihkan rumah dst itu adalah kewajiban istri?” Pak Kyai memancing jamaahnya, “Tidak Bapak-Ibu. Semua itu tugasnya suami,” tegas beliau kemudian, lalu lanjut memaparkan isi ceramah dalam rangka Maulid Nabi Muhammad Saw.

Sepengamatanku, beliau memang sosok suami idaman. Bukan perokok pula! Bisa dikatakan, isi ceramahnya memang telah ia terapkan. Beliau juga suka mencuci baju, menyapu rumah, masak air biar mateng, dan segala pekerjaan yang selama ini hanya diidentikan dengan seorang istri.

Kalau semua laki-laki menyadari tugasnya, ah… betapa indah dunia! 😀

Ketika masih diguyur nasihat dan hikmah dari beliau, seseorang yang duduk di sampingku menggeser pantatnya, mendekatiku. Beliau adalah tetanggaku, ibu-ibu muda.

“Suami Ceuceu itu baikkk banget, Neng!”

Aku hanya tersenyum, ikut senang.

“Dia itu kayaknya lebih daripada Pak Kyai deh. Gak banyak bicara. Ngomong itu seperlunya padahal ‘kan Ceuceu ini cerewet, hihihi, ” puji Ceu A sambil cekikikan, “Ya… mungkin dia itu ngehindari cekcok, takut Ceuceu sakit hati atau gimana. Padahal ‘kan komunikasi itu penting ‘kan, Neng?”

“Hehehe iya, Ceu.”

“Tapi itu sih udah karakter dia. Yang jelas dia baik banget sama anak-istri.”

“Gitu ya, Ceu?!”

“Meski cuma jadi kuli di Jakarta, suami Ceuceu itu perhatian dan pol-polan. Nih ya, teman-temannya yang lain hidup boros di ibukota. Kalau dia itu hemat. Alasannya, supaya bisa bawa uang banyak ke kampung, Neng.”

“Bagus tuh, Ceu.”

Lee Dong Wook“Sekarang ‘kan banyak tuh, Neng,” Ceu A siap-siap bercerita, “Suami banting-tulang di Jakarta, eh istrinya di kampung malah foya-foya. Pergi ke supermarket, jajan yang gak perlu. Pamer aja ke orang.”

“Iya, Ceu,” responku singkat, sebab kalau berbalik nanya, bisa tak tertolong obrolannya.

“Ceuceu beda. Karena suami udah capek terus sangat baik, Ceuceu jadi gak tega mau hambur-hamburkan uang. Ada seperak-dua perak disimpen, dikumpulin, jadi satu sak semen, batu-bata, genting. Alhamdulillah bentar lagi mau bangun rumah.”

“Alhamdulillaah, Ceu,” Aku benar-benar kagum atas menejemen keuangannya.

“Makanya kalau suami pulang kampung, Ceuceu sebisa mungkin membahagiakan dia,” lanjutnya, mengundang perhatian, “Ceuceu beli kopi sama rokok. Gak sebatang-dua batang. Gak sebungkus-dua bungkus, tapi se-slop!”

Aku mengernyitkan dahi. Etdah! Mau membahagiakan, apa membunuh dengan perlahan?

Obrolan kami terpenggal. Bu Kyai memanggil Ceu A untuk mengecek kesiapan prasmanan jamaah laki-laki, sementara untuk perempuan hanya berupa snack.

Malam ini aku melihat dan mendengar sosok laki-laki yang ‘gentleman’, yang melaksanakan tugas ‘laki’-nya tanpa mengandalkan otot dan sikap superior-nya terhadap perempuan. Meski memang, banyak juga laki-laki yang mengaku ‘jantan’ hanya karena bisa menghardik, menghantam, berkata kasar, ongkang-ongkang dan sangat ditakuti. Seolah-olah ia memang tercipta untuk merasa lebih segalanya dari perempuan.

Tapi ternyata Marlyn Monroe keliru. Katanya, “Laki-laki itu sama saja. Mereka hanya memiliki wajah yang berbeda.”

Nyatanya… laki-laki itu tak sama. Yang kurang asin pasti ada, yang sangat manis juga masih ada. Hehehe. [#RD]

*Catatan: February 5, 2014
4 Comments
  1. Mita
    • deeann
  2. Ruri
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *