Tentang Nasihat dan Pesan-Pesan (Terakhir) Beliau

Tentang Nasihat dan Pesan-Pesan (Terakhir) Beliau…

nasihat terakhir

Innalillaahi wainna ilaihi rooji’uun…

Refleks kugumamkan kalimat itu begitu tahu kabar bahwa guru SMA sekaligus dosen Bahasa Inggrisku, Pak C, meninggal dunia pada Jumat (20 September 2013). Rasa yang menjalar setelah kesedihan yang mendalam yaitu… penyesalan. Di akhir cerita, penyesalan memang selalu menjelma menjadi hal menyesakkan yang… mau tak mau mesti kita terima.

Senin, 26 Agustus 2013… Aku mendapat kabar kalau Pak C masuk Rumah Sakit dalam keadaan kritis. Memang, telah lama kondisi kesehatan beliau menurun. Sayangnya… aku hanya ‘update’ kabar saja, tanpa datang langsung untuk menjenguk. Terakhir kami bertemu itu ketika aku PPL di SMANSAKA (sekitar Januari-April 2013). Kondisi beliau telah terlihat drop, namun masih bisa hadir di sekolah tersebut.

Usai PPL, praktis kami tidak pernah bertemu. Aku hanya bergelut dengan projek mahasiswi tingkat akhir. Tak banyak dosen yang aku temui, paling sering tentu saja bersama dosen pembimbing skripsi sendiri. Meski demikian… aku kerap mendapat kabar tentang kondisi beliau. Dan… berita beliau dalam kondisi kritislah, mungkin, yang menjadi kabar terakhir yang kutahu. :’(

Maka sekitar jam 9 pagi… dengan masih mengepal sesal, aku bergegas menuju lokasi pemakaman dan rumah duka bersama seorang teman. Di sana kami bergabung bersama adik-adik tingkat, dosen-dosen dan pihak staf Program Studi Bahasa Inggris.

Lagi-lagi, aku mesti menelan kepahitan. Begitu sampai di lokasi pemakaman, nyatanya prosesi pemakaman tersebut telah selesai. Aku tak bisa menatap beliau untuk yang terakhir kali. Hanya bisa memberi penghormatan terakhir sambil menyembulkan sekelumit doa.

Di rumah duka, kudengar isak tangis. Sesak rasanya melihat derai airmata istri beliau, menatap kepolosan anak-anak beliau serta meresapi suasana yang muram. Poto-poto beliau bersama keluarga, lengkung senyum ketika memakai toga S2, kasur yang dipakai sebagai peristirahatan terakhir, potongan kain kafan, bentangan karpet, dan segala saksi bisu menerjemahkan aura duka.

“Maafkan si bapak ya, Neng…” di sela-sela isakannya ketika memeluk kami, istri beliau mengatakan hal tersebut berulang-ulang.

“Kalau selama mengajar beliau melakukan kekhilafan… mohon dimaafkan,” seorang dosen juga berpesan demikian.

Aku mengenal beliau semenjak kelas X. Karena aku cukup suka pelajarannya, kami pun jadi cukup dekat. Terlebih aku cukup sering menerima titahnya. Selain kelas, event-event bertajuk Bahasa Inggris pun kerap menciptakan kebersamaan kami. Jika kutulis segala sesuatu tentang kenangan, entahlah berapa banyak tinta yang mesti dihabiskan. Hanya saja ada beberapa yang masih terngiang:

“Belajar dengan Bapak syaratnya cukup 1, yaitu nurut.”

Kalimat yang pernah beliau ucapkan itu senantiasa berdengung. Aku masih ingat beliau mengucapkannya sambil senyum. Awalnya aku menerjemahkan ucapan itu sebagai keegoisan beliau, yang meminta dituruti saja.

Lama-lama aku paham. Memang tak cukup rumit jika siswa ingin menarik perhatian dan apresiasi beliau, tinggal nurut saja apa yang beliau bilang. Sebab apa yang beliau anjurkan… adalah hal-hal yang memberi efek baik untuk kami. Tak jauh-jauh seputar tips atau nasehat beliau jika kami hendak mempelajari Bahasa Inggris;

“Kerjakan latihan-latihannya dari yang termudah sampai tersulit, perbanyak membaca teks dan menerjemahkannya sendiri (sampai kamu terbiasa dengan kosakata baru, sampai kamu gak sadar kalau kamu jadi kaya kosakata dan dengan sendirinya kamu akan mudah membedakan jenis-jenis teks tersebut), selain belajar… jangan lupa bersosialisasi, latih lidah untuk mengucapkan kata-kata berbahasa Inggris, latih telinga agar terbiasa dengan pelafalan berbahasa Inggris,….”

Nasihat ketika Beranjak ke Kelas XI

Ketika kelas X, Pak C sering mempercayakan segala sesuatu padaku dan seorang teman (F). Kebetulan kami berdua sama-sama menyenangi pelajaran bersama beliau. Suatu ketika… F mengutarakan padaku untuk pindah sekolah begitu naik kelas XI karena suatu alasan. Dia hendak memberitahu Pak C juga. Kemudian dia memintaku untuk menemaninya. Kebetulan kami bertiga bertemu di tepi lapangan basket. Jadilah kami terlibat percakapan di sana.

Entah dari mana awalnya, obrolan kami menggelinding sampai ke arah kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Beliau memang dikenal sebagai guru yang kurang mentolerir kegiatan luar sekolah yang tidak terlalu penting. Sikap itu beliau ambil sebab nyatanya banyak siswa yang ‘memanfaatkan’ kegiatan ekstrakulikuler untuk mangkir belajar.

“Nanti kelas XI… Kalau sekiranya gak bisa me-menej waktu, gak bijak, ya jangan ikut ekskul-ekskul atau organisasi di sekolah deh! Bapak mengalaminya sendiri, tapi waktu kuliah. Lama-lama sadar sendiri. Kita bayar sekolah itu untuk memperdalam ilmu yang hukumnya wajib, bukan untuk sekadar ikut kegiatan ‘sunnah’ yang malah mengganggu belajar…”

“Guru itu Ibarat Dokter”

Lagi, aku tak bisa melupakan kalimat Pak C ini begitu saja. Terlebih aku masuk kuliah Fakultas Pendidikan. Ucapan beliau itu ada benarnya juga…

“Guru itu ibarat dokter dan siswa-siswa adalah ‘pasiennya’. Jadi guru mesti men-diagnosis siswa itu keluhannya apa, kurangnya di mana, lalu guru memutuskan penanganan yang cocoknya bagaimana, ‘obat’ untuk meningkatkan kemampuan siswa itu apa, dosisnya segimana, dst. Kalau bisa guru mesti tahu kadar kemampuan siswa secara privat, sebab mereka itu gak sama…”

“Ternyata Pak C itu perhatian banget!”

Suatu hari, di kantor, aku disuruh mengambil hasil ulangan harian… Pak C kemudian menyampaikan fakta cukup mengejutkan. Aku dibuat ‘speechless’ karenanya. Waktu itu… dengan tertata beliau menanyakan posisi bangku aku dan beberapa teman. Aku menjawab saja seadanya. Lalu,

“Bapak tahu siapa yang duduk di belakang, depan, sisi kiri dan kanan kamu. Si A, B, C dan D. Jadi kalau nilai kamu dan teman-teman yang posisi duduknya dekat itu mirip atau bahkan sama… Bapak bisa simpulkan kalian itu bekerja sama. Bapak bisa saja menganulir nilai kalian semua. Diam-diam juga, Bapak itu memantau kalian. Bukan apa-apa, ini untuk kebaikan kalian…”

Apalah arti jawaban di atas kertas

Padaku juga Pak C pernah membuat pengakuan yang menggelikan namun memang benar adanya,

“Kertas-kertas tugas kalian itu berat, udah numpuk di rumah. Belum lagi tugas-tugas mahasiswa Bapak. Bisa dikiloin kali… Tapi Bapak seneng kalian nurut, berusaha ngerjain. Walau sebenarnya Bapak gak percaya sama hasilnya. Makanya Bapak cuma melihat nama kalian saja kalau memeriksa tugas di atas kertas.”

Sebenarnya banyak sekali hal-hal mengenai beliau yang masih terjepret ingatan. Namun tentu tak semuanya bisa dipublikasikan. Akhirnya… kami hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya terhadap beliau dan berdoa; Mudah-mudahan Allah Swt mengampuni beliau, menyayangi beliau dan menempatkan beliau di sisiNya. Aamiin ya Allah… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *