Terima Kasih, Joan Cutting!

Terima Kasih, Joan Cutting!

joan cutting

Aku dan rekan-rekan satu bimbingan Pak I sempat galau; beliau jadi datang gak, yah?

Beruntung, jawaban konfirmasi beliau via sms menandaskan kegamangan itu. Jadwal bimbingan dipastikan terlaksana pada Kamis, 27 Juni 2013 ba’da dzuhur.

Bagiku dan rekan-rekan The Deixis Team, bimbingan kali ini seolah menjadi penentu atas nasib teori kami untuk Research Question ke-2. Sebelumnya, kami sempat digalaukan dengan keputusan Pak Pembimbing 1 untuk tidak memakai teori yang kami pegang. Beliau meminta kami menggantinya. Alhasil… kami kembali berembug, mencari sumber, mempelajari, menyimpannya dalam bab 2 dan tentu, memeras otak demi mengolahnya dalam analisis di bab 4.

Sekaranglah waktunya bagi kami untuk tahu, apakah teori baru yang kami pakai ini disetujui sang pembing atau tidak. Ah rasa-rasanya kami seperti beberapa orang terdakwa yang tengah menunggu ketokan palu seorang hakim. Phew!

Aku ke kampus bersama T. Di kampus, mobil pembimbing kami belum nampak. Kami pun sekadar memenuhi bagian depan kampus, mengobrol dan lalu sholat dzuhur. Sempat ada kesalahpahaman antara aku dan beberapa teman yang menyatakan tidak tahu kalau hari itu bimbingan.

Aku paling benci situasi salah-paham seperti ini. Capek mengetik balasan sms-nya. Mau sih ketemu langsung. Mungkin S dan V mengira aku tidak mengumumkan jadwal bimbingan yang memang berharga ini. Tetapi, aku sendiri memiliki alasan kuat, mengapa aku tak mengumumkannya pada semua peserta bimbingan, termasuk S, V bahkan T. Faktanya, Pak I hanya menetapkan orang-orang tertentu (kebanyakan yang belum seperti aku dan The Deixis Team atau yang dulunya hanya kebagian bimbingan sebentar) untuk mengikuti bimbingan kali ini. Sedangkan S, V dan T tak masuk dalam orang-orang yang Pak I maksud. Lalu, kenapa T datang? Dia sendiri yang mau, mungkin penasaran…

Pak I yang dinanti pun datang dengan Nissan grand-livina putihnya. Kami pun mengadakan bimbingan skripsi di lantai 2. Sempat terjadi sedikit kekisruhan sebab kebanyakan teman mahasiswa tidak setuju dengan daftar absen yang baru. Entah siapa yang mengatur, yang jelas dalam daftar bimbingan yang baru itu aku bernomor urut 3. Rekan Deixis Team-ku sempat menanyakan kapan aku mengambil nomor urut sampai bisa awal seperti itu? Aku jawab dengan jujur; tidak tahu. Beneran.

Akhirnya Pak I setuju untuk memakai jadwal lama (minggu lalu). Tak disangka aku jadi bernomor urut 2. Karena yang bernomor urut 1 tak nampak, aku pun melenggang sendiri. Beruntung, tanpa berlama-lama Pak I langsung ‘ngeh’ akan permasalahan yang menimpa paper-ku. Dobel beruntung, karena Pak I turut memanggil rekan-rekan Deixis untuk maju juga. D dan P pun bergabung denganku. Tapi sayaaang sekali, R belum datang. Hadeuh…

Deg-degan, kami bertiga harap-harap cemas begitu Pak I membolak-balik Research Question dan analisis Bab 4-ku. Sesuai arahan beliau, aku mengganti teori konteks yang terdahulu lalu menggantinya dengan teori milik Joan Cutting.

Meski jantung sedang kencang-kencangnya berdegup, namun ada 1 hal yang tak pernah kami bertiga lewatkan momen-nya. Pak I berujar pelan begitu selesai membaca teori baru yang kami ajukan,

“Nah… kalau teori ini mah bisa!”

Phew! Terima kasih banyak, Tuhan!
joan cutting
Terima kasih Joan Cutting telah menuliskan buku “Pragmatics and Discourse”, terima kasih Bu I (dosen pembing kedua) yang memiliki buku Joan Cutting, terima kasih T yang telah meminjam buku Joan Cutting dari Bu I tapi kemudian menawarkannya padaku, terima kasih pada adiknya T yang telah mengantarkan buku Joan Cutting padaku, terima kasih….

Ada kelegaan yang membuat perasaan kami sangat membaik. Perihal analisis bab 4 yang belum sempurna, biar saja. Toh tujuan kami untuk bimbingan ini ‘kan demi memperbaiki analisis yang otodidak itu?! Heheh…

Kami bertiga cukup lama berkonsultasi dengan beliau. Maklum, diperlukan pemikiran yang lebih mendalam untuk memastikan kontennya sesuai atau tidak. Sudah kuduga teman-teman pasti akan jenuh menunggu kami. Begitu kelas terasa ribut, beliau sedikit terusik,

“Kalau gak mampu untuk gak bicara, ya keluar. Saya gak bisa berpikir ya kalau suasananya gaduh. Berbisik pun gak boleh. Kalau mau mengobrol, silakan di luar. Tapi jangan yang deket-deket, yang jauuuuh sana!” bertubi-tubi beliau mengutarakan isi hati.

Meski lagi ngambek, ujung-ujungnya selalu saja ada kesan humorisnya. Memang seperti itulah karakter beliau. Bukan bermaksud ingin merenggut HAM untuk bicara, tapi memang meminta hak untuk mendapatkan suasana kondusif saja. Meski kami sempat tertawa sejenak, selanjutnya kelas memang terasa semakin senyap. Apalagi begitu beliau kembali fokus pada pekerjaan The Deixis Team. Usai memeriksaku, beliau lanjut membedah kinerja D dan P.

Selesai sudah. Kami memboyong dua rasa sekaligus. Lega karena teori kami diterima dan sedikit gundah sebab rekan kami, R, belum nampak. Akhirnya, kami bertiga keluar dan kembali berdiskusi. Kalau sudah di luar kelas kan bisa sebebas mungkin diskusinya. Diselingi canda-tawa pun nampaknya tak akan jadi masalah. Heheh

Satu persatu diantara kami selesai bimbingan. Ada beberapa mahasiswa/i yang tetap datang, meski tidak beliau pinta. Alhasil, aku mendengar kabar bahwa beliau menolak mereka. Satu sisi terbersit rasa kasian, namun di sisi lain alasanku untuk tidak menebar info bimbingan pada semua mahasiswa/i jadi serasa tepat.

Cahaya senja melumuri bumi. Aku dan T kembali pulang bersama. Di tengah-tengah perjalanan, tepatnya ketika posisi rumah kami telah dekat, hujan datang. Aku dan T yang kebetulan pulang dengan sepeda motor memutuskan untuk menepi. Dengan alasan sudah dekat, mulanya aku menolak tawaran jaket dari T. Tetapi dia mengingatkan,

“Kita ini sedang dalam proses menyusun skripsi. Gak boleh sakit!”

Heheh, walau bernada candaan tapi memang benar juga. Sombong sekali aku yang tak mau mencegah penyakit itu. Aku seolah-olah percaya diri bahwa naik motor sambil hujan-hujanan tak akan mempengaruhi keadaan badan. Padahal, faktanya aku baru saja sembuh dari demam usai naik motor bersama teman malam-malam sambil menyibak gerimis di jalanan. Heu…

Hum… semoga Allah Swt senantiasa menguatkan badan dan mental kita. Aamiin ^_^ [#RD]

Gambar: Google Image

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *