Terus-terusan Doa, Tapi Mana Rezekinya?

Terus-terusan Doa, Tapi Mana Rezekinya?

berdoa berdoa dan berdoa

“Pengin rezeki”. Daku yakin, semua orang pasti menyelipkan permohonan rezeki di sela-sela doanya. Iya, ‘kan? Memang ya, rezeki jadi salah-satu hal yang “difavoritkan” untuk dipinta.

Nah, pernah gak sih kita merasa sudah capek doa minta rezeki, tapi kok apa yang diminta itu belum datang juga? Well, sebelum membahasnya lebih jauh, daku mau menceritakan cerita pengalaman dari guru SMA-ku dulu, Yth. Pak Edi. Kata beliau:

Suatu hari, bapak dan seorang teman mau mencari rumah teman kami yang lain. Maklum, kami sudah lama tak berjumpa dan sama-sekali tak tahu rumahnya. Tapi kami tak tahu alamat lengkapnya. Yang kami tahu cuma nama kelurahannya. Itu petunjuk satu-satunya.

 

Bapak dan teman pun berangkat. Begitu sampai di area kelurahan yang kami cari, ada seorang laki-laki. Kami berhenti dan bertanya pada laki-laki itu, siapa tahu saja dia tahu. Dan tanpa kami sangka, dia tahu siapa sosok yang kami cari. Atas petunjuknyalah kami bisa dengan mudah menelusuri jalan yang kami incar. Begitulah, proses pencariannya begitu mudah. Sungguh rezeki yang tidak disangka-sangka.

Itu cerita beliau yang pertama. Selanjutnya beliau kembali menceritakan cerita yang kedua:

Malam-malam ada yang ketok pintu bapak. Begitu dibuka, dia bertanya “benar ini rumah Bapak E?”. Bapak jawab “iya, saya sendiri”. Dia lalu terlihat senang dan mengucapkan syukur. “Duh, Pak. Saya cari rumah bapak ke mana-mana, sampai nyasar segala. Alhamdulillah sekarang kita sudah bertemu”. Nah, ternyata begitulah… sang tamu mengalami kesulitan ketika mencari alamat Bapak.

Well, dari dua cerita di atas, bisa kita simpulkan. Ternyata rezeki itu tak berwujud materi belaka, bukan? Apa jadinya kalau kita punya uang banyak, tapi ditimpa berbagai kesulitan. Misalnya seperti cerita di atas, yakni mencari alamat orang. Di titik itulah, kita mungkin bisa mengatakan; materi bukan segalanya.

Nah, ceritanya daku menghadiri acara IKRAR (semacam komunitas yang menaungi ekskul Rohis di SMAN Kadugede, mantan SMA-ku dulu). Di acara itu, Kepala Sekolah SMAN Kadugede – Pak Maryanto – memberi sambutan. Isinya masih ‘nyambung’ dengan sambutan sebelumnya, yakni dari Pembina Rohis SMAN itu sendiri (Pak Edi). Beliau memaparkan,

“Rezeki itu terbagi dua. Ada rezeki material dan non material. Rezeki material ya seperti uang atau barang berharga lainnya. Sedangkan yang non material, ya seperti cerita Pak Edi tadi,” kata Sang Kepsek, “Bahkan mendapat senyum dari orang lain sampai kita merasa nyaman pun merupakan rezeki,” imbuh beliau, ngena.

Apa yang beliau paparkan menjadi renungan tersendiri. Karena, kadang kita terlalu menuntut jawaban atas doa meminta rezeki pada Allah Swt, sampai-sampai kita melupakan ‘rezeki-rezeki lain’ yang terlampau banyak, yang Dia kucurkan. Ya kesehatan jasmani, kesehatan ruhani, kejernihan akal, keharmonisan keluarga, kemudahan beraktivitas, dst.

Duh, jadi malu. Kita sibuk saja minta ini-itu yang belum ada, sementara ‘ini-itu’ yang sudah Allah Swt kasih tanpa kita pinta, malah lupa disyukuri. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *