Tips Ketika Memberi Reward dan Punishment pada Anak

Tips Ketika Memberi Reward dan Punishment pada Anak

reward and punishment buat anak

Memberi hadiah pada anak itu efeknya baik gak, sih? Tapi kalau gak pake hadiah, rasanya gimana gitu? Sebaliknya, kalau pake hukuman, gimana?

Orang tua, guru atau mereka yang mengasuh anak tentu pernah dibingungkan dengan hal ini. Sederhana, namun rumit juga. Sebab, tak jarang seorang ibu yang kerap menggelontorkan hadiah pada anaknya justeru tak mendapatkan apa yang diharapkan. Atau, ada pula ayah yang galak, yang selalu mengandalkan hukuman, namun anaknya malah makin brutal.

Apa memang ada hal atau aturan yang perlu kita perhatikan ketika memberi reward dan punishment? Apa saja? Jom kita bahas!

hadiah dan hukuman untuk anak

Aturan-aturan ketika memberi reward atau hadiah:

  • Berikan hadiah karena tujuan tertentu. Misalnya kita memuji anak di depan tetangga atau seluruh keluarga, sebagai apresiasi karena anak sudah bangun pagi, sholat subuh dan pandai mengaji. Hal itu dilakukan agar anak terdorong untuk mempertahankan prestasi dan sikap baiknya.
  • Bila tujuan kita memberi hadiah itu untuk mengubah tingkah laku sang anak, maka sebaiknya jangan memberi hadiah berupa barang, kecuali untuk pertama kali dalam jangka waktu yang panjang, misalnya ketika jelang bulan Ramadhan. Kita bisa belikan jilbab, mukena dan sajadah atau koko, sarung dan peci lucu.
  • Ketika anak sudah terlanjur suka dengan hadiah barang? Ubahlah sikap tersebut dengan sikap sabar, ulet dan konsisten. Perubahan hadiah dari barang menuju non-barang memang harus dilakukan secara bertahap dan tak boleh memaksakan.
  • Hadiah non barang yang kita berikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, eksklusif dan spesial. Misalnya peluk-cium dengan tulus dan tak perlu menahan air mata haru, tumpahkan saja sambil beri pujian dan apresiasi sebesar-besarnya pada prestasi atau kelakukan anak yang membanggakan.
  • Memberi hadiah non barang tentu tidak sembarangan. Harus proporsional, efisien dan tepat waktu. Tentu tak tepat juga kalau kita memuji anak secara lebay sampai salto segala, misalnya. Atau, kita mendramatisir pelukan, ciuman dan tangisan ketika anak cuma membukakan pintu. Yang ada, anak pasti bingung dan sudah kebal lagi dengan ‘kegombalan’ kita.
  • Kita seyogyanya tidak labil dalam memberikan hadiah non materi. Lakukan secara konsisten, sehingga anak paham kalau selama ini dia terus diperhatikan dan diapresiasi.
  • Evaluasi teknik memberi hadiah yang kita terapkan, apa ngefek sama anak?
  • Tak perlu berlebihan juga dalam memberi hadiah. Sesuaikan saja.
  • Hadiah sebaiknya berujung pada dorongan atau motivasi agar anak lebih baik lagi.

 Aturan-aturan ketika memberi punishment atau hukuman:

  • Perhatikan usia anak. Kalau anak masih balita, tentu dia tidak mengerti dengan apa itu hukuman. Jadi, jangan terapkan teknik memberi punishment pada balita. Bukannya jera, bisa jadi dia malah frustasi.
  • Perhatikan juga jenis pelanggaran dan kadar hukumannya.
  • Hukuman harus bersifat mendidik. Jangan sampai anak malah tersiksa atau terkuras tenaga dan perasaannya ketika menerima konsekuensi hukuman dari kita. Karenanya, tinggalkan hukuman seperti menampar anak. Kecuali, jika anak sudah melenceng dari koridor agama (tentunya setelah kita berusaha keras mendidiknya secara Islami), kita bisa menghardik atau memukulnya. Namun, hukuman tersebut jangan berlandaskan emosi, melainkan rasa sayang. Intonasinya boleh keras dan tegas, asal tidak kasar dan melukai hati. Pukulannya pun jangan sampai mendarat di wajah dan menimbulkan cidera.
  • Tak ada salahnya kita memberi informasi pada anak, bahwa akan ada sanksi tertentu jika perilakunya tidak menyenangkan banyak pihak.
  • Seperti pemberian hadiah, maka dalam pemberian hukuman pun harus ada evaluasi. Apakah cara menghukum yang kita terapkan itu sudah memberi efek baik?
  • Ketika anak berbuat salah dan emosi kita langsung meluap, hindari dulu pemberian hukumannya. Kendalikan amarah, jangan sampai hukuman yang kita jatuhkan itu berlandaskan emosi belaka.
  • Hindari hukuman fisik dan psikis, semisal mengeluarkan kata-kata tak sepatutnya. Sebab jika bekas cubitan bisa kembali normal, maka tidak dengan ingatan dan perasaan anak pada kata-kata atau sikap kita yang menyakitkan.
  • Hukum anak dengan tegas. Jangan sampai karena anak nangis, kita langsung menyerah dan membiarkan perlakuan jeleknya.
  • Hukuman sebaiknya menjadi alternatif terakhir, bukan menjadi sebuah rutinitas tersendiri.

Akhirnya, mudah-mudahan kita bisa lebih bijak dan generasi muda kita bisa tumbuh cemerlang ya, Bro-Sist. Aamiin. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *