Tips Menghadapi Anak yang Pendiam, Pasif atau Sulit Bergaul

Tips Menghadapi Anak yang Pendiam, Pasif atau Sulit Bergaul

Murid kurang aktif pendiam introvert

theatlantic.com

Sebelum lanjut pada inti postingan, ada baiknya daku ceritakan salah-satu pengalaman menarik tentang anak yang pendiam, pasif atau terlihat sulit bergaul. Ceritanya begini:

Sewaktu aku KKN di Desa Kubangjero, Kec. Banjarharjo – Brebes… Banyak sekali kesan mendalam yang kudapatkan di sana, khususnya soal pendidikan. Kebetulan daku mengajar di sebuah SD. Entah kebetulan atau tidak, kesempatan untuk mengajar semua kelas telah kudapatkan (kecuali mengajar kelas II, sebab jumlah ruangan yang hanya 5 menyebabkan kelas tersebut belajar di kala siang). Namun, kelas yang cukup sering kuhadapi adalah kelas IV dan V.

Ketika di kelas IV, sudah cukup lama aku memerhatikan seorang anak perempuan. Yang membetot rasa ingin tahuku adalah, ia kerap duduk sendirian di bangku belakang. Ketika daku menerangkan atau berbicara sesuatu di depan, sering sekali ekor mataku menangkap responnya. Ternyata dia menyimak, namun terlihat tak terlalu cepat daya serapnya.

“Pendengarannya kurang baik, Kak,” begitu kata teman-temannya ketika aku bertanya dan dia hanya mesem-mesem.

Ketika daku melakukan rutinitas di kelas, yakni keliling… dia memang terlihat kikuk. Kurasa, daku mesti mencurahkan perhatian yang sedikit lebih banyak padanya. Sehingga, daku kerap duduk berlama-lama di sampingnya. Selain menemani kesendiriannya… daku pun berusaha menawarkan bantuan kalau-kalau dia memang butuh dan tentu saja melakukan tanya-jawab sederhana (seputar keluarga, sekolah atau apapun).

“Titip dia, Dian. Dia anak Bapak, paling pintar,” ucap guru PAI pragmatis, dengan kata “pintar” yang ditekan. Beliau tiba-tiba saja datang, berjalan dari arah belakang kelas IV menuju kantor. Kebetulan pintu kelas III tembus ke kelas IV dan dari depan kelas kami bisa tembus juga ke pintu kantor.

Waktu itu aku hanya tersenyum. Daku belum mampu menangkap apa yang menarik minatnya. Sampai suatu hari, ketika daku masuk ke kelas IV pas mata pelajaran Keterampilan… Dia begitu semangat. Ketika daku menghampirinya, dia riang sekali menunjukkan hasil karyanya yang dulu-dulu.

Sayangnya, hasil karya tersebut memeroleh nilai yang kecil-kecil. Terlalu kecil untuk mengapresiasi usaha dan kreativitasnya, menurutku. Daku juga kurang enak hati melihat jumlah nilai itu tercoret besar, “merusak” keindahan gambar anak-anak. Kejadian itu menginspirasiku untuk berusaha tak membubuhi nilai tepat di dalam gambar. Sebisa mungkin nilai tersebut tak mengganggu tampilan gambar mereka.

Daku sedikit mendapatkan cahaya, bahwa hal yang menarik baginya adalah dunia gambar-menggambar. Begitu kusematkan nilai yang cukup besar… seringkali kulihat dia mengacung-acungkan buku gambarnya di depan teman-temannya. Terlihat begitu bangga dan percaya diri. Matanya yang berbinar dan wajahnya yang begitu cerah-ceria, membuatku hanyut dalam kebahagiaan yang aneh. Dari situ, kami semakin dekat. Dia mulai berani bertanya-tanya dan memintaku untuk mengoreksi apapun yang telah ia kerjakan.

Secuil pengalaman menghadapi anak semacam itu, tentu pernah juga dialami oleh Bro-Sist semua. Berikut ini beberapa tips menghadapi anak yang pasif, pendiam dan terlihat sulit bergaul:

#1. Carikan Teman yang Lebih Aktif

Biasanya guru bisa “berkuasa” untuk mengatur posisi tempat duduk. Sebisa mungkin kita sandingkan anak yang pasif dengan yang aktif, sehingga ia bisa bersosialisasi lebih baik. Namun jangan dipaksakan. Jika mereka tidak mau posisinya diatur, momen kerja kelompok bisa kita andalkan. Usahakan tempatkan anak yang pendiam dengan anak yang aktif, bukan malah dengan yang pendiam lagi.

#2. Menjadi Teman Mengobrol

Meski anak akan gugup ketika kita hampiri, terus saja lakukan pendekatan. Kadang kita memang mesti memposisikan diri sebagai teman, bukan guru. Di sela-sela KBM ataupun di luar kelas, kita bisa mengajak anak tersebut untuk berbincang. Topiknya bisa tentang apa saja, khususnya tentang hal yang ia suka.

Awal-awal, mungkin mereka hanya menggunakan gesture semacam mengangguk, menggeleng atau hanya menunduk terdiam. Namun bisa kita lanjutkan arah obrolan dengan pertanyaan seperti “kenapa?”, “menurutmu gimana?”, “kok bisa gitu?”, dst. Jika dia mulai tersenyum, merespons atau bahkan menjawab cukup panjang… bisa disimpulkan sementara, kalau mereka bisa menerima dan merasa nyaman dengan keberadaan kita.

#3. Menjadi Motivator

“Wuih, sedikit belajar lagi bisa keren banget tuh!”

Kalimat tersebut memang sederhana, namun ada keajaiban di dalamnya. Melontarkannya bisa memotivasi anak, khususnya yang pasif, untuk semakin bersemangat mengerjakan atau melakukan tugas yang diberikan dengan lebih baik. Alangkah bijak juga jika kita terus mendampinginya, takut dia terjerembab pada keputusaasaan.

#4. Memberi Sanjungan atau Hadiah

“Dua jempol deh buat kamu!”

“Wow! ternyata kamu berbakat!”

“Hebat banget sih kamu!”

dst…

adalah beberapa kalimat sanjungan untuk memantik semangat anak. Selain berupa pujian, kita juga bisa mengapresiasi anak dengan memberikan hadiah. Baiknya sih hadiah tersebut bersifat “surprising”. Kita tidak dulu menjanjikan sesuatu. Selain takut tak terbukti, kesannya anak akan termotivasi untuk mendapat hadiah tersebut bukan untuk belajar. Terus, sebaiknya jangan tak terlalu sering menggelontorkan hadiah. Sebab, kemungkinan besar nanti anak akan mau menyelesaikan tugas jika ada hadiah saja.

#5. Untuk Orang Tua, Ajak Anak ke Rumah Orang Lain atau Ke Tempat Umum

Jika anak kita pasif, kita bisa sering-sering mengajak mereka ke rumah orang lain dan tempat umum. Misalnya ke rumah saudara, teman, tetangga, tempat wisata, pasar, dst. Hal tersebut menjadi salah-satu jalan agar anak terbiasa dengan tempat baru, orang baru, lingkungan baru, kebiasaan baru dan perbedaan-perbedaan. Jika begitu, insya Allah kalau anak besar nanti bisa cepat beradaptasi dengan lingkungannya.

#6. Lakukan Kegiatan Fisik

Melakukan kegiatan fisik… selain berolahraga dan bisa menstimulasi motoriknya, bisa juga meningkatkan rasa percaya dirinya. Kegiatan fisik tersebut bisa kita lakukan di rumah maupun di luar. Misalnya senam, menari, naik sepeda, bermain layang-layang, bermain sepakbola atau melakukan permainan yang berbentuk “team”. Itu lebih baik. Sebab, anak semakin berpeluang untuk belajar berinteraksi dan berkomunikasi.

Melakukan interaksi, komunikasi dan sosialisasi memang penting demi menunjang kehidupan sosial anak. Untuk itu, tips-tips di atas layak kita pertimbangkan. ^_^ [#RD]

*December 10, 2013
2 Comments
  1. Ulfa
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *