Unrequited Love; Benci sih, Tapi…

Unrequited Love; Benci sih, Tapi…

unrequited love

“I know, there’s nothing worst than unrequited love…”

Petikan lagu The Corrs (Love to Love You) di atas bermakna “Aku tahu, tak ada yang lebih buruk ketimbang cinta yang ditolak.”

Yang setuju kemungkinan besar lagi ngalamin, sedangkan yang gak setuju kemungkinan besar lagi statis-statis aja tuh! 😀 Setuju atau tidak, memang masih sangat buanyak hal yang amat buruk. Tapi salah satunya memang cinta yang tertolak, sih. Duuu, pasti sakit dan nyesek.

Ceritanya saya membaca rubrik psikologi di Majalah Annida edisi lama. Seorang laki-laki (sebut saja Kumbang) begitu mencintai seorang gadis (sebut saja Bunga). Dia pernah menyatakan cinta dan ditolak. Namun penolakan itu tak lantas membuatnya putus asa, terlebih Bunga memang belum menikah dengan siapapun.

Untuk kedua kalinya dan dengan lebih serius, Kumbang kembali menyatakan cinta. Jawabannya agak berbeda. Kali ini Bunga meminta Kumbang untuk datang ke rumah, mungkin sekalian ketemu orang tuanya. Atas jawaban itu, Kumbang sedikit optimis dan senang, seakan harapannya tinggal sejengkal untuk digenggam. Tapi apa yang terjadi?

Si Kumbang gigit jari sebab Bunga kembali menolaknya mentah-mentah. Bahkan kali ini ‘live’ di rumahnya. Alhasil, retaklah hati Kumbang. Ia tak habis pikir-pikir, tega juga Bunga mengundangnya ke rumah hanya untuk menelan penolakan. Ia begitu sakit, nyeri tak terperi.

Tapi dasar cinta. Awalnya Kumbang begitu emosi, tapi lama-lama perasaan itu kembali hadir. Bagaimanapun, ia tak bisa menampik bayang-bayang Si Bunga. Gelisah rasanya. Padahal Kumbang berdoa supaya dijauhkan, sementara pikiran dan hatinya terus saja dicekoki pesona SI Bunga. Ia begitu menderita dan mengharap ‘nasihat’ dari pengurus rubrik psikologinya, Mbak Inna Muthmainnah, apakah dirinya harus kembali ‘mengemis’ cinta? Atau kalau mau melupakan, bagaimana caranya?

Si Mbak kelahiran 1977 ini pun memaparkan pendapatnya, more or less, sebagai berikut:

Mencintai adalah naluri setiap hati. Namun cinta adalah perasaan yang privat bagi seseorang. Dan soal Kumbang, setiap orang yang pernah kasmaran tentu memahami bagaimana itu suka-dukanya mencintai. Kerap kepikiran, konsentrasi terganggu, berangan yang bukan-bukan, senyum-senyum sendiri lalu lama-lama malah terisak juga.

Namun Kumbang harus sadar satu hal; mencintai seseorang tak serta merta memaksa dia untuk balas suka juga. Sekali lagi, cinta adalah urusan intern setiap orang. Kita tidak bisa mengintervensi sebuah hati; kamu harus suka atau kamu harus benci, titik! Sebagaimana diri kita saja. Tak ada yang mendikte kita harus suka siapa, harus benci siapa. Semuanya mengalir, bahkan tanpa kita pahami alasannya!

Karenanya, tak ada hal paling bijak selain menghormati keputusan Bunga, bukan malah larut dalam kebencian padanya. Terlepas dari cara penolakannya, paling tidak Bunga tidak ‘menggantungkan’ harapan alias PHP. Ia sudah menjawab dengan tegas, tinggal bagaimana Kumbang legowo dan menghargai jawaban itu. Bagaimanapun, Kumbang tidak bisa memaksakan kehendak Bunga.

Mbak Inna juga tidak menyarankan Kumbang untuk ‘nembak’ yang ketiga kalinya. Sebab, penolakan kedua sudah sangat jelas, kalau Bunga tidak bisa menerimanya. Daripada rasa sakitnya begitu bertubi, ia menyarankan agar Kumbang mencari yang lain saja. Lagipula, barangkali Allah Swt memang tengah memapah Kumbang untuk menjemput calon istri lain, yang lebih baik dan lebih bisa mencintainya ketimbang Bunga.

Adapun cara melupakan seseorang, hal ini hampir tidak mungkin. Memori kita sudah di-set sedemikian canggih, sehingga bisa menyimpan file-file seseorang, tempat, kejadian dan bergumpal-gumpal kenangan di dalamnya. Dan lagi, menurut Mbak Inna, sosok Kumbang akan kesulitan menepis bayangan Bunga sebab doanya tidak sejalan dengan kenyataannya. Artinya, Kumbang terus berdoa agar hati dan pikirannya dijauhkan dari Bunga, tapi dirinya sendiri terus memikirkan, membicarakan bahkan (mungkin) mengharapkan Bunga.

Yang bisa diandalkan yaitu meyakinkan hati untuk berdoa, mengalihkan segenap pikiran/hati dari Bunga. Perbanyak ibadah, kesibukan dan pergaulan. Insya Allah. [#RD]

Referensi: Inna Muthmainnah, Rubrik Curhat Annida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *