Untukmu, Jilboobs

Untukmu, Jilboobs

fenomena-jilboobs

Jilboobs? Apaan sih kamu? Kamu istilah pendatang baru, ya? Atau…?

Satu kata ini tiba-tiba bertebaran di seluruh media sosial, blog, portal-portal berita, pokoknya di mana-mana.

Jujur, sebenarnya aku ragu untuk menuliskan tentang tema ini. Ada perasaan marah, prihatin dan malu luar biasa. Ini isu yang sangat sensitif. Dan lagi, aku jadi berkaca pada diri sendiri; apa selama ini sudah berpakaian sesuai syar’i?

Tapi lama-lama, hati-pikiran-tanganku gemas dan ingin meluapkannya. Sebab, ini isu yang amat penting. Dan sebelum lebih jauh, lebih emosional, mari kita berbincang dulu soal definisi dan asal mula tercetusnya istilah jilboobs.

Secara harfiah, arti atau makna jilboobs yaitu jilbab dan boobs yang berarti (maaf) payudara besar. Kini orang menyematkan sebutan jilboobs untuk gaya jilbab yang memang trendy tapi tidak syar’i. Cirinya – sesuai dengan makna jilboobs – yakni menutup kepala, tapi semakin ke bawah, semakin terbuka. Maksudnya, bagian dada, kaki dan juga (maaf) pantat terlihat begitu kentara. Tapi, tapi, tapi, apa semua yang memakai jilbab sengaja melakukan itu? Wallaahu’alam. Nah, di sinilah prasangka kita diuji.

Sebetulnya fenomena jilboobs sudah lama ada. Dulu, semasa aku sekolah (entah setingkat SMP/Mts atau SMA) ada yang namanya istilah “baju leupeut” atau “jilbab leupeut”. Bagi non-sunda, mungkin istilah ini cukup asing. “Leupeut” itu sejenis lontong yang dibungkus dengan begitu ketat. Sehingga perempuan yang memakai baju amat ketat, disebut sebagai pemakai “baju leupeut”. Begitupun dengan jilbabnya. Kini, istilah baru dengan makna yang sama muncul kembali.

Sebenarnya agak miris juga. Padahal, sekarang-sekarang ini kemajuan jilbab semakin buaaanyak. Jilbab sudah dijadikan “pakaian favorit” sebagian tokoh kita, jilbab sudah dilegalkan di beberapa instansi/negara yang sempat melarangnya, jilbab sudah tak dianggap sebagai sesuatu yang kuno (bahkan sempat jadi quote Hitam Putih, yang intinya bahwa pakaian tertutup adalah awal kemajuan berpikir seseorang, dan sudah sangat bejibun para designer baju muslim yang susah-payah berkarya. Mereka berjuang mengenalkan baju muslim yang kekinian, namun tetap sesuai aturan Islam.

hijab-syari

Tapi di saat yang sama, dhuaaar! Muncul jilboobs.

Di mana-mana muncul poto-poto wanita yang memakai kerudung, namun ketat – sebagian ada yang transparan – kurang tertutup ke bagian-bagian sensitif. Ada yang memang asli dan banyak juga yang kelihatan sekali merupakan editan. Bahkan ada komunitasnya (grup atau fans page) dengan “pengikut” yang terbilang cukup banyak. Mereka begitu update dan bahasanya cukup provokatif. Nahasnya, semua postingan mereka tak pernah sepi like dan komen. Duh.

Kok aku tahu? Well, harus jujur. Aku sempat “tersasar” pada link-link jilboobs itu. Pertama kali melihatnya, tentu langsung terperanjat. Sempat emosi, namun kemudian berubah jadi malu dan kasian. Itu poto siapa? Apa iya semuanya sengaja ngirim poto ke admin, lalu meminta pengelola untuk menyebarluaskannya. Kalau poto itu diambil tanpa izin? Duh, repotnya. Atau, apa memang ada ‘oknum’ yang berpose menantang seperti itu?

Dan tak perlu waktu lama, orang-orang (tak pandang non muslim bahkan muslim itu sendiri) langsung menghujaninya dengan hujatan. Amat banyak yang berkomentar, “Mending telanjang sekalian daripada berjilbab tapi modelnya kayak gitu (jilboobs)”. Atau, “Idih, munafik!”. Atau, “Dasar cewek sy*t*n!”, dan banyak lagi. Mungkin saat nulis komen demikian, kita “sedang lupa”, sesempurna apakah kita dibanding mereka?

Sebagai perempuan, jiwaku sempat mengerut. Para perempuan yang sudah merencanakan akan berjilbab takutnya beranggapan, ‘mau pake jilbab pendek dulu takut di-bully, mau pake jilbab batman atau kalong takut dianggap aneh, ah mending gak berjilbab aja deh!’

Meski demikian, ada pula yang komen, “semua butuh proses, termasuk perbaikan diri.” Yah, kita berpikir positif saja. Mungkin saja para ‘jilbaber nakal’ itu belum tahu pakaian syar’i sejak dini. Mereka butuh binaan, bukan cercaan. Mereka perlu bimbingan, bukan kutukan.

Jilboobs. Keberadaanmu betul-betul meresahkan. Kamu ibaratnya sebagai suatu cidera, yang perlu diobati bukan justeru di-bully. Tapiii terima kasih ya, jilboobs. Karenamu, kami jadi termotivasi untuk introspeksi diri.

Wallaahu’alam. [#RD]

*10 Agustus 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *