Welcome Back, Teaching and Learning!

Welcome Back, Teaching and Learning!

welcome back teaching and learning

Jumat, 18 Oktober 2013

Usahaku untuk tak terlambat, awalnya, seperti akan berhasil. Namun di tengah perjalanan, aku mesti menunggu salah seorang kawan terbaikku (N). Sebagai junior, aku perlu melakukan “briefing” dengannya. Khususnya tentang materi ajar. Maklum, tujuanku adalah “menyambung” apa yang sudah diajarkan kawanku yang lain (T). Malah aku pengin bicara banyak soal siswanya, fasilitasnya, kebiasaannya, dst. Namun, ah, tentu tak cukup waktu.

N dan T telah terlebih dahulu mengabdi di suatu lembaga pendidikan, yang kebetulan, diketuai oleh dosen kami. Mereka mulai aktif ketika melaksanakan PPL di SMAN D, sekolah yang memang berdekatan dengan lembaga pendidikan tersebut. Beberapa bulan sebelumnya, N telah memperkenalkan lembaga pendidikan itu padaku. Bahkan, aku telah bertandang ke sana. Hanya mengobrol dengan pimpinannya, bukan untuk mengajar.

Hari ini aku memperkenalkan diri. Menghadapi siswa/i, akrab dengan spidol – white board, menerangkan materi, menghafal nama-nama siswa/i, mengidentifikasi karakter dan kemampuan mereka, tanya-jawab, sedikit bercanda, membimbing latihan, menghampiri mereka satu-persatu, mengevaluasi, pokoknya berkecimpung dengan dunia mengajar – belajar lagi.

students

Di lingkungan baru, ada beberapa hal yang mesti aku pelajari:

  • Sebagai “orang baru”, aku masih menerka-nerka bagaimana mesti menempatkan diri. Memprediksi boleh saja ‘kan, Bro-Sist? Asal tidak langsung men-judge.

Khususnya dengan para admin yang memang asing. Kami hanya terlibat obrolan ringan dan pendek-pendek saja. Kalau dengan staf pengajarnya… Sebagian ada yang memang asing, ada teman-teman seangkatan dan sebagian lagi kakak tingkat. Sepertinya mayoritas telah kukenal.

Sebelum nyaman mengajar, bagiku penting sekali jika kita menciptakan kenyamanan dengan rekan kerja juga. Merekalah “pendamping kerja” kita. Kalau menyenangkan, insya Allah langkah selanjutnya akan ringan. Bersaing untuk tanggung jawab, memberikan performa terbaik, saling membantu dan bukan berkompetisi untuk kemudian saling menjatuhkan.

Barulah aku masuk pada hal yang lebih kompleks. Tentu saja – berkaitan dengan siswa/i, pelajaran, ruangan/kelas, suasananya, dst.

  • Sedikit pengetahuan tentang lembaga pendidikan tersebut memang cukup membantu. Jadinya aku tak perlu kebingungan dengan netbook dan laptop bernomor, salah-satu kelas yang ternyata menjadi jalan menuju kamar kecil, tentang durasi mengajar, tentang sistem belajarnya yang terbagi-bagi, dst.
  • Meski orang baru, namun percakapan mestilah aku ciptakan. Sesekali aku ajak anak-anak untuk bercanda, tanya jawab tentang data diri masing-masing, bahkan tentang hal-hal yang tak penting. Dengan begitu, aku harap, kami tak saling canggung.
  • Maklum saja jika kita kadang belum paham semua hal. Untuk itu, perlu bertanya. Beberapa kali aku mesti bertanya tentang hal-hal yang memang kurang dipahami, misalnya tentang absensi, tentang aturan jika anak tak hadir dan tertinggal, tentang materi yang sudah dipelajari, dst.
  • “Keliling” di ruangan belajar, dari KKN tahun lalu, memang selalu aku praktikkan. Sepertinya tak bisa jika aku mesti duduk berdiam diri di bangku tutor, menunggu anak-anak selesai mengerjakan latihan, lalu menghampiri jika ada yang bertanya saja. Kebiasaan berkeliling itu ternyata sangat efektif. Tidak saja untuk tahu siswa (kemampuan dan karakternya), tapi juga mendekatkan diri.
  • Sesekali, khususnya ketika kita merasa ada ketidaknyamanan, sugestikan saja pada diri sendiri bahwa semua ini akan berubah jadi menyenangkan. Termasuk ketika aku menerangkan, dalam hati aku sangat yakin mereka paham. Sebab respon mereka memang bagus, namun begitu keliling ke bangku belakang, ada lagi yang bertanya bahkan belum melakukan instruksiku. Daripada memperburuk mood, hmm, “stay cool” dan yakinkan bahwa hal itu wajar. Berarti siswa itu memang butuh perhatian lebih. Heuheu
  • Beginilah aku. Meski aku tengah menghadapi dunia baru, namun diriku tetaplah aku. Mesti tetap jadi diri sendiri, tak perlu merubah identitas dan karakter. Biar saja menjadi aku apa adanya, namun tentu dengan mempertimbangkan adat-istiadat lingkungan baru kita itu. Dengan begitu, insya Allah, kita akan nyaman.

Hum… welcome back, teaching and learning!

Mudah-mudahan waktu membawa berita baik dari semua proses belajar-mengajar kita. Aamiin. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *