Welcome, Real Life!

Welcome, Real Life!

selamat datang real life

Rabu, 21 Mei 2014

Sudah terbayang, minggu ini akan cukup melelahkan. Usai istirahat dari Sabtu – Selasa, aku akan mengajar dari Rabu sampai Minggu. Dan, dimulai dari hari ini. Bismillaah!

Aku naik elf dan kusadari usahaku berlomba dengan waktu sangat payah. Angkutan umum yang kunanti memang tak terprediksi. Kadang muncul dengan cepat, kadang juga baru tersedia setelah kaki pegal berdiri. Alhasil, tiba di TKP, kulongok jam dan keterlambatanku menginjak angka 20 menitan. :’(

Kutahu ketika berjalan melewati warung Si Mbak, ada anak kursus membuntuti dari belakang. Mungkin mereka sudah menunggu sejak lama atau bagaimana, entahlah. Aku hanya bisa mempercepat langkah, sambil kurencanakan akan menambah durasi mengajar demi menambal kesalahan. Terlebih lagi anak-anakku saat ini yaitu kelas XII. Entah kenapa, ada rasa iba tersendiri pada mereka. Serasa ke adik sendiri.

Begitu aku masuk ke LKP, tanpa waktu lama, anak-anak sudah ikut masuk ke ruangan. Aku taksir, mereka sudah menunggu di suatu tempat. Namun yang kuherankan, mereka selalu tidak langsung masuk ke LKP, melainkan menunggu instruktur datang. Hummm…

Kedatanganku dengan napas terengah-engah itu tak berbuah manis. Salah seorang admin belum datang, padahal beliau menjadi kunci fasilitas les komputer. Karenanya, kegiatan belajar-mengajar kembali mesti ter-pause keadaan. Huft!

Yang kubisa hanya duduk diantara anak-anak, melakukan lip service, ke meja admin, ngobrol sama Pak Iwan, menyalakan laptop yang ada dan melihat-lihat latihan pertama PPT gelombang dulu. Hasilnya nihil, sebab semua dokumennya sudah ‘diamankan’. Heuheu

“Ohya, hari ini sudah masuk Microsoft Power Point, ya?” tanya Lia, begitu aku membuka program PPT.

“Iya.”

Agak terlambat ketika Pak Andi tiba dan les baru dimulai. Awalnya aku sedikit gusar, hendak menyampaikan apa dahulu saat pertama kali belajar PPT. Namun berbekal pengetahuan mereka dari sekolah, aku memberi latihan yang langsung sedikit lebih rumit. Kebetulan ada Tria, seorang anak yang ikut gelombang sebelumnya. Usai meminta izinku, diapun ikut mengotak-atik laptop. Sengaja kubiarkan ia larut dalam latihan dan ingatannya sendiri. Bagaimanapun, semua ini pernah ia pelajari. Kebetulan sekali lembar latihan yang berwarnanya terbatas. Karena itu, mesti ada seorang yang menerima lembar latihan dalam bentuk potokopian.

“Kamu aja yang soalnya potokopian,” Aku menyerahkan soal hitam-putih (aja) itu pada Nitha, sementara yang lainnya berwarna.

“Uh, pilih kasih!” gerutunya, namun tak terlalu kutanggapi, “Sudah biasa!” katanya lagi, hampir sering dia mengatakan itu. 😀

“Cie ada alumni!” goda Pak Yudi saat kami tengah melangsungkan belajar. Seruannya ditujukan pada semua anak kelas XII.

Grrr!

Tawa anak-anak serasa hambar, mungkin mereka masih berat melepas status belajar. Sekaligus, merasa asing jika menanggalkan hal-hal terkait belajar-mengajar.

“Oh iya, ya! Selamat udah lulus, ya?” ucapku, jelas terlambat.

“Iya, Bu!”

“Tapi pusing, Bu!” seru Tria.

“Waktu sekolah pusing, udah lulus, masih pusing juga?” kataku, pura-pura tak memahami betapa ‘galau’-nya jadi lulusan baru.

“Pusing, mau kemana dan ngapain?” Nitha yang menjawab.

“Halah! Sok dewasa!” umpatku dan mereka tertawa, sementara Nitha hanya nyengir.

Tentu, sebelum mereka berada di posisi ini, aku sudah lebih dahulu merasakannya. Betapa setelah keluar sekolah, kita bagai burung yang dilepas dari sangkar. Yang biasanya disuapi, main-main, bernyanyi, dan menikmati dunia luar dari dalam… kini mesti keluar, bertebaran, menghampiri semesta pilihan. Dan, kita harus memilih pilihan-pilihan yang ada, lalu mempertanggungjawabkannya.

Jadi apa mereka nanti, terserah. Yang penting sesuai hati, sesuai restu ortu dan tentu tak menyalahi ketentuan Allah Swt. Namun, aku berdoa; mudah-mudahan terbersit dalam hati adik-adikku itu untuk menjadi pengusaha atau pebisnis saja, bukan malah menjadi pekerja pada umumnya.

Saat-saat jam belajar sudah habis, aku membebaskan mereka untuk mereka-reka hasil kerjanya. Meski tak dipungkiri, ada yang malah tertawa-tawa atau mengobrol ngalor-ngidul. Seperti Lia dan Ai, mereka terus saja cekikikan. Ternyata mereka tengah membuka webcam dan aku, Nia juga Nitha – yang kebetulan masih sedang membahas slide – ikut terdeteksi mata kamera. Haeh!

“Kalau udah, boleh di-save, boleh pulang,” kataku, sambil kuotak-atik pekerjaan Ikhwan, anak didikku yang lain. Kebetulan dulu dia berpesan agar hasil kerjanya dalam materi fungsi IF And & Or dikoreksi, sebab hasilnya selalu keliru.

“Sudah, yuk? Si ibunya sudah ngusir,” kata Nitha.

“Bukan gitu…” Aku mengklarifikasi dengan kikuk, ah semoga saja mereka tak terprovokasi.

Mereka pergi dan aku bergumam, welcome to the real life, dear.

“Oh ya, Bu, ada lagi yang daftar les,” kata Pak Iwan, sedikit mengagetkan, “Tapi kebanyakan pengin ngambil komputer. Bisa lah tiga kelas lagi.”

“Waduh?!”

“Iya mau satu instruktur saja gak mungkin,…”

“Pak Ikbal?”

“Capek, katanya, jadi gak bisa memaksakan juga.”

“Kalau saya rekomendasikan orang lain, boleh?”

“Boleh aja, barangkali nanti ada murid-murid dan jam-jam baru, ‘kan bisa dilempar ke instruktur yang baru.”

“Iya… iya…” kataku sambil mempertimbangkan, pada siapa lowongan ini kutawarkan.

Dalam hatiku ada dua opsi; mencomot salah-satu murid yang kuanggap mumpuni atau menggaet seorang kawan saja? Aku tertarik pada keduanya. Namun setelah dipikir-pikir, lowongan pekerjaan ini akan kutawarkan pada seorang kawan. Kebetulan dia pernah memberi signal ketertarikan untuk masuk ke LKP ini. Mudah-mudahan keputusan cepatku ini tepat! [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *