Yudisium; Seramnya Gelar “S.Pd”!

Yudisium; Seramnya Gelar “S.Pd”!

beratnya gelas sarjana

Hari ini bakal jadi salah-satu hari yang cukup berpengaruh. Ya, jadwalnya sekarang adalah yudisium. Kebetulan di kampus juga tengah dilaksanakan sidang skripsi gelombang 1, sesi 2. Maka, suasana di kampus pun cukup ramai.

Karena yudisium dilaksanakan usai sidang gelombang 1 sesi 2 selesai, aku berangkat dengan santai. Sekitar pukul 13.40, aku bertukar pesan dengan Teh Pera untuk berangkat. Hampir bersamaan, kami datang. Ternyata suasana kampus makin diramaikan dengan datangnya beberapa ‘anak’ Pak I yang akan bimbingan. Karena sesama anak Pak I, aku pun bercengkrama dengan beberapa diantara mereka.

“Doakan mudah-mudahan hari ini di-acc, ya. Biar cepat nyusul,” begitu kata beberapa diantara mereka.

“Aamiin… biar nanti lebaran tuh bisa bahagia total, tanpa bayang-bayang skripsi. Hehehe.”

Ketika aku datang, peserta sidang yang tengah di ruangan adalah teman bernomor urut 16. Demi menunggu sampai yang terakhir, 20, kami pun sambung-menyambung mengobrolkan banyak hal, terutama tentang jalannya sidang. Beragamlah pengalaman mereka tentang hal tersebut. Sayang… dari 20 orang peserta, kabarnya ada yang mesti mengulang.

“Yang udah sidang, silakan menuju aula…” begitu instruksi ketua prodi dan disambung beberapa staf-nya.

Aku dkk yang telah menyelesaikan sidang pun berbondong-bondong ke aula, meninggalkan teman-teman yang masih menunggu Pak I untuk bimbingan. Ah, mudah-mudahan mereka segera menyusul sidang. Aamiin…

Di aula, bukannya langsung dimulai, yudisiumnya ‘molor’. Tak ayal, beberapa diantara kami mengisi waktu masih dengan bercengkrama, poto-poto dan sharing tentang sidang. Mungkin pihak prodi tengah me-rekapitulasi hasil 40-an orang peserta sidang. Hanya saja, tahu kesal begini… mungkin aku lebih memilih menunggu di luar. Hehe

Kebetulan di luar ada beberapa teman yang belum sidang. Aku pun menghampiri mereka. Ketika bertemu, hal perdana yang mereka cecarkan adalah pertanyaan seputar sidang. Wajar, kalau belum kebagian memang suka galau. Heu. Jujur saja, kubeberkan bagaimana proses sidangku sambil kusisipkan pesan agar tetap tenang dan melakukan persiapan. Ketika mengobrol dengan mereka, nampak rekan-rekanku di aula tengah poto-poto. Ouch!

Matahari makin membungkukkan diri. Detik-detik yudisium pun mulai tercium. Pembawa acara masuk diiringi Pak Kepala Prodi dan Bu Dekan. Kedatangan mereka bertiga cukup berhasil membuat suasana senyap. Acara pun dimulai.

“Ke mana saja? Tadi poto-poto malah gak ada?!” tanya Teh Pera.

“Hehe, ngobrol di luar…”

Singkat saja Bu Dekan memberi sambutan. Selain memberi selamat, beliau pun merasa sangat puas sebab sidang berjalan dengan baik lagi memuaskan. Tak lupa, beliau memberi pesan supaya ketika kami pulang bisa menyampaikan salam pada kedua orang tua kami dan segera mengucapkan terima kasih kepada mereka. Bagaimanapun jasa mereka untuk menguliahkan kami sangatlah besar.

Sarjana Muda

“Dari 40 peserta sidang, 3 diantara kalian mesti mengulang,” tepat ketika uraian kalimat ini terselip diantara sambutan Bu Dekan, kami tertunduk.

Rasanya tak utuh kebahagiaan kami apabila masih ada rekan seperjuangan yang tak sama-sama merekahkan senyuman. Hambar sekali binar mata kami jika mesti beradu dengan air mata teman sendiri.

“Soal penguji yang kecewa karena hasil karya kita… wajar. Kadang ada beberapa kesalahan yang LUPA kita kerjakan, bukan SENGAJA kita lakukan,” lanjut Bu Dekan.

“Yang jelas… sekarang kalian hanya diuji oleh tiga orang penguji. Belum seberapa. Beberapa saat setelah keluar dari ruangan sidang, saat itu pula kalian telah diuji oleh dunia. Oleh masyarakat. Lebih kejam dan penuh tantangan!” kata beliau lagi yang seketika terpahat di hati.

Dari uraian sambutan beliau, ada juga beberapa hal berkaitan dengan gelar Sarjana Pendidikan, ‘S.Pd’, yang membuatku… jujur, cukup merasa ‘seram’. Bahwa:

– Sarjana Pendidikan yang tentu diproyeksikan sebagai seorang guru bakal di-cap masyarakat sebagai orang yang pandai. Maka kalau bisa, jangan serba tak tahu. Buka diri untuk mengikuti zaman dan belajar dari segala hal dengan baik dan benar.

– Guru adalah profesi yang mulia, sebab menjadi pencetak generasi penerus bangsa. Namun jika guru tak kompeten, maka benih-nya pun akan ikut tak berkualitas. Tak heran, sekarang ini pemerintah tengah fokus mengembangkan potensi dan kualitas guru.

– Guru dipandang sebagai seorang tauladan. Gerak-gerik, penampilan dan tutur katanya kerap dijadikan cerminan. Maka, kita mesti bisa mengendalikan segalanya.

– Profesi guru memang baik dan terhormat, maka tak heran… sekalinya guru tergelincir dalam kenistaan, keadaannya akan jungkir-balik. Buruk dan dilecehkan. Hati-hati bersikap dengan gelar sebagai pendidik.

– Dst. (mungkin banyak sekali yang bisa menambahkan)

Pengumuman dilajutkan dengan menyebutkan 3 besar mahasiswa/i ber-IPK tinggi. Mereka adalah L, E dan S. Selamat buat kalian. Keren sekali!!!

Tak lama kemudian, kami semua telah menggenggam amplop bertuliskan keterangan lulus atau tidak dengan beragam IPK. Alhamdulillaah… tangan kami saling berjabatan. Raga kami saling berangkulan. Meski ada beberapa yang tak saling kenal nama, namun semuanya saling menumpah-ruahkan rasa syukur dan kebahagiaan.

“Hey,” sambut Dewi, kami langsung saling mengucapkan selamat. Aku baru sadar kalau di hari yudisium ini belum berkomunikasi dengan salah-satu The Deixis Team itu. Hehe

“Ayo dipoto dulu, tadi gak ada sih…” Teh Pera bilang sambil memegang ponsel yang telah siap menjepret. Aku nurut. Tentu saja, teman-teman The Deixis Team sangat berpengaruh dalam proses pengerjaan skripsi. Makanya, nama-nama mereka pun aku sebut dengan gamblang di lembar acknowledgement skripsi. ^_^

Pera_Dian_Dewi_Pasca Yudisium_2013-07-21 17.19.09

Meski demikian, euphoria kebahagiaan itu tak mesti kami gembar-gemborkan dengan berlebihan. Karenanya, aku pribadi memilih untuk tidak ikut mempublikasikan kelulusan ke ranah social media. Cukup pada ibu dan beberapa keluarga atau teman yang bertanya. Bagaimanapun, ada beberapa kawan yang ternyata mesti memperpanjang perjuangan. Heu

Akhirnya, mudah-mudahan kita bisa amanah. Aamiin… [#RD]

Gambar: Google Image dan koleksi poto pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *