Berharap Dimaafkan Tanpa Berkata “Aku Minta Maaf”

Berharap Dimaafkan Tanpa Berkata

“Aku Minta Maaf”

Berharap dimaafkan tanpa berkata_Aku Minta MaafKamis, 8 April 2015

Suasana pagi di hari ini begitu menyebalkan. Daku marah dan kecewa sama dua adikku. Sama adik pertamaku, Risal, daku sudah marah diam-diam dari hari Jumat dulu. Dia keras kepala, tetap saja naik gunung. Daku enggak suka, tapi juga enggak bisa apa-apa. Alasannya karena fisik adikku enggak setangguh pendaki-pendaki lain. Alasan lain, karena dia ‘tega’ mengesampingkan kuliah yang mestinya jadi prioritas. Daku enggak suka.

Sama adik yang kedua, Beben, karena dia tidur lagi. Padahal salah-satu diantara mereka mestinya bertugas membuka kios. Namun sampai daku selesai ngepel dan mandi, kunci kios masih ada di tempatnya. Matahari sudah makin terik, dan keduanya malah tidur lagi. Di pagi hari. Daku enggak suka. -_-

Daripada emosiku meledak, daku bergegas ke kios sendirian. Pasang fake smile ketika berpapasan dengan orang atau menjawab singkat ketika ada yang menyapa, padahal hatiku lagi sibuk menggerutu. How could you do this to me, my little brothers? How could you!!! Ugh.

Daku juga bertekad akan buka-tutup kios sendiri, mulai besok dan seterusnya. Daku bakal menyelesaikan agenda ngepel lebih awal dan segera pergi ke pasar. Akan kutunjukkan betapa marahnya daku sama mereka.

Karena sibuk jaga kios, karena ditemani Mimih dan karena menulis di sela-sela bekerja, hatiku agak baikan. Tapi daku enggak yakin bisa cepat-cepat memaafkan mereka. Benar saja. Ketika di rumah, kami saling diam. Ya, daku seringnya mewakilkan perasaanku sama sikap diam. Termasuk ketika marah. Mudah-mudahan diamku enggak diusik. Suka metetup-letup, soalnya.

Namun sesuatu membuat hatiku luluh. Adik pertamaku ternyata tidur lagi karena dia sakit. Badannya panas dan nyeri ketika menelan. Daku segera bilang sama Mimih supaya Risal diberi madu, berkumur dengan air garam hangat dan minum yang banyak. Sementara adik keduaku tidur karena… alasannya agak konyol. Dia menonton Ega Kuningan dalam suatu kontes dangdut di tv nasional. -_-

Yang membuat hatiku meleleh lainnya yaitu gesture mereka yang menandakan rasa enggak enak. Ketika daku menulis, Risal menghampiri. Daku diamkan. Dia hanya mendekat, mengotak-atik ponselnya dan menemaniku. Dia juga bilang sesuatu tentang tugas kuliahnya. Tapi daku enggak terlalu menanggapi.

Sementara Beben, dia juga ‘mengusik’ acara menulisku. Dia konsultasi soal tugas kuliahnya. Biasanya daku akan membantu merapikan atau apa, kali ini enggak. Daku menutup lembar kerjaku dan membiarkan dia mengerjakannya sendiri. Daku memilih surfing via ponsel. Jaga jarak.

Keesokan harinya, Beben bangun lebih pagi. Tapi daku yang masih dirundung kekecewaan tetap menjalankan misi untuk berangkat lebih awal. Tanpa disangka, dia mengekor. Setelah daku membuka pintu kios, dia yang beres-beres. Saat itu juga daku sudah tersenyum, tersentuh dengan usahanya. Namun daku agak keras kepala, gengsi dan tetap mendiamkan. Dia seperti paham dan ikut diam.

Ini bukan kali pertama daku tersentuh oleh kelakukan mereka yang simpel, namun manis. Dulu, daku bahkan sampai berkaca-kaca ketika bajuku yang basah karena kehujanan sudah bersih dan siap dijemur. Daku kira Mimih yang merendam dan membilasnya, rupanya bukan. Bebenlah orangnya! :’) Hmm… apa perempuan memang amat perasa, ya?

Well… Mereka salah, tapi enggak bilang maaf. Meski begitu, sikap mereka – mau tak mau – sudah mendatangkan maaf dariku, bahkan bonus rasa bersalah yang kini ada di pundakku. Karena itu, daku pengin nge-make up semuanya dengan sikap juga. Tanpa permohonan maaf, daku harap mereka memaafkanku dan meringankan rasa bersalah dalam diriku.

Beneran, ya. Kata “aku minta maaf” itu sederhana, tapi kadang sulit diucapkan ketika hubungan kita sangat erat. Kesannya itu, err… awkward. Beda sama minta maaf ala lebaran, ketika akan puasa atau ketika momen-momen lainnya. Heuheu… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *