Catatan Tutor Kursus

Catatan Tutor Kursus

Catatan Tutor Kursus

m.123rf.com

Jumat, 03 April 2015

Sangat tidak enak.

Apa? Jadi tutor kursus itu enggak enak?

Eh bukan. Jangan salah paham dulu. Baca penjelasanku dulu, ya. ^^

Sangat tidak enak merupakan rasa yang ada dalam benakku ketika hendak memposting “Catatan Tutor Kursus” ini. Daku singkat CTK, ya. Kenapa? Karena daku sudah melanggar komitmen. Dari pertama kali jadi tutor atau instruktur kursus, 18 Oktober 2013, daku sudah niat bakal ‘mendokumentasikan’ semuanya lewat tulisan.

Tapi apa yang terjadi?

I did it. Ya bentuk kalimat ini past tense, sebab daku melakukannya dulu. Sekarang-sekarang sudah enggak 🙁 tapi mau dimulai lagi, kok. 🙂

Daku agak gimanaa gitu pas menyadari mulai jarang menulis tentang yang satu ini. Tentang lembaga, tentang belajar-mengajar, tentang para peserta, tentang inspirasi yang diam-diam mengembuskan angin segarnya, tentang… segalanya. Hhh… daku jadi merasa buruk. Apalagi karena faktornya memang datang dari daku-daku juga.

Dulu, tiap pulang mengajar, daku pasti membuat catatan kasarnya. Habis direvisi, baru diposting. Kalau sekarang-sekarang ‘saingan’ sama tulisan lain. Jadinya terlupakan. Parahnya, daku malah melupakan total. Huft!

Buat nge-make up apa yang sudah terjadi, terjadilah~ hehe… daku bakal mencoba tetap menulis soal lembaga atau posisi tutor kursus. Beneran, lebih bikin beban ketika kita tidak menuliskannya. Merasa bersalah, gitu~

Well, untuk periode April 2015 ini daku diberi amanah 4 rombongan belajar atau grup. Senang sekali karena yang sekarang murid peganganku tidak terlalu banyak per-kelasnya. Pengin daku ‘sentuh’ semua, soalnya.

Mengingat yang periode Maret juga, uh, melelahkan. Mengajar full, murid banyak, lagi di puncak musim penghujan, latar belakang sekolah menengah semua, skill mereka ‘warna-warni’ dan… sendirian. Sekretaris lembaga tidak memberi kelas pada tutor lain.

Yang sekarang, keempat regu belajar itu yaitu:

  • Dua siswi MTs yang salah-satunya (maaf) tidak memiliki tangan kanan yang normal. Tadinya pihak lembaga agak ragu menerima dia. Daku yang waktu itu belum ketemu anaknya sempat meyakinkan, kalau daku pengin diberi kesempatan itu.
  • Tiga laki-laki yang secara penampilan memiliki daya tarik masing-masing. Haha… mulai ngaco, nih. Tapi memang benar. Yang satu namanya Dendi, dia masih anak SMA. Satunya lagi Arik, dia baru lulus SMA. Terakhir A Hissam. Daku panggil ‘Aa’ karena tahun lulusnya memang diatasku.
  • Lima anak aliyah campuran; Anggi, Eef, Eka, Lita dan Nurullah. Sebelumnya mereka sempat mengikuti ‘program les satu bulan’ denganku. Enggak perlu proses pendekatan, daku sudah bisa menyimpulkan kalau kelimanya memiliki motivasi besar untuk belajar. Mereka juga aktif.
  • Empat anak Aliyah perempuan; Inka, Mita, Nur sama Pepi. Grup ini juga sempat mengikuti ‘program les satu bulan’. Namun daku merasa ‘kurang dekat’, sebab waktu itu pertemuan kami enggak terlalu intens.

Sementara kelas-kelas lain yang muridnya banyak diserahkan pada Pak Ucu, kolega kerjaku yang baru. Daku memang tertarik sama fee-nya :p, tapi mengingat bulan kemarin juga melelahkan… lebih nyaman dengan pegangan yang sekarang deh.

Hambatan, tantangan sekaligus hal menarik dari regu yang daku pegang ini seputar perbedaan materi, perbedaan karakter, perbedaan pendekatan, perbedaan metode, perbedaan treatment dan jadwal yang ‘belang-belang’.

Bismillah… [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *