Hiburan di Sela-Sela Tugas

Hiburan di Sela-Sela Tugas

Acara hiburan pameran kursus dan hari kompetensi nasional

Anak Kecil Menyanyikan Lagu Barat

Malam Minggu. Masih di Festival Citylink Mall, Bandung. Tepatnya, dalam stand. *sigh*

Setelah istirahat sejenak, daku lihat para pengunjung makin membludak. Suasananya jangan ditanya lagi. Rasa penat malah bisa dialihkan oleh animo tamu stand.

“Neng, tadi waktu jaga sama Bu Awit, penjualan oleh-olehnya udah ditulis semua, ‘kan?” tanya Bu Nani.

Daku mengangguk, lalu beliau memeriksanya.

“Eh, kerupuk drokdok dijual duabelasribu?” tanyanya mengagetkan.

Daku ikutan kaget, “Iya, kenapa, Bu? Maaf, saya enggak tahu sih harga aslinya.”

Beliau tertawa, “Sepuluh ribu juga bisa, Neng!”

Daku angkat bahu, ternyata bukan persoalan besar. Jujur, daku memang tidak tahu pasti harganya, jadi hanya menebak-nebak saja. Bu Nani pernah memberitahu sekilas, tapi lupa. Hahaha. Kalau Bu Awit sedikit lebih tahu. Kecuali harga batik, kami tidak tahu harga satu persatunya, kecuali menaksir antara 85rb-120rb untuk satu atasan. Batik Kuningan memang coraknya khas dan langka. Rerata menampilkan gambar kuda, bokor dan ikan dewa yang keramat itu.

Ketika kami masih di stand, langgananku datang. Jadi dia lah ‘Si Teteh’ yang membeli kerupuk drokdok dengan harga dua belas ribu itu. Dia pun langsung menyapaku dan menanyakan kerupuk kesukaannya. Sayang, sudah habis.

Nasihat untuk yang Mau Berjualan

“Kalau Ibu mah paling enggak bisa jualan,” kata Bu Nani ketika tak ada pengunjung di stand, “Enggak kayak Bu Awit.”

Daku setuju. Daku ingat perkataan Bu Awit sebelum beliau pulang duluan jam delapan malam, “Jadi penjual itu jangan tinggal diam. Rayu calon pembeli, apalagi produk kita emang bagus…

Terus, jangan ragu untuk berkorban dikit. Sediakan buat icip-icipnya, kalau mereka puas, pasti pada beli.

Terus, jangan berhenti di satu produk. Kita ‘kan punya yang lain, tawarkan juga. Kayak tadi ibu. Setelah sukses menjual tape ketan, ibu tawarkan opak dan bilang opak sama tape ketan kolaborasi yang cocok. Eh, bener ‘kan mereka pada beli…

Sekarang suasana stand agak lesu. Daku cukup kehilangan sosok Bu Awit. Beliau memutuskan pulang duluan bersama Teh Yulia, kebetulan keduanya memiliki acara penting esok pagi.

22

Ketua DPC HIPKI Kabupaten Kuningan, daku, Pak KaBid, Bu Awit & Rekan Kerja dari LKP “SEA”.

Di dalam stand, seperti biasa kami hanya berinteraksi dengan pengunjung. Beruntung sekali ketua DPC HIPKI kami, A Fajar, pengertian. Beliau membawakan salah-satu andalan J-CO, yakni J-POP. Kami jadi enggak kesepian. Dua puluh empat ‘bayi donat’ dengan variasi rasanya sungguh jadi teman yang menyenangkan. *sendawa* *ups!*

Sudah kenyang, sudah bosan dan sekaligus sudah lega karena banyak yang jaga di stand, daku menyeringai. Diam-diam, daku kunjungi semua stand. Kali ini benar-benar bisa leluasa membuat record-nya. Dari ujung ke ujung. Semuanya lancar dan menyenangkan, kalau saja memory card di kamera digitalku ‘enggak sakit’. Hhh.

Sesekali daku ke stand, lalu ngeloyor lagi. Di sana-sini banyak ditawarkan kursus dadakan gratis; rata-rata membuat kerajinan tangan yang unik-unik dan tata boga. Daku ingin ikutan, tapi suara hati lain mengatakan kalau kaki ini mesti melangkah ke tempat lain. Well,  daku pun bergabung sama pengunjung mall dan peserta pameran lain untuk menonton apa yang tersaji di panggung utama (ihk kelihatan malesnya, ya?! Kyaaaa!).

Bukan apa-apa, di panggung juga tersedia banyak hiburan. Mulai dari penyanyi dan penghibur sukarelawan, demo kecantikan sponsor VIVA, demo menata rambut dari sebuah LKP, dll. Daku enggak terlalu mengikutinya sampai kemudian demo dari LKP musik membetot perhatianku. Peserta didik mereka bagus-bagus. Lagu yang dinyanyikan mereka juga keren-keren.

Daku menikmati penampilan anak-anak kecil yang menyanyi solo. Lagu dan suaranya aduhai. Apalagi pas salah-satu dari mereka menyanyikan Roliing in The Deep-nya Adele. Daku geleng-geleng, dia bisa melewatinya dengan bagus. Selanjutnya yaitu demo seputar table manner dari Bu Hanna Hermawan. Baca ini, ya: Etika Perjamuan Makan Malam Resmi.

Sadar sudah lama “keluyuran”, daku ke stand. Seperti biasa, rekan-rekanku jaga silih-berganti. Kecuali Teh Entin, beliau betah juga berlama-lama. Untung daku keep texting, jadi beliau tidak banyak menginterogasi seperti,

‘Dian, kamu ke mana aja sih?’.

Sangat disayangkan, dua juniorku (Dini dan Indah), pergi ke tempat saudara mereka, jadinya daku ‘terjebak’ bersama para seniorku. Meski demikian, suasananya tetap berjalan seru. Rerata mereka memang senang bercanda, apalagi Pak Adi dan Bu Iyet.

“Bu Iyet sih mana, Teh?” menyadari beliau enggak ada, daku tanya sama Teh Entin.

“Sakit ih, dia di kamer terus.”

*poor, Bu Iyet* :/

Daku sempat ke kamar dan memastikan jidat beliau memang benar-benar panas. Berdasarkan ceritanya, beliau hujan-hujanan naik becak demi ‘menjemput’ makan. Anyway, warung nasi padang mitranya memang tidak mengantarkan langsung. Huft! Namun beliau yang ceria memastikan, ‘Ibu enggak apa-apa’. Ya sudah, daku kembali ke stand.

Di stand sudah ada Pak Yudi, Teh Entin, Pak Adi dan A Fajar. Sambil jaga stand, kami juga memanfaatkan momen untuk berpoto ria sambil memamerkan banner LKP masing-masing. Numpang eksis. Hehehe. Menyadari stand Kabupaten Kuningan aman, daku jadi menyeringai (lagi). Keluyuan time! Hahaha.

Habis, gebukan musik dan tepuk tangan meriah begitu ‘mengundangku’ untuk mendatanginya. Alhasil, daku pergi ke area panggung. Rupanya sedang ada pertunjukan ini-itu dari berbagai LKP di Provinsi Jawa Barat. Ada yang menampilkan nyanyian dan tarian. Yang paling mendapat sambutan itu tarian yang dibawakan barisan anak-anak dengan kostum mereka yang lucu-lucu.

“Sekarang kita sambut semua Ketua DPC HIPKI se-Jawa Barat dalam acara fashion show!!!” MC mengumumkan.

Penonton kembali bertepuk-tangan riuh. Daku jadi Ketua DPC HIPKI-ku sendiri, “A Fajar pake baju apa, ya?!”

Masing-masing Ketua DPC HIPKI Se-Jawa Barat dipanggil. Urutannya masih sama dengan urutan lomba deville, lomba merias wajah dan lomba paduan suara (yang tidak kami ikuti :/). Kuningan kebagian nomor 24.

Suasana tambah meriah ketika orang-orang nomor 1 HIPKI di masing-masing kabupaten ‘bertingkah’. Lucu aja mereka berlenggak-lenggok, seolah-olah berjalan di cat walk. Ada yang sambil dadah-dadah, menebar senyum, menari dan membungkuk-bungkukkan badan. Pakaiannya pun beragam. Ada ketua HIPKI laki-laki yang berdandan ala perempuan, ada yang sambil memamerkan batik khasnya, memakai aksesoris ini-itu dan banyak pula yang apa adanya, salah-satunya Ketua DPC HIPKI Kuningan. Hehehe. Untung beliau bisa improvisasi dengan mencandai penonton di panggung, jadinya suasana enggak terlalu awkward.

Pertunjukan fashion show selesai, daku kembali ke stand sambil melihat-lihat hasil jepretan. Di sana masih ada rekan-rekanku yang sama. Tanpa kusangka, mereka bertanya, “Ada apa sih rame banget?”

“Jyaaah!” *keselek kamera*

Kali ini daku terkunci di stand. Pak Yudi dan Pak Adi mengaku ‘kagok’ melayani pengunjung. Untung candaan demi candaan terlontar, suasana jadi enggak terlalu boring. Belum lagi banyak camilan, ah jadi lega menunggu lama-lama.

“Woy! tadi enggak ada yang support ih!” seru A Fajar tiba-tiba, “Tadi acara fashion show Ketua DPC HIPKI dadakan. Saya cuma pake baju yang sekarang dipake,” katanya lagi sambil mematut pakaiannya.

“Udah Dian potoin, A,” Daku menanggapinya sambil mengoperasikan kamera, membuat beliau berubah kalem.

Waktu berjalan. Walau mall masih begitu ramai, daku enggak bisa bohong. Tubuhku mulai letih. Terbukti beberapa kali daku menguap. Ingin rasanya segera ke hotel dan meringkuk nyaman dibalik selimut.

Berulang kali A Fajar melihat-lihat jam tangan, “Bentar lagi tutup.”

“Jam berapa, A?”

“Jam sepuluhan lah.”

Daku lihat stand-stand lain sudah beres-beres. Kami jadi tergoda. Selain sudah malam, pengunjung pun mulai tak terlihat. Tanpa pikir panjang, rekan-rekan laki-laki merapikan isi stand. Daku dan Teh Entin sendiri sibuk melipat kebaya dan batik-batik Kuningan.

“Main dulu, yuk?!” ajak A Fajar pada semuanya.

“Ada bioskop, ‘kan?” tanya yang lain, aku tidak terlalu fokus, selain ingin istirahat.

“Ada,” jawab A Fajar, “Ke Nav aja deh!” usulannya terdengar seperti keputusan final, dan semua yang ada tak kuasa menahannya. Kami sudah tahu, A Fajar akan menanggung semuanya. 😀

“Tapi ke hotel dulu, ‘kan?” Aku memastikan.

“Ya iyalah,” Pak Adi mengangkat batik yang penuh dengan isi stand, “Ini. ‘Kan mau kita simpan dulu,” lanjutnya, aku cuma cengengesan.

Kami kemudian berjalan menuju kamar hotel. Rekan-rekan laki-laki mesti ikut ke kamar kami, mengingat barang-barang isian stand yang cukup berat mesti bermalam. Biasanya di kamar Bu Nani Cs. Namun mengingat beliau sedang ada keperluan, jadinya pindah ke kamarku dan Teh Entin. Oh ya, Teh Yulia juga sudah pulang duluan dengan Bu Awit.

knock knock knock

Ketukan pintu kami langsung dibuka seseorang, Bu Iyet. Beliau dibalut jaket dan tatapannya amat sayu. Langkah kakinya gontai. Sesaat setelah membuka pintu, badannya ambruk kembali ke atas kasur. Jadi khusus malam ini, beliaulah temanku dan Teh Entin tidur.

“Yuk!” A Fajar seriusan ngajak main.

Yang lain setuju, kecuali aku. Beneran. Hal yang aneh kalau aku nolak, tapi badan emang lagi lemah-letih-lesu-lunglai.

“Capek,” tolakku, “Aku jaga Bu Iyet aja,” alibiku.

“Ih enggak apa-apa Neng, main aja sana,” senyum Bu Iyet lemah.

“Ya udah deh jadi biar enggak keluar duit banyak,” dengus A Fajar.

“Ya udah!” sahutku.

“Aaah!” tangan Pak Adi menarik tanganku, “Ayooo!” ajaknya, membuatku yang sedang berbaring langsung duduk. Uh, annoying.

“Ayolah, Neng!” Teh Entin ikut ‘memaksa’, “Biar enggak capek, jadi perlu refreshing,” rayuannya cukup memengaruhi pikiranku.

Kembali, daku melihat ke arah Bu Iyet. Beliau mengangguk, memastikan. Aku pun langsung tersenyum, mengubah keputusan.

“Iya deh.”

Usai berpamitan ke Bu Iyet, kami melangkah keluar.

“Enggak jadi ngejaga Bu Iyet, ‘kan?” goda Pak Yudi. Daku hanya mendengus.

“Iya, enggak pura-pura simpati,” kali ini giliran Pak Adi. Daku langsung buang muka. Uh.

Sesampainya di tempat karaoke, hal yang merisihkan terjadi lagi. Kami mesti menunggu setengah jam! Alhasil kami menghabiskan waktu dengan mengobrol, melihat pamflet ini-itu, dan mengoperasikan ponsel masing-masing. Khusus daku, setiap menitnya dihiasi dengan menguap. :O

Aneh, tapi nyata. Begitu tiba giliran kami, jam 23.00, daku yang langsung semangat. Malah daku yang pertama kali membawakan lagu. Track perdana yaitu Map-nya Maroon Five. Wkwk… Suara jelek yang memaksa.

2

Karaoke Pakai Batik? -_-

Walau sempat terjadi gangguan pada salah-satu mikrofon, namun interiornya cukup nyaman. Mereka juga menyediakan teknologi layar sentuh dengan pilihan lagu yang cukup lengkap. So far, so good.

Masing-masing dari kami memilih-milih lagunya. Campur-aduk. Ada yang lagu-lagu barat, lagu pop Indonesia lawas dan terakhir dangdut. Daku menyanyikan solo I love Like A Love Song-nya Selena Gomez, duet Take Me To Your Heart-nya M.L.T.R, duet Keramat-nya H.Rhoma Irama, duet Don’t You Remember- Adele, duet Cinta Satu Malam-nya Melinda, duet Minyak Wangi-nya Ayu Ting-Ting, Kereta Malam, dll.

Sementara daku mesti bergoyang-goyang, tepuk tangan sambil ikut-ikutan nyanyi saja (walau salah) ketika rekan-rekan menyanyikan lagu-lagu Broery, Dewi Yul, Doel Sumbang, Wali dan beberapa penyanyi pop tanah air. Kami memilih lagu-lagu tersebut hanya sebatas hiburan saja. Ketika waktunya mepet, track-track yang kami nyanyikan full of dangdut.

“Tadinya mau bentar, eh malah udah dua jam!” seru orang yang menraktir.

Daku mengangkat alis begitu melihat penunjuk jam di ponsel; 00.48 WIB. [#RD]

~

 Catatan: 29 November 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *