Kalau Diundang Perjamuan Resmi, Etika Makannya Gimana, ya?

Kalau Diundang Perjamuan Resmi, Etika Makannya Gimana, ya?

etika makan dalam perjamuan resmi, table manner

sg.theasianparent.com

Masih dalam rangka Pameran Kursus dan Hari Kompetensi Nasional 2014, tepatnya di Festival Citylink Bandung. Daku tengah duduk di deretan kursi penonton. Kebetulan kali ini ada demo.

Kok kayak pernah ketemu, di mana, ya?” Daku bertanya-tanya sambil melihat sosok wanita di depan panggung.

Beliau sudah cukup berumur, wajahnya Indo dan rambutnya blonde alias pirang. Setelah sekian lama mengingat-ingat, daku baru sadar kalau beliau pernah mengunjungi stand Kabupaten Kuningan. Ah, kalau tahu beliau dari dulu, mungkin daku minta poto bareng waktu itu. Huhuhu~ -_-

Adalah Bu Hana Hermawan, yang sedang memberi penjelasan seputar “Etika Makan Dalam Perjamuan Resmi”. Table manner gitu kali, ya?! Lengkap dengan seorang talent dan layar berisi materi dalam bentuk power point. Daku tahu diri orangnya pelupa, jadi mesti segera sigap mencatatnya. Hehehe. Banyak basa-basi, ya? Jom deh kita bahas hasilnya:

  • Etika pas duduk; jadi ketika ada kursi, kita jangan langsung  jrut, duduk. Etika yang benar itu adalah kita duduk dulu sedikit (tempelkan bagian belakang tubuh sedikit), kita tarik kursinya sedikit lebih maju dan duduk nyaman deh.
  • Etika kalau disediain roti; Menurut beliau sih jangan langsung leb! kayak makan sosis tetangga :D. Cara yang benar yaitu membaginya jadi dua terlebih dahulu, terus makan deh sedikit demi sedikit.
  • Etika ketika disediain sup; kita ambil sendoknya, ciduk sedikit, terus pas mau melahapnya jangan sampai mulut nyamperin tangan, melainkan sebaliknya, tangan yang menuju mulut. Terus, jangan sampai kita mengeluarkan bunyi-bunyian. Misalnya karena sup panas, lalu kita meniup-niupnya sampai bunyi atau menyeruputnya sampai terdengar Hindari.
  • Kalau supnya panas, gimana? Biasanya orang akan mengaduk-aduknya. Namun sabar, aduknya pelan-pelan, jangan sampai berbunyi keras dan menjadi perhatian orang. Hehe
  • Etika ketika memakan main course; Biasanya menu utama yang disediakan yaitu steak. Jadi kita pegang garpu di sebelah kiri dan pisau di sebelah kanan. Jadi tangan kanan bertugas memotong daging, sedangkan tangan kiri untuk makan.
  • Etika menaruh sendok-garpu; Kalau ketika makan, otomatis kedua tangan kita memegang sendok-garpu. Ketika kita ingin melepasnya namun belum merasa selesai, maka simpan saja dengan posisi sembarang. Kalau kita sudah merasa selesai makannya, maka simpan sendok-garpu dengan posisi seperti arah ‘jam 5’.
  • Etika ketika memakai gelas goblet; Minumnya sedikit-sedikit, pegang bagian bawahnya dan usahakan lipstik tidak menempel di pinggiran gelas.
  • Ketika ada yang bertanya, “Kalau menunya nasi, gimana?”. Bu Hana bilang, “Etika ini berlaku untuk international menu, sehingga dalam jamuan makan resmi, rerata tidak menyediakan nasi.” Nah untung pertanyaannya tidak merambat seperti, “Gimana kalau menunya kupat tahu? lontong sayur? batagor? mie ayam? dst? Aaaak! jadi ngabsen makanan.  -_-

Sebagian dari kita (termasuk daku) pasti berpikir, ugh! mau makan aja ribet! Hehe… itulah ‘nikmatnya’ jadi orang biasa. Mau lesehan hayuk, mau duduk di kursi juga hayuk. Mau pake sendok, hayuk. Mau ditemani sama garpu, hayuk. Mau pake tangan, beuh oke-oke aja! Begitupun dengan menu makanannya. Kita enggak rewel, yang penting baik-halal-sesuai selera. Hehehe…

Demikian penjelasan sekilas dari Bu Hana. Ujar beliau, kita bisa mengundangnya untuk materi lebih lanjut. Ya kalau melihat presentasi dalam bentuk power point-nya sih kayaknya banyak banget yang mesti dibahas. So, maaf cuma segini. Tapi mudah-mudahan bermanfaat, ya?! ^_^ [#RD]

*Catatan: Sabtu, 29 November 2014
4 Comments
  1. Beby
    • deeann
  2. Linlin
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *