Ketika Kata-kata “Aku Minta Maaf” Mendapat Penolakan

Ketika Kata-kata “Aku Minta Maaf” Mendapat Penolakan

ketika ucapan aku minta sudah tidak ampuh lagi

sampaikini.com

Tiada hubungan tanpa gonjang-ganjing. Mau besar atau pun kecil. Bener, ‘kan?

Mau hubungan sama keluarga, tetangga, pasangan, sahabat, rekan kerja dsb, sesekali (atau mungkin sering kali?) kita terlibat perbedaan, kesalahpahaman atau pertengkaran. Faktornya bisa beraneka ragam. Dari hal sepele sampai yang besar. Semua itu nampaknya enggak bisa dihindari. Tapi juga, semua itu enggak baik untuk dipertahankan apalagi dibesar-besarkan.

Walau bagaimanapun, kita tidak hidup sendirian. Kita hidup dengan orang-orang yang memiliki hubungan berbeda-beda. Kita dan mereka, mau sedang baikan atau sedang bermusuhan, akan tetap bersama. Dalam suka dan duka. Soal nyaman-enggaknya, tentu tergantung banyak hal; bagaimana kekuatan hubungan itu? Bagaimana cara kita menghadapi keretakan yang ada? Serta, bagaimana mengendalikan emosi sendiri?

Ketika Kita Mengabaikan Luka Hati yang Terdalam

Pernah mengabaikan rasa sakit hati? Hehe…

Sakit hati yang kita cuekkan, atau kejengkelan yang tidak terobati dengan baik itu bisa berakibat negatif. Ibarat ada sesuatu yang tersumbat dalam kejiwaan kita. Kalau terus-terusan seperti itu, nanti jiwa kita bisa ‘macet’, bahkan secara tidak sadar kita seperti terhasut oleh kebencian dan berpandangan enggak baik. Sesepele apapun, baiknya diperbaiki supaya hubungan yang sudah berjalan bisa tetap natural, apa-adanya. Segera maafkan, atau sebaliknya, segera minta maaf.

Apa Kita Sanggup Minta Maaf?

Minta maaf itu enggak seseram arung jeram atau enggak sedeg-dean Ujian Nasional, tapi entah kenapa ‘minta maaf’ itu enggak bisa dianggap remeh. Apalagi kalau kita mesti minta maaf sama orang-orang terdekat. Uh…

Dalam setiap pertikaian dengan keluarga, pasangan, teman, dst, biasanya kata ‘minta maaf’ sudah tidak terlalu diperlukan. Cukup dengan pendekatan yang tepat, kita sudah saling memaafkan dan memperbaiki hubungan. Kecuali kalau masalahnya sedikit rumit. Misalnya pengkhianatan atau kebohongan besar. Tentu pendekatannya rumit juga.

Ada sih yang bisa meloloskan kata ‘aku minta maaf’ dari bibirnya, hanya saja tetap saja enggak ampuh. Mungkin karena orang itu masih sebal, dendam atau… karena memang permintaan maaf kita enggak tepat sasaran.

Kenapa Sih Permintaan Maaf Kita Tetap Ditolak?

Kita coba bikin onar, yuk? Maksudnya bikin permasalahan buat sampel. Hehe… Misalnya Si A dan Si B sedang belajar berdua. Tipikal mereka berdua berbeda. A suka suasana damai, sementara B enggak nyaman dengan kesenyapan. Alhasil ketika A membaca dalam diam, B sibuk merangkum sambil mendengar lagu via earhpone. Tanpa sadar B kerap menghentak-hentakkan kaki, mengangguk-angguk atau sampai membuat meja yang mereka gunakan berdua jadi goyang. A tentu merasa terganggu dan di sini B mesti minta maaf. Permintaan maaf itu jadi seperti berikut ini;

  • “Maaf…” –> simpel, tapi hampa, sehingga A enggak tahu kalau B itu serius atau tidak.
  • “Maaf atuh kalau kamu ngerasa keganggu sama aku .. –> secara tidak langsung B bilang gini sama A, ‘gitu-gitu aja marah? Gaya belajar kita ‘kan beda? Lagipula aku biasa saja tuh, kamunya aja yang sensitif sampai ngerasa terganggu segala?’ -_-.
  • “Maaf ya kalau aku ngeganggu, tapi kamu enggak ngertiin sih…” –> kata-kata awalnya bagus, namun permintaan maaf ini sedikit terusik oleh kata ‘tapi’, jadinya Si B seperti hendak melempar sesuatu yang bakal jadi bahan perdebatan. hehe…
  • “Aku minta maaf deh kalau udah ngengganggu, tapi kamu juga udah bikin aku enggak nyaman. Aku ‘kan enggak suka suasana hening…” –> permintaan maaf yang satu ini dipakai ketika B hendak membalikkan keadaan, biar skornya sama, gitu. Hehehe…

Suasana damai bisa sedikit menegang ya kalau minta maafnya seperti itu terus? Coba bandingkan kalau A melakukan penjelasan lebih dulu. Misalnya begini:

“Kamu pasti kecewa ya, A. Tapi beneran, aku pengin bikin suasana lebih baik… Oke, alasannya emang udah jelas. Tapi… emangnya sikap aku mengganggu kamu banget, ya? Aku mesti gimana, dong? Janji deh, aku bakal berusaha…”

Cara meminta maaf dengan baik dan benar

wallpho.com

Kalau sudah dijelaskan begini, coba otak-atik kata-kata permintaan maafnya jadi seperti ini:

  • “Maaf ya kalau mejanya jadi goyang-goyang karena aku ngedengerin musik. Jadi ngerti deh kalau kelakuan aku itu ngengganggu kamu banget. Hmm… aku jadi enggak enak…”
  • “Uh, maaf ya aku udah keterlaluan. Aku enggak sadar ngelakuinnya. Aku ngerti kok kamu pasti keganggu. Aku jadi ngerasa enggak enak, apalagi aku tahu kalau kamu enggak suka keributan pas lagi belajar?!”

Kata-kata meminta maaf itu bisa juga B lengkapi dengan klarifikasi tambahan. Misalnya:

  • “Mungkin karena udah kebiasaan aku kali, ya? Kalau lagi belajar suka dengerin musik, terus enggak sadar sampai ngangguk-ngangguk.”
  • “Mungkin aku orangnya emang enggak suka suasana hening, ya? Tapi aku enggak bermaksud ngeganggu kamu, kok!”
  • “Aku juga enggak tahu kenapa sampai enggak sadar ngegerak-gerakin kepala sama kaki, sampai mejanya goyang dan ngengganggu kamu. Tapi beneran aku enggak punya niatan buat ngusik acara belajar kamu kok, A…”

Kalau kita jadi Si A, bagaimana?

Kata-kata permintaan maafnya tentu lain banget ya sama yang awal-awal? Kalau jadi Si A, kita pasti sedikit meleleh. Kita bahkan akan ikut memahami dan memperdulikan posisi Si B juga. Si B bukannya marah atau menuntut supaya dimengerti, ia malah begitu fokus sama perasaan kita. Dia begitu berusaha memahami kita. Gimana kita bisa menyalahkannya? Atau, gimana kita mau nolak permintaan maafnya?

Kenapa Orang Enggan Minta Maaf?

Pernah enggak sih, kita terlibat pertikaian, tapi enggak ada yang minta maaf duluan? Kita menunggu dia yang nyamper dulu. Atau mungkin, dia juga punya rencana yang sama, menunggu kita yang datang. Kenapa, ya? Alasan-alasannya boleh jadi seperti ini:

  • Kita merasa dialah yang mesti minta maaf. Kita enggak merasa sudah melakukan kesalahan. Pokoknya kita yang benar, dia yang salah, titik. Kalau sudah begini, siapa yang menang? Baik kita maupun dia kayaknya sama-sama sudah kalah.
  • Terlalu canggung untuk diucapkan.
  • Kita tidak melakukan komunikasi dengan baik dan cukup. Kesalahpahaman yang ada tidak dijelaskan, sehingga kita maupun dia punya pikiran dan asumsi sendiri-sendiri.
  • Punya pengalaman buruk, sebab dulu permintaan maafnya kerap ditolak. Sehingga ia merasa meminta maaf adalah sesuatu yang enggak nyaman, konyol dan bikin sakit hati saja. Apalagi kalau sampai diabaikan.
  • Keras kepala, enggan mendengar penjelasan orang lain.
  • Kita terlalu men-judge tanpa memberi waktu untuk berdiskusi terlebih dahulu.
  • Kita enggan berinisiatif mengendurkan ketegangan.
  • Kita enggan berinisiatif menciptakan kedamaian.
  • Kita enggan berinisiatif memperbaiki keretakan hubungan.

5 Tips/ Langkah agar Permohonan Maaf Kita Ampuh

  1. Ciptakan jeda dulu, sampai kita benar-benar bisa menjernihkan pikiran. Setelah itu, baru singgung soal sebesar apa kesalahan kita sampai membuat dia tidak suka, bahkan sampai mengancam hubungan jadi memburuk.
  2. Berusaha memposisikan diri menjadi dirinya. Dengarkan penjelasannya dan fokus.
  3. Terbuka saja. Kalau ada hal-hal yang tidak dipahami, baiknya jangan ragu untuk ditanyakan. Atau kalau ada hal-hal yang perlu diyakinkan, baiknya jangan ragu untuk dikonfirmasi kebenarannya. Tunjukkan kalau kita mendengar dan tengah berusaha memahaminya.
  4. Tunjukkan sifap pengertian dan jelaskan dengan hati-hati kenapa kita sampai mengeluarkan suatu sikap. Tapi jangan sampai mengesankan kalau kita menyalahkannya, melainkan menjelaskan kalau kita juga mesti introspeksi atas semua yang terjadi.
  5. Pertimbangkan rencana lain, yang bakal membuat hubungan dan ikatan jadi lebih baik.

Well, tulisan ini terinspirasi dari postingan sebelumnya: Berharap Dimaafkan Tanpa Bilang “Aku Minta Maaf”. Hehe… Mudah-mudahan bermanfaat, ya. Kalau ada yang salah, daku minta maaf dan mohon koreksinya. ^_^  [#RD]

*Thanks to: Lynn Margolies, Ph.D. & PsychCentral.com
8 Comments
  1. jarwadi
    • deeann
  2. Juvmom
    • deeann
  3. ijeverson.com
    • deeann
  4. alma daynira
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *