Mengingat Hari Terakhir Pameran Kursus dan Hari Kompetensi Nasional

Mengingat Hari Terakhir Pameran Kursus dan Hari Kompetensi Nasional

Stand pameran kursus dan hari kompetensi nasional 2014, Stand pameran di Mall Citylink Bandung

Stand Pameran Seluruh Kabupaten di Jawa Barat

Gedebuk!!!

Di tengah dalamnya dunia mimpi, daku membuka mata. Belum penuh dan setengah sadar. Kulihat ke samping, ada Teh Entin. Beliau juga begitu.

“Jam berapa?” tanyanya di sela kantuk.

Daku yang benar-benar clueless, lalu memijit ponsel dan memastikan layarnya menunjukkan angka 5, “Udah subuh,” infoku, lalu tergoda untuk kembali memasuki alam mimpi. Mau subuh atau jam tujuh, daku enggak peduli. Keputusan untuk tidur larut (jam dua dini hari) memang bikin tubuh pengin ‘balas dendam’ tidur. Lagipula, ‘acara bulanan’ membebaskanku dari kewajiban sholat. Hehehe

“Tadi bunyi apaan, ya?” Daku teringat suara yang membuat kami terbangun.

“Bu Iyet, kali!” jawab Teh Entin singkat, dan daku baru sadar kalau kami memiliki roomate baru. Memang masih terdengar bunyi-bunyian di toilet, tanda ada seseorang yang beraktivitas di sana. Menyadari hal tersebut, daku menguap sekaligus tersedot untuk kembali tidur. *sound sleep*

~~~

Toilet Jongkok versus Toilet Duduk

Dahiku mengernyit, menatap bagian penutup tombol penyiraman toilet duduk yang copot. Namun karena sudah terlanjur di dalam, daku meneruskan mandi. Beruntung, tombol tersebut masih bisa berfungsi ketika digunakan.

Ngomong-ngomong, ada yang mengklaim kalau toilet jongkok itu lebih sehat dibanding toilet duduk. Seperti yang dikatakan Henry L Bockus (dikutip dari jurnal Gastroeonterology), “Posisi ideal untuk BAB adalah jongkok dengan paha tertekuk pada perut. Dengan cara ini, kapasitas rongga perut sangat berkurang dan tekanan intraabdomen meningkat, sehingga akan mendorong pengeluaran kotoran”.

Menurut jurnal lain (Digestive Diseases and Sciences), “dibutuhkan waktu lebih lama untuk BAB dengan toilet duduk. Sebab, tubuh butuh proses untuk mendorong kotoran melalui sudut rectoanal. Sementara pada posisi jongkok, sudut rectoanal sudah terbentuk secara otomatis dan kotoran pun terdorong, jadi lebih hemat waktu dan tenaga”.

“Itu toilet kenapa, Bu?” tanyaku begitu keluar dengan badan lebih segar, namun mata sedikit berat.

“Pffft, hahaha… copot!” respons beliau, “Maaf tadi ibu enggak sengaja, Neng. Sampai bunyi keras, ‘kan? Kedengaran, enggak?”

Daku dan Teh Entin saling lirik, lalu beberapa detik kemudian ikut tertawa juga, “Oh…”

Sudah puas tertawa dan komentar ini-itu, kami menepikan ‘insiden’ pagi buta dengan bersiap diri untuk jaga stand (lagi). Tak lama kemudian, pintu diketuk. Sesuai dugaan, rupanya rekan laki-laki kami datang.

Mereka hendak membantu mengambil barang-barang isian stand, sekaligus membereskannya. Namun karena kami belum selesai, mereka pun masuk dan sekedar leyeh-leyeh menyalakan televisi. Sebenarnya layar kotak itu tidak terlalu diperhatikan, sebab kami sibuk mengobrol.

Bu Iyet meminta Pak Yudi untuk masuk ke toilet dan membenarkan tombol penyiraman yang rusak. Beliau belum bertanya banyak dan hanya menurut. Namun ketika sudah selesai memperbaikinya, topik ‘suara gedebuk’ pagi ini kembali mencuat.

“Keterlaluan kamu, Dian!” seru Pak Adi sambil tertawa, “Jadi setelah ngedenger suara gedebuk dari toilet, kamu bangun, terus tidur lagi?”

“Iya,” jawabku innocent.

“Ih kalian!” kali ini Pak Adi menuding Teh Entin juga, “Dasar! Kalau terjadi apa-apa sama Bu Iyet gimana?”

Daku masih menatap cermin dan membenarkan kerudung, “Bu Iyetnya juga enggak menjerit.”

“Ya kalau dianya langsung pingsan, gimana?”

“Ya pastinya sempet ngejerit dulu lah.”

“Huh, tadi malam aja sok-sok an mau ngejaga Bu Iyet, eh pagi-pagi pas ada suara keras, enggak dicek.”

Kali ini daku kalah dan hanya bisa menukas dengan senyuman konyol. Uh, anak macam apa aku?!

Kami pun sudah siap dengan seragam batik. Bersama dengan rekan-rekan yang lain, kami segera meluncur ke lantai dasar. Di sana, sudah ada beberapa tamu yang menikmati fasilitas ngopi, ngeteh dan sarapan dari hotel. Kami pun mengekor.

Menu kali ini, masih tetap mencuatkan komentar. Ada bubur, nasi, bakwan dan bihun. Daku memilih nasi, mengingat buburnya tidak memiliki kuah. Selanjutnya, kami berjalan ke dalam mall. Hari yang masih sangat pagi, shops yang masih tertutup rapat, suasana lengang, ah… kontras sekali kalau hari sudah petang.

Lomba Menghias Kerudung

lomba menghias kerudung, pameran kursus dan pelatihan, hari kompetensi nasional se-jawa barat“Pengumuman! Kepada peserta lomba menata kerudung diharap siap-siap…”

Daku menangkap benar info yang diberikan panitia. Sontak saja daku hubungi peserta dari kabupaten kami, Bu Iyet. Sama sepertiku, beliau juga sedikit kaget.

“Ke kamar, yuk? Mau latihan dulu,” ajak beliau.

Antara senang (karena enggak tersudut di stand terus) dan berat hati, daku pun pamitan sama Teh Entin. Beliau juga berat-enggak berat melepas kami. Beruntung, Bu Nani dan dua junior kami kembali. Jadinya beliau ada teman perempuan di stand.

Sambil membawa secangkir kopi dari lantai dasar, daku dan Bu Iyet memasuki kamar hotel. Beliau langsung menyibukkan diri mempersiapkan kostum, kerudung, riasan pada wajahnya dan daku memberi rekomendasi untuk mengecek berapa menit beliau menata kerudungnya, soalnya panitia bilang ada waktu tertentu untuk menyelesaikannya. Ya, itung-itung latihan. Well, beliau mulai ‘anteng’ dan daku cuma menyeruput kopi, ke toilet, beres-beres isi tas (btw, kita check out hari ini) dan nonton televisi.

Kami terus berduaan pasca lomba, ketika lomba dan sesudahnya. Jadinya daku seperti ‘pengasuh’ Bu Iyet. Dari mengantarkan beliau, mendampingi, mengambil nomor dada, mengisikan formulirnya dan jadi suporter tunggalnya, terlebih beliau mewanti-wanti, ‘pokoknya jangan jauh-jauh’. Baru ketika beliau bergabung dengan peserta lomba lain untuk berkompetisi, daku bisa kesana-kemari mengambil gambar.

Usai lomba, kami sempat ke stand. Di sana sudah ada yang menjaga. Ini kesempatan untukku dan Bu Iyet keluyuran, tepatnya keliling-keliling stand lain. Kalau Bu Iyet baru pertama kali melakukannya, daku sendiri sudah beberapa kali, namun belum bosan sih. Hehehe

“Ke J-Co, yuk?” ajak beliau dan senyumku langsung berkembang begitu melihat sosok di depan kami. Pas benar.

“A!” Daku memanggil Ketua DPC HIPKI kami, “Bu Iyet pengin J-Pop,” kusebut salah-satu produk andalan mereka, yang kebetulan sedang kuinginkan. 😀

“Oh,” beliau merogoh saku, “Ini,” diserahkannya selembar uang. Perfect, seratus ribu sudah di tangan. Kami berdua mengucapkan terima kasih, lalu ngeloyor lagi.

Dus bayi donat dengan variasi rasa sudah di tangan, kami pun mengisi tempat duduk. Tengah ada berbagai hiburan dari berbagai LKP. Namun kali ini sepertinya sekadar nyanyian saja. Ditemani Ketua DPC HIPKI, kami menontonnya sambil melahap isian dus.

“Kuningan nyumbang nyanyi, yuk?” ajak A Fajar.

“Boleh,” jawabku, masih sibuk mengunyah donat imut hasil buruan kami, “Lagi nih, Bu?” tawarku pada Bu Iyet, sementara sang ketua sudah tiada di tempat. Sepertinya ke tempat panitia dan mendaftarkan diri.

Beliau langsung mengusap-usap perut, “Kayaknya ibu udah kebanyakan makan deh, Neng!”

“Hahaha sama!”

Isian dus masih banyak. Kami putuskan untuk membawanya ke stand. Kedatangan donat-donat tersebut ternyata kurang tepat waktu, sebab berbarengan dengan datangnya makan siang. Meski demikian, mereka tetap saja melahapnya.

“Nih, Neng!” Bu Iyet menyerahkan nasi kotak, membuatku menelan ludah. Seriusan mau langsung makanJ-Pop aja masih kerasa di mulut.

Kami mengulur waktu sejenak sebelum makan. Setelah rasa lapar mulai menghampiri, barulah kami makan sambil mendengar Pak Kabid Kabupaten Kuningan menyanyikan lagu “Kabogoh Jauh”-nya Kang Darso (Alm). Baik daku maupun Bu Iyet memutuskan untuk tidak menandaskan makan. Bukan menolak rezeki, namun perut kami memang sudah tidak bisa menampungnya lagi.

“Yuk!” tiba-tiba A Fajar datang dan tiba-tiba juga ngajak sesuatu yang enggak daku tahu.

“Apa?”

“Duet? ‘Kan kalian mau tampil?” Bu Iyet yang menjawab.

“Hah?” Daku enggak bisa menyembunyikan rasa kaget, “A Fajar sama Bu Iyet aja!”

“Yah! ‘Kan di karokean juga duet?”

“Beda, Bu!”

Diskusinya cukup alot. Bu Iyet bersikukuh, daku pun begitu. Bagaimanapun, ide duet ini tidak masuk planning dan daku kurang suka hal-hal dadakan untuk sesuatu yang besar, termasuk penampilan di atas panggung. Kalau di tempat karaoke sih konteksnya berbeda. Di panggung, daku enggak yakin bisa menghibur penonton.

Blah… blah… blah… Bu Iyet mengalah. Tak ada satu pun dari kami yang jadi teman duet Ketua DPC HIPKI. 😀

“Ya udah Neng, keliling-keliling lagi, yuk? Tadi kurang puas,” ide Bu Iyet kemudian, membuat mataku bersinar.:D

Stand-Stand Pameran Seluruh Kabupaten di Jawa Barat

Pameran Kursus dan Pelatihan di Mall Citylink Bandung, Hari Kompetensi Nasional

Suasana Pameran

Karena hari terakhir, kali ini kami tidak ingin melewatkan satu stand pun. Kami benar-benar menelusurinya satu-satu. Selain ingin silaturahim, kami juga mencari sesuatu yang bisa dijadikan oleh-oleh khas.

“Ikut!” suara Teh Entin yang segera kami sambut.

Kami bertiga keliling stand.

“Ke stand Garut yuk, Bu?” ajakku, “Kalau enggak salah ada cokelat anti galau, pengin beli.”

Mereka nurut aja. Begitu sampai, mataku langsung memburu. Namun ada yang aneh. Produk-produk khas Garut dibungkus berupa parcel. Perasaannya jadi enggak enak.

“Ini masih ada, Bu? Pengin beli,” jariku menunjuk cokelat yang kumaksud.

Penjaga stand menatap dengan tatapan menyayangkan, “Yang ini enggak dijual, cuma buat ditampilin aja,” bebernya, “Eh, tapi ladu Garut masih ada, nih! Satu lagi.”

Kami menerima ladu tersebut. Tertera harga pada bungkusannya. Rp.7.500,00. Kami belum juga bicara, ibu-ibu baik tersebut kembali bersuara,

“Udah ambil aja, gratis. Enggak usah bayar.”

Usai mengucapkan terima kasih, kami lanjut mengelilingi stand. Daku ragu-ragu mau beli jambal roti khas Pangandaran. Karena keragu-raguan itu, jadi lupa mau balik lagi. Nyesel deh! Padahal Mimih sama sohibnya doyan. Huft!

Selanjutnya daku masuk ke stand Bandung Barat. Di sana ada penganan berupa wajit, tapi bentuk dan kemasannya lucu. Katanya sih kreasi salah-satu PKBM di sana. Daku pun membeli yang rasa nangkanya. Mimih pasti suka. Hehehe

Ke stand Indramayu, oleh-oleh khas yang mereka tampilkan tidak terbilang aneh untuk orang Kuningan. Ada jus mangga jenis golek dan cengkir serta kerupuk udang. Ke Bekasi, sayang yang tersedia cuma beberapa jenis jamu. Lalu, ke Cianjur juga sama. Yang tersisa tinggal kerupuk pisang dan kerupuk lain yang masih mudah ditemukan di kabupaten kami.

Namun kami tetap jalan ke sana-kemari. Kalau Teh Entin menyerah dan kembali ke stand, daku dan Bu Iyet tetap lanjut. Kami kembali ke stand Bandung Barat setelah mereka terlihat melambai-lambaikan tangan.

“Cobain, nih! cobain,” mereka menawarkan kue tart cantik yang baru terpotong sedikit.

Dengan senang hati kami menerimanya. Daku makan yang rasa cokelatnya saja, yang pink-nya diabaikan. Hehe. Namun daku sengaja membelah (lagi) dengan ukuran besar. Untung mereka baik-baik dan enggak protes. Setelah dapet hasilnya, bolu tersebut kugeletakkan di stand. Ya, yang ada di stand langsung menyerbu krim dan bolunya. Hehe

Selanjutnya Bu Iyet pengin belajar merajut gitu di salah-satu stand. Daku sendiri memilih ke stand saja. Masih ada Teh Entin. Mungkin karena bosan, beliau ngajak jalan-jalan. Bukan ke stand-stand lagi, melainkan shops yang ada di dalam mall. Hummm. Oke lah!

“Duh, sholat di mana nih? Kita udah check out,” keluh Teh Entin ketika kami kembali ke stand setelah capek jalan-jalan.

Daku sedang sibuk baca koran bola dan meremukkan opak yang ada, “Kita udah apa? Check out?” kaget, segera saja kuambil ponsel dan memastikan keterangan waktunya. Rupanya sudah siang.

“Iya. Tenang aja, tas-tasnya sudah Teteh sama Pak Adi beresin,” Beliau seperti bisa membaca pikiranku. Phew!!!

“Kita pulangnya pas udah penutupan ya, Teh? Jam sepuluhan, dong?”

“Katanya sih Pak Kasie pengin pulang duluan,” secara tidak langsung, Teh Entin bilang kami mesti pulang lebih awal, mengingat daku dan beliau semobil dengan Pak Kasie.

Daku sedikit merengut. Bukan apa-apa, pihak panitia sudah mengundang artis ibu kota untuk tampil di acara penutupan. Dan, si penyanyi itu adalah Inka Christie. Daku cukup antusias melihat sang lady rocker Indonesia itu.

Kegiatan selanjutnya jaga stand. Kalau di stand ramai, agenda jalan-jalan pasti kuselipkan. Daku perlu beli ini-itu untuk dibawa ke rumah. Hehe

Hari sudah gelap. Seruan adzan maghrib sudah reda beberapa menit yang lalu. Stand-stand yang sempat lengang kembali ramai. Kebetulan kami tengah kumpul di stand Kabupaten Kuningan. Saat itu, dari arah panggung tiba-tiba terdengar salah-satu lagu yang sempat hits tahun-tahun lalu; Teratai. Terciptalah koor jeritan antara daku dan Bu Nani,

“Inka Christie!!!” [#RD]

~

Catatan: Minggu, 29 November 2014
Referensi soal “toilet duduk vs toilet jongkok” : health.detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *