Pertemuan dengan Orang Tua Ega Noviantika “Naon Cing”

Pertemuan dengan Orang Tua Ega Noviantika “Naon Cing”

Ega Noviantika

facebook.com

Ada orang Kuningan di sini? Atau, adakah yang jadi fans Ega D’Academy 2?

Pastinya sekarang-sekarang ini masih sedang sedih, ya. Banyak yang enggak menyangka dia bakal ‘kesenggol’ dengan cepat.

Walau daku tidak menontonnya, namun Mimih dan adikku memang cukup murung. Begitu pun para fans pengguna media sosial. Daku enggak sengaja melihat banyak sekali komentar kekecewaan. Beberapa diantaranya malah seperti belum bisa menerima kenyataan. Ujung-ujungnya… menyalahkan juri, mencurigai ada sesuatu, atau membawa-bawa peserta lain.

Wajar sih, kalau daku termasuk diantara mereka pun… mungkin akan merasakan kekesalan yang demikian. Namun kita mungkin lupa, kalau ‘kompetisi’ sebenarnya bukanlah di atas panggung, melainkan nanti setelah di luar.

Daku rasa Ega sudah sangat hebat, kok. Apalagi di mata orang Kuningan, dia sudah termasuk ‘tokoh atau artis muda terkenal dari Kuningan‘. 🙂

Dia justeru sedikit beruntung. Ada hikmahnya dia keluar. Pertama, Ega bisa istirahat dari jadwal hectic ala kompetisi. Daku dengar dari Mimih, dia mesti menghafalkan lagu asing dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Belum sama lagu lain. Menghapalkannya, latihannya, performa panggungnya. Hmm… pasti melelahkan, ya?

Kedua, mungkin Ega memang mesti ‘dikembalikan’ ke ‘dunianya’ sebagai pelajar. Dia sudah cukup kenyang melakoni hobi menyanyinya. Dia juga sudah cukup full menerima pelatihan sangat berharga dari pihak televisi swasta itu. Sudah saatnya dia mempratikkan di kehidupan riil.

Ketiga, setelah Ega tersenggol, dia enggak terlalu punya beban. Sebab, juara 1 dalam kompetisi bernyanyi tidak menjamin bakal menjuarai hati industri musik nantinya. Dan, Ega sepertinya sudah punya ‘sesuatu’ sendiri yang berkesan di masyarakat. Termasuk jargon ‘naon cing?’ itu. Naon cing? artinya… apa coba? Nah kalau Ega berada di tangan manajemen yang handal dan dianya sendiri masih punya passion  yang kuat, insya Allah bakal tetap eksis sebagai ‘Ega Novinatika’ di blantika musik dangdut, bukan sebagai Ega peserta kompetisi dangdut itu. Iya, ‘kan?

Well… basa-basinya kejauhan. Daku mau sedikit menceritakan pertemuan yang enggak disangka-sangka sama orang tua Ega. Pertemuan ini terjadi sebelum Ega Noviantika tampil pada tanggal 08 April 2015 yang lalu.

Waktu itu daku dan Mimih tengah berbelanja di sebuah toko tekstil. Bahkan toko itu, kata Mimih, sempat memberikan hadiah selimut waktu acara berlangsung. Nah pada waktu itu… Mimih tengah di tempat alat bayi yang juga berdekatan dengan tempat bahan atau kain. Sementara daku sibuk melihat-lihat motif seprei.

Lewat ekor mataku, daku lihat Mimih seperti terkejut melihat sepasang suami isteri. Mereka lalu terlihat berbincang. Kalau menurut Mimih, dialog awalnya seperti ini:

Mimih (menatap penuh selidik, sambil mengingat-ingat),

“Eh perasaan kenal…”

Ayahnya Ega tersenyum dan menyodorkan tangan duluan,

“Iya saya ayahnya Ega…”

Dari sana obrolan berlanjut. Daku yang enggak ‘ngeh’ hanya melihat sekilas, lalu kembali memilih seprei dan kain. Pikiranku saat itu, oh mungkin mereka teman lama Mimih… Atau, oh mungkin mereka sama-sama pelanggan toko. Namun pikiran itu terusik manakala para karyawan toko bergabung. Mereka jadi seperti membentuk kerumunan kecil dan menyalami suami-isteri tersebut.

Mungkin… mungkin, ya… ayahnya Ega sedikit aneh melihatku yang tidak menghampiri dan ikut salaman. Daku tetap fokus sama belanjaan. Beneran, daku belum pernah melihat mereka, jadinya tidak tahu. Hehe…

Namun setelah beberapa lama, daku pun mendekat. Daku baru ‘ngeh’ setelah ibu sama ayah Ega bilang,

‘Mohon doa dan dukungannya terus buat Ega, ya…”

Obrolan terus menggelinding. Dan, kayaknya Mimih dan ibunya Ega yang paling antusias. Mereka membicarakan Soimah, membicarakan hadiah-hadiah yang dialamatkan sama Ega, membicarakan pendukung Ega yang dari luar Kuningan, dsb. Namun ada satu bagian yang cukup menarik.

Saat itu salah-satu karyawan toko, Mang A, bicara begini,

“Bu? Orang Kuningannya mah enggak banyak yang sms, ya? Kami memang mendukung, tapi palingan cuma seneng nontonnya aja… Enggak kayak orang-orang Jawa yang rame, gitu…”

“Ih, enggak!” penggal ibu Ega,

“Kami justeru berterima kasih sama warga Kuningan. Mereka sudah banyak membantu dan sangat mendukung Ega, sampai sekarang masih bertahan… kami enggak bakal meniadakan peranan orang Kuningan.”

Cuplikan perbincangan yang sederhana, namun cukup dalam. Betapa Ibunya Ega sangat mengapresiasi semua bentuk dukungan terhadap anaknya. Beliau tetap bersyukur. Walau banyak penggemar Ega dari luar kabupaten ini, namun beliau tetap tak lupa.

Kita pun mestinya seperti itu, ya… Bisa mengapresiasi peranan orang lain dalam kehidupan kita. ^_^

*PS:

Daku mencoba bikin cerpen dengan nama tokoh Ega dan kawan-kawan. Judulnya “Dekap Sahabat”. Siapa tahu mau membaca, gitu. Hehe… maaf kalau jelek. 😀

[#RD]

3 Comments
  1. Junet Kanqen
    • deeann
  2. Junet Kanqen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *