“Rendang Rasa Garam”

“Rendang Rasa Garam”

Ketika renadang keasinan, Rendang Rasa Garam

cariartikel.com

“Wah, ternyata kita semua tukang makan!” seru Teh Entin, menyadari dirinya-daku-Teh Yulia terus ngemil di perjalanan.

Ada stik balado, buah salak dan kue bolu. Daku dan Teh Yulia cekikikan. Benar juga, akhir-akhir ini intensitas ngemilku memang lagi menggila. Uh!

“Kita makan dulu di sini,” ucap Pak Kasie dan mobil sudah menepi.

“Ini baru di daerah Talaga?” kataku.

“Kalau nunggu di Sumedang, kasian kita!” timpal Pak Adi.

Iya sih, ngemil itu terkesan adiktif tapi tetap enggak mengenyangkan. Jadi kami memang perlu yang ‘benar-benar makan’. Hahaha. Kami keluar. Daku lihat plangnya, ‘Rumah Makan Padang’. Oke, let’s see.

Daku, Pak Adi, Teh Entin dan Teh Yulia satu meja. Menu kami juga sama; cukup nasi, rendang, daun singkong dan sambal. Porsi nasinya kecil, tapi padat, jadi cukup. Namun baru melahap, daku merasa lidah ini kurang nyaman.

“Hmmm, rendang sama sambelnya rasa garam, yah?” tanya Pak Adi, yang kemudian aku asumsikan sebagai sindiran telak. Volumenya lumayan bisa didengar pengunjung Rumah Makan.

“Namanya juga RM Padang,” kata Teh Entin, namun beliau juga sama-sama mengeluh.

“Iya, tapi enggak asin gini juga kali!” sahut Teh Yulia, lalu sibuk mencabik daun singkongnya.

Daku sendiri membantu mengatasi rasa yang kebangetan ini dengan menyeruput teh tawar panas, “Untung kita kelaparan, Teh,” kataku, lalu menyadari Pak Adi sudah enggak ada di hadapan, kecuali makanannya yang hanya tersentuh sedikit. Kulihat beliau pindah ke meja Pak Asep-Pak Yudi, lalu mengacungkan pisang ambon. Daku menggeleng.

“Beneran, kalau enggak lapar, enggak tahu deh!” Teh Yulia memutar bola matanya.

Kami memutuskan untuk menyudahinya, walau di masing-masing piring masih tersisa makanan. Sebetulnya, kami agak enggak enak juga sudah komplein sama traktiran orang. Lebih lagi protes sama makanan, itu emang terdengar buruk. Hanya saja, selera dan penilaian kami kebetulan sama. Phew!

“Ini, Neng!” Bu Iyet meletakkan seplastik ‘sesuatu’ ke dalam mobil kami. Daku membukanya dan melihat ada buah salak dan jeruk. Bagus!

Pak Adi menghampiri kami yang sudah ada di mobil.

“Saya enggak bakal heran kalau nanti di mobil kalian jadi pemarah.”

Daku mengernyitkan dahi, “Kenapa?”

“Kalian makan garam kebanyakan, jadi bakal kena darah tinggi!”

Daku, Teh Entin dan Teh Yulia enggak bisa ngapa-ngapain selain tertawa dan langsung menelanjangi salak pleus jeruk. Dasar! 😀

Pesan dari cerita ini: pilih tempat makan yang sesuai selera-halal-baik, tetap syukuri makanan yang kurang sesuai selera apalagi kalau gretongan, teru sediakan buah-buahan untuk membunuh lidah yang keasinan. Errr…[#RD]

*December 10, 2014
2 Comments
  1. Beby
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *