“Sakit Mana?”

“Sakit Mana?”

truk yang overloaded

telegraph.co.uk

“Duh, itu mobil kok mengkhawatirkan banget!” Teh Entin memandang lurus ke depan.

Daku mengikuti arah matanya. Seniorku yang satu ini memang ‘cukup perhatian’ sama kendaraan di sekitar. Beliau bahkan sampai menghitung truk pengangkut ayam petelur, baik yang beriringan maupun yang menyalip. -_-

Kini di depan kami ternyata ada sebuah truk besar dengan muatan super besar juga. Pemandangannya memang mengkhawatirkan.

“Sampai miring gitu, ya?!” Pak Kasie juga tersedot untuk memerhatikannya.

“Ngangkut apa, ya?” kami bertanya-tanya, mengingat muatannya dibungkus terpal. Aksi saling tebak pun dimulai.

“Mungkin besi.”

“Kapuk, kali.”

“Ngomong-ngomong, kalau kapuk sekilo sama besi sekilo, berat mana?” sembul Pak Kasie.

Daku masih konsen sama pertanyaan itu, “Sama aja, Pak.”

“Nah kalau dua-duanya jatuh ke kaki kita, sakit mana?” kali ini Pak Adi yang bertanya.

Daku diam sejenak sambil membatin, “Menjawab pertanyaan Adi mesti hati-hati.”

Sang penanya cekikikan, tapi masih menunggu satu diantara kamu untuk menjawab.

“Kapuk,” celetuk Pak Kasie.

Aku memandang heran, “Besi atuh, Pak.”

Pak Adi yang mendengar jawaban kami lalu tertawa, bahkan sampai menggunakan tangan untuk menutup mulutnya, “Kalau dua-duanya jatuh ke kaki, yang sakit ya kaki, kaliii!”

Pak Kasie memandang keluar, no comment. Daku sendiri mendengus, dan sedikit menyesal sudah mendengar dan berusaha menjawab pertanyaannya, tanpa memikirkannya dua kali. Huft!

~

Pesan: Jangan bawa muatan apapun yang overload (termasuk hati. Aish!), sedia air mineral yang banyak supaya tetap konsentrasi dan berusaha tertawa untuk lawakan orang lain, selama tidak mengandung unsur kekerasan, pelecehan atau bullying.  [#RD]

*Note: December 18, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *