10 Kata-kata atau Pikiran Negatif yang Menghambat Kesuksesan Kita Sendiri

10 Kata-kata atau Pikiran Negatif yang Menghambat Kesuksesan Kita Sendiri

ketika pikiran negatif kita berbicara

123rf.com

Salah-satu hal yang tidak kusukai dari anak-anak muda (khususnya murid-muridku di lembaga kursus) yaitu… mengeluh.

Aih, menulis kayak gini jadi berasa tua. -_-

Tapi lanjut deh…

Masa Muda dan Keluh-Kesah

Zaman sekarang ‘kan lagi musim kata-kata berbau keluhan yang gencar mereka ucapkan; ‘da aku mah apa atuh…’. Isi keluh-kesahnya bervariasi. Mulai dari yang logis sampai yang absurd banget. Oke, mungkin semua ini cuma bertujuan untuk bercanda, ya.  Tapi seriusan, ‘masa muda’ dan ‘keluhan’ mestinya tidak berdampingan.

Bukannya apa-apa, sayang saja kalau masa muda (baca: masa-masa sekolah, gitu) diisi dengan sugesti-sugesti yang negatif. Dalam beberapa kesempatan, daku sering bilang pada adik-adikku di LKP bahwa mereka masih muda, masih punya banyak peluang untuk mengejar cita-cita.

Kuncinya; baik sama orang tua, mau berproses, sabar dalam langkah-langkah kecil, tidak gengsian, lebih banyak bertindak, beraksi sekarang juga dan dibarengi sama doa.

So optimis, ya? 😀

Kata-kata dan Pikiran Negatif Datang Dari Sendiri

Siapa orangnya yang tidak punya mimpi? Tidak punya hasrat? Tidak punya target?

Bisa dikatakan… semua orang memilikinya, ya. Tapi tidak semua orang meyakininya dengan kuat. Bahkan, ketidakyakinan itu kerap muncul dari… diri sendiri.

Banyak suara-suara yang kerap menyelimuti kita. Suara-suara itu ibarat tangan-tangan kekar yang melilit betis kita agar menghentikan langkah. Kita jadi begitu sangsi. Kita urungkan semua ikhtiar dan akhirnya… (sakit kalau diterusin). -_-

Padahal, kadang-kadang pikiran negatif kita itu terdengar aneh, ya. Misalnya begini:

#1. “Duh, saya enggak punya waktu!”

Apa iya sesibuk itu sampai enggak punya waktu?

Daku suka nih mengeluhkan hal ini. Malu… selain cuma jadi pengangguran yang sok sibuk, daku rasa banyak orang yang lebih sibuk tapi masih mampu berkreasi. Tapi lumayanlah, daku ada kegiatan. Pagi membantu menjaga kios, siangnya mengajar di LKP, menulis konten sebuah blog dan tentunya mengisi di sini.

Alhasil, daku pun mesti cari cara buat memenej waktu. Salah-satunya yaitu… mengorbankan aktivitas lain yang kerap membutuhkan waktu. Daku sudah enggak menonton televisi dan ‘sedikit’ menengok media sosial, kecuali kalau ada sesuatu yang dirasa penting, macam ngestalk orang. Eh, enggak penting, ya? -_-

#2. “Nanti, saya butuh waktu dan momen yang tepat ‘n sempurna.”

Suatu hari… daku pengin jadi anu. Suatu hari… daku pengin punya anu. Suatu hari…

Well, ‘suatu hari’ itu tak akan tiba kalau kita kerap menunggu dan mengatakan ‘nanti’ untuk sesuatu yang sedang diharapkan. Uh… daku jadi gemas sama diri-sendiri yang suka menunda-nunda. -_-

#3. “Saya cuma punya satu kesempatan. Huhu…”

Daku pernah memiliki pikiran ini. Daku belum menyadari kalau… dalam kondisi apapun, selalu ada pilihan ganda. Selalu ada kesempatan. Itu pun kalau kita tidak mudah menyerah. Hohoho…

#4. “Saya enggak punya uang. Hiks…”

Poin ini juga jadi salah-satu yang sering dilontarkan orang. Daku pengin punya bisnis anu atau anu, tapi kemudian mentok sama kata ‘enggak punya uang (baca: modal)’. Lalu… apa ada bisnis yang enggak bermodal? atau minimal, modalnya itu enggak banyak-banyak amat aka terjangkau?

Ternyata sangat banyak. Sebut saja mereka yang menawarkan tenaganya. Atau, mereka yang punya skill macam menjahit, memasak, melukis, dst. Atau, mereka yang menjadi penulis lepas, ghost writer, buzzer di media-media sosial, dst. Dan… sudah teramat banyak orang sukses yang membuktikan kalau dulunya mereka juga enggak punya cukup uang/ modal.

#5. “Lha, saya ‘kan enggak berpendidikan tinggi. Mana bisa?”

Apa iya sukses itu hanya ditentukan dari pendidikan?

Iya pendidikan itu penting dan vital. Tapi yang satu ini enggak terlalu daku layani. Tanpa perlu panjang-panjang, daku beri contoh kecilnya saja: Artis Dunia yang Tidak Lulus SMA.

poto anak kecil memakai trench coat sedang berpikir_

photo.net

#6. “Saya enggak punya skill atau kemampuan.”

Jadi inget diri sendiri. Dari masa sekolah, salah-satu pelajaran yang enggak daku suka yaitu TIK aka komputer. Masalahnya, daku ini gaptek. Jangankan ngelus-ngelus netbook atau laptop, pegang mouse dan memijit-mijit keyboard saja grogi.

Tapi apa yang terjadi? Daku jadi instruktur aka tutor di lembaga kursus dan mata pelajaran yang daku pegang adalah… komputer.

See? Segala sesuatu bisa dipelajari. Belajarnya pun bisa dari banyak jalan. Internet dan sahabat sendiri pun bisa jadi mentor kita.

#7 “Huft! Saya enggak punya koneksi/ relasi?!”

Ini pikiran kita sendiri, ya. Padahal sebenarnya kita selalu punya kesempatan untuk menjalin koneksi. Apalagi di zaman digital seperti ini. Hidup tidak hanya dari rumah ke pintu tetangga. Kita bisa melangkah lebih jauh. Ke luar desa, luar kabupaten, luar kota, luar provinsi, luar negara, asal jangan sampai bablas. -_- Tinggal kitanya sendiri, mau atau tidak?

#8. “Saya punya tanggung-jawab lain!”

Suara pikiran yang satu ini memang bikin dilemma. Contoh kecilnya adalah seorang ibu muda yang ingin berbisnis. Hasratnya itu mesti dipendam sebab ia memiliki buah hati. Tapi… daku sudah menyaksikan sendiri banyak yang bisa menjalankan keduanya. Ada yang sambil berbisnis di dunia nyata dan ada pula yang memilih di dunia maya. Kalau dipikir-pikir, toh hasil bisnisnya juga buat sang anak itu sendiri.

#9. “Saya ‘kan kurang berpengalaman?”

Daku yakin suara negatif ini sempat melintas dalam pikiran kita. Jika terus dipelihara sampai kita enggak berbuat atau berusaha apapun, lalu kapan mengalaminya? Yang sudah makan asam-garam pun tadinya enggak punya pengalaman, ‘kan? Enggak mungkin suatu perjalanan jauh dicapai hanya dengan satu kali melangkah. Iya, ‘kan?

#10. “Saya ‘kan mesti sempurna!”

Seorang sahabat pernah mengataiku ‘perfeksionis’. Daku enggak sadar, tapi sepertinya memang begitu. Hehe… Ya, daku rasa setiap orang pengin melakukan yang terbaik, ya? Setiap orang juga takut akan konsekwensi berupa kegagalan atau apresiasi negatif dari pihak lain.

Sayangnya…

Kadang keinginan untuk tampil sempurna justeru sering membuat kita ‘cacat’. Kita jadi menunda-menunda, membuat segalanya rumit dan cepat frustasi kala semuanya meleset dari target. Huft! Untuk itu, kita mesti menyadari bahwa makhluk hidup itu punya keterbatasan. Baiknya maafkan segala ketidaksempurnaan diri sendiri.

Postingan ini jadi pengingat penting khususnya bagiku sendiri. Heuheu… Well, sebagai penutup, daku cubit kata-kata atau quote dari Om Prie GS;

“Ikhtiarlah sesengit mungkin dan terima hasilnya sesantai mungkin.”

[#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *