Cara Mengajar Anak yang Memiliki Kekurangan Fisik, Bagaimana?

Cara Mengajar Anak yang Memiliki Kekurangan Fisik, Bagaimana?

Mengajar anak yang memiliki kelainan fisik_

ohgodworldhelpvision.com

Ketika pihak Lembaga Kursus mengatakan padaku, ada siswi dari Sekolah Luar Biasa (setingkat SMP/ MTs) yang mau belajar komputer, yang pertama kali daku tanyakan adalah… keinginan sendiri apa disuruh orang lain?

Rekan di administrasi bilangnya sang anak sendiri yang mau. Ketika kutanyakan apa kelainannya, beliau bilang tangan kanan dan kakinya kurang berfungsi dengan baik. Namun dia tidak memakai alat bantu apapun. Tentu saja daku kaget. Tangan, apalagi yang kanan, pastinya jadi penunjang penting dalam belajar komputer.

Namun mendengar ia memiliki motivasi dari diri sendiri, daku langsung ‘menyanggupi’. Padahal ini bakalan jadi pengalaman pertamaku menghadapi murid dengan kelainan fisik itu. Tapi kalau tidak diterima, kapan ada pengalamannya? Dan… apa adil menghalang-halangi kemauan sang anak?

Sebut saja namanya Y. Dia kelas VII. Sekarang kami sudah melakukan 12 kali pertemuan. Di awal-awal (bahkan sampai sekarang), dia secara tidak langsung mengajarkan banyak hal padaku. Semuanya tidak mudah. Butuh proses.

Berikut ini beberapa cara yang daku ambil untuk mengajar atau menghadapi anak dengan kelainan fisik:

  • Perhatikan dulu, apa dia memakai alat penunjang atau tidak. Misalnya kruk atau kursi roda. Sebab, mesti ada spasi tempat untuk menyimpan alat penunjang itu. Pastikan agar anak-anak lain menghormatinya. Sebisa mungkin jangan sampai si anak ini merasa sudah menyusahkan kita dan teman-temannya.
  • Setting tempat yang bisa membuatnya nyaman. Kebetulan daku suka memposisikan Y di meja yang aksesnya luas dan tidak di tengah-tengah, soalnya dia memang kesulitan untuk berjalan normal. Takutnya nanti kalau dia hendak berdiri atau apa, akan kesulitan.
  • Setting juga peralatan belajarnya. Di pertemuan awal, daku lihat tangan kiri Y kesulitan mengendalikan mouse yang posisinya di kanan. Mungkin waktu itu Y belum berani mengungkapkan posisi nyamannya. Daku pun mesti sadar sendiri untuk menempatkan mouse di sisi kiri. Lama-lama Y mulai terbuka dengan posisi yang enak buat dirinya.
  • Walau kita sudah tahu kelemahannya, namun jangan suudzon dulu dengan kemampuannya. Beri dia kepercayaan. Ini modal penting agar ia percaya diri dan teman-teman di sekitarnya juga melakukan hal yang sama dengan kita.
  • Maklumi keterlambatannya. Hal ini yang segera daku sadari ketika Y selalu ketinggalan mengetik dibanding dengan D, rekannya. Bisa dibayangkan mengetik dengan 1 tangan. Tangan kiri, lagi! Daku pernah mencobanya dan… duh, baru beberapa kata saja sudah pegal. :/
  • Segala sikap pengertian yang kita bangun mesti menular juga pada temannya. Beri teladan saja, tidak perlu dengan memberi instruksi verbal (kecuali kalau benar-benar diperlukan) Jangan sampai sang teman ‘mengusik’ perasaan si anak. Misalnya dengan berdecak kesal atau malah mengejek dan mengeluhkan keterlambatan akibat kekurangannya.

Sampai detik ini pun, daku masih merasa belum jadi instruktur atau tutor yang baik bagi Y. Karenanya masih perlu belajar. Apa ada tips atau cara hal lain yang mesti daku perhatikan? Let me know. [#RD]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *