Ketika Seorang Guru Berbuat Salah Secara “Live”, Bagaimana?

Ketika Seorang Guru Berbuat Salah Secara “Live”, Bagaimana?

Ketika Seorang Guru Berbuat Salah Secara Live Bagaimana _

inc.com

Pernahkah ketika sekolah, Bro-Sist memergoki guru/dosen berbuat, bersikap atau berkata salah?

Atau… mungkin sebagian dari Bro-Sist ada yang sudah pernah mengalaminya sendiri?

Guru…

Bagaimana sih murid-murid memandangnya?

Sebagian dari kita tentu menganggap sosok ini sebagai figur yang sempurna. Patut didengarkan, patut ditiru, lebih pintar dan lebih berpengalaman dari murid-muridnya. Namun apa jadinya jika guru juga melakukan kesalahan? Bahkan kesalahan itu berlangsung di kelas, secara live?

Jenis kesalahan guru memang banyak. Meliputi kesalahan karena terlambat datang, kesalahan karena memberi PR tanpa pernah mengoreksinya, kesalahan karena menjanjikan sesuatu tapi tidak dipenuhi (misalkan janji mau mengumumkan hasil tes, tapi malah lupa), dst.

Terkait dengan isu kesalahan guru di kelas atau ruang belajar ini, daku menulisnya karena sesuatu menimpaku ketika berperan sebagai instruktur les komputer dasar. Waktu itu daku tengah mengajar rombongan belajar Madrasah Aliyah kelas X. Materi yang daku alirkan yaitu seputar Ms Excel 2007. Masih dasar, terkait operasi hitung sederhana.

~

Waktu itu daku sedang ‘menikmati’ tugasku untuk memberikan variasi soal. Sebenarnya soal-soal yang angkatan-angkatan sebelumnya juga ada, namun daku kadang lebih suka yang mendadak, lebih fresh dan tidak akan dipandang jemu. Intinya, improvisasi. Sebagian orang (termasuk daku) menganggap hal ini langkah bagus, namun sesuatu yang terjadi padaku memberi pelajaran berharga tentang improvisasi ini.

Jadi waktu itu daku sedang memberi contoh soal tentang operasi penjumlahan dan perkalian. Daku mulai dari step termudah, lalu meningkat. Daku membuat tabel “Tabel Diskon Toserba XXX”, dengan kolom; nomor, nama item/barang, jumlah pembelian, harga, jumlah harga, diskon (%) dan total bayar.

Semua baik-baik saja, sampai kemudian mereka selesai menulis tabelnya dan mulai bertanya-tanya tentang cara memecahkannya. Ada yang menunggu instruksiku, ada juga yang berinisiatif mengerjakannya sendiri. Karena keadaannya tidak seragam seperti itu, daku pun mengambil alih.

Daku berdiri diantara white board dan semua muridku. Kolom nomor, nama item, jumlah pembelian, harga dan diskon sudah terisi. Lalu ketika mengisi kolom jumlah harga, caranya mudah saja. Kita tinggal mengkalikan jumlah pembelian x harga. Ketika mau mengisi total bayar, ada jeda. Seorang siswi (Eka) mengatakan,

“Mestinya ditambah sama kolom jumlah diskonnya, Teh.”

Sejujurnya, daku juga sudah niat mau menuliskan satu kolom lagi; kolom jumlah diskon. Biar memudahkan mereka. Namun sebenarnya tanpa kolom itu pun, semuanya bisa terisi. Total harga bisa diisi dengan cara; jumlah harga dikurangi (diskon % x harga).

Di sinilah daku dilemma. Mau mendengar pendapat Eka? apa ‘kuamankan’ saja ‘harga diriku’, dengan mengatakan tanpa kolom itu pun bisa terisi, tapi dengan dua risiko. Satu, mereka akan merasa pusing. Dua, mereka akan berpikir,

“Teh Dian mah enggak bisa dikasih saran/ enggak mau dibenerin. Nanti mah lebih baik diem aja lah.”

Kalau boleh membela diri, kejadian ini bukan merupakan kesalahan, ‘kan? 😀

Tapi akhirnya… dengan napas sedikit sesak dan wajah memerah (lebay, ya?!), daku minta maaf dan mengatakannya sebagai kesalahan. Daku sampai mengulangi minta maaf. Bahkan mereka sampai bilang,

“Enggak apa-apa, Teh. Wajar namanya juga manusia.”

Daku lega, sekaligus masih tidak tenang. Apa responsku sudah benar?

guru dan murid salah paham

wordviewediting.com

Waktu itu kuputuskan untuk menyetujui opini Eka dan menambahkan satu kolom. Daku minta maaf dan mengatakan terima kasih pada Eka atas kritik sekaligus sarannya. Secara tidak langsung, daku umumkan pada mereka,

“Enggak apa-apa kok ngasih pendapat, mengoreksi dan bertanya di kelas. Semuanya akan diapresiasi.”

Oh ya, rombongan belajar yang satu ini memang kritis, rajin, cepat menyerap pelajaran dan kemampuannya bisa dibilang merata. Pintar semua.

Sebenarnya ketika guru/ tutor sepertiku melakukan kesalahan secara live di kelas, ada beberapa opsi atau tips yang bisa dipilih:

  • Mengatakan kalau kesalahan itu sengaja dilakukan untuk mengetes konsentrasi dan pemahaman mereka. Well, ini alasan yang so lame. Banyak murid yang sudah mengetahuinya. 😀 Tapi toh sering difavoritkan guru untuk mengalihkan kesalahannya jadi sesuatu yang fun
  • Segera mengoreksi kesalahan kita dengan casual, lalu melanjutkan mengajar, seolah-olah hal itu wajar adanya. Toh tak ada manusia (dalam hal ini guru/ dosen/ instruktur) yang sempurna. Sebagian siswa bisa maklum dan oke-oke saja, tapi bisa saja ada siswa lain yang ‘kurang terima’ dan masih menganggap kesalahannya sebagai sesuatu masalah.
  • Menyadari kesalahan dan bercanda “Duh konyol banget kesalahan saya!”. Di satu sisi, respons ini bisa membuat siswa tertawa atau mesem-mesem. Namun di sisi lain, nanti ada siswa yang membatin, “Wah kalau berbuat salah di hadapan guru ini, nanti dianggap konyol lagi!”
  • Mengucapkan maaf dan banting stir dulu. Dari membahas materi ke diskusi soal hikmah berbuat salah. Bahwa berbuat salah itu bisa dimaafkan dan masih bisa diluruskan dan bahwa berbuat salah itu bisa membuat kita jadi berpikir dan belajar. Ini pernah daku lakukan ketika muridku berbuat salah. Hehe…

Namun daku ‘beruntung’ tidak sampai dibully sama murid sendiri. Beruntung, sebab bisa saling terbuka dengan mereka. Beruntung, sebab mereka begitu pengertian dan memberiku pelajaran berharga.

Dulu sempat ada kasus di Catamarca (Argentina), seorang guru Matematika melakukan kesalahan ketika menerangkan di kelas. Memang, kesalahannya cukup fatal sebab terkait konten (isi materi). Hal itu diperparah sebab salah-satu murid merekam dan menguploadnya ke Youtube dengan judul “La Profe Burra” yang artinya “Guru Keledai”. Kita ketahui sendiri ‘kan Bro-Sist, keledai itu menginterpretasikan kapasitas seseorang seperti apa?

Videonya sampai jadi bahan berita beberapa media. Orang tua murid dan para pengamat pendidikan angkat bicara. Orang-orang saling silang pendapat.

Daku enggak akan komentar lebih jauh. Yang jelas, it’s too much. Sungguh terlalu!

Well, intinya kita memang mesti menjaga jalinan komunikasi, ya. [#RD]

2 Comments
  1. Beby
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *