Mengajar dalam Keadaan Bad Mood

Mengajar dalam Keadaan Bad Mood

Guru bad mood, mengajar dalam keadaan bad mood, guru bad mood di kelas

getridoftruly.com

Bad mood, mood swings, menggerutu, bosan kebangetan, apatis, menjerit dalam diam,  dll.

Daku rasa setiap orang pernah merasakan fase mood yang terguncang. Laki-laki atau perempuan, sedang ‘ada tamu’ atau tidak, hanya datang sesekali atau justeru sudah sifat. Hanya saja… apa kita bisa mengendalikannya? bagaimana efeknya terhadap kesehatan; baik kesehatan tubuh, jiwa, hubungan dan aktivitas kita?

Walau wajar, kadang daku pribadi takut sendiri ketika bad mood jadi sesuatu yang sudah mengakar. Menghadapi orang dengan mood labil ini memang menyebalkan. Tapi tanpa sadar, kita daku sendiri yang mood-nya suka tiba-tiba goyah.

Sahabat-sahabat SMA-ku yang pengertian pernah mengungkapkan hal yang bikin daku terpekur. Kata mereka, daku ini moody. Daku ini tanpa sadar suka ‘melampiaskan’ keadaan mood buruk itu pada mereka dan ketika daku tanya bagaimana cara menghadapinya, mereka menjawab dengan kasual, “Didiemin aja.” -_-‘

Tapi… apa jadinya kalau moodku itu berpengaruh ketika aktivitasku sedang mengajar? ‘Korbannya’ bisa murid-murid yang tak bersalah. Apa mereka akan bisa memahami layaknya sahabat-sahabat dan ibuku?

Apa yang Menyebabkan Seseorang Bisa Merasakan Bad Mood?

Banyak.

Hal terberat sampai yang paling simpel bisa jadi penyebabnya. Namun singkatnya, faktor yang bisa mendatangkan bad mood intinya ada 3:

  • Adanya tekanan. Yaitu ketika kita, sadar atau tidak, merasa tertekan dalam melakukan sesuatu.
  • Faktor hormon. Namun yang satu ini kadarnya bisa berbeda-beda bagi tiap orang, khususnya bagi yang masih remaja atau yang sedang ‘dapet’.
  • Buruknya komunikasi. Hal ini ditandai dengan kesulitan mengungkapkan isi hati kita yang sebenarnya serta ketidakpekaan orang lain terhadap masalah ini.

Bad Mood Ketika Mengajar, Bagaimana Ini?

Beberapa hari yang lalu, daku ada jadwal mengajar anak MTs dan Madrasah Aliyah. Dari rumah, sebenarnya moodku baik-baik saja. Pikiranku hanya fokus pada anak-anak, proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) nantinya serta latihan seperti apa yang akan diberikan. Sampai kemudian…

“Bu, ada seorang murid baru. Gimana?” begitu info yang disampaikan pihak admin, “Saya sisipkan di kelas privat, ya?”

“Tapi, Pak. Kami sudah ke microsoft excel, sudah masuk fungsi IF,” tanpa ragu, daku utarakan keberatan.

Menyisipkan murid baru di tengah-tengah proses les yang sudah berlangsung lama, atau mengajar kelas dengan jumlah murid yang banyak menjadi 2 hal yang daku tentang.

“Mau bikin kelas baru, enggak ada teman. Mau les sendiri dengan bayaran yang beda, enggak mau. Mau nunggu pendaftar lain, anaknya pengin cepat-cepat belajar,” Beliau menanggapi, tapi tidak menolong moodku yang sedikit terusik, “Kebetulan juga dia mau menempuhnya selama 2 bulan saja, jadi tanpa sertifikat…”

“Tetap aja Dian pengin tahu dulu gimana dia~”

“Dia itu baru lulus SMK dan sudah pernah belajar komputer sebelumnya, jadi pastinya  sudah familiar~”

“Bukan begitu juga, Pak~”

Daku tertekan dan kesulitan menjelaskan, apalagi ketika melihat formulir pendaftaran yang sudah terisi identitas seseorang. Jadi, apa tujuannya diskusi singkat ini?

“Saya sudah bilang sama anaknya, les dia bisa dimulai hari Jumat nanti~”

“………”

Oke… jadi intinya daku, mau tidak mau, mesti menerima dan sedikit mengubah rencana. Sebelum melanjutkan materi yang sudah tersusun, daku mesti melakukan pendekatan dulu terhadap murid baru. Apa dia bisa mengikuti kelas atau tidak? Apa oke baginya kalau daku enggak menjelaskan dari awal? Apa dia punya motivasi besar untuk mengejar ketertinggalan? dst.

mood swings guru ketika mengajar

biffno.deviantart.com

 

Pengaruh Guru yang Bad Mood Terhadap Murid-muridnya

Eiiy… mirip judul skripsi, ya? -_-

Tapi memang… siapapun itu, bad mood bisa berpengaruh terhadap orang di sekitar. Ibaratnya orang yang makan nangka, lalu kiri-kanan terkena getahnya. Daku sadar, ‘secuil diskusiku’ dengan pihak admin memang sedikit mengusik. Pengaruhnya:

  • ‘Penampilan’ kita pasti beda, no matter what.
  • Konsentrasi mengajar pasti pudar.
  • Kita lebih cepat lelah.
  • Selain stress, kita jadi lebih sensitif. Cukup bahaya kalau siswanya begitu dekat dan gemar bercanda dengan kita. Bahaya juga kalau kita mesti membuat keputusan akan segala sesuatu ketika mood buruk itu terasa.
  • Siswa akan lebih canggung dan ‘ikut stress’.
  • Antusias kelas akan drop.
  • Kelas lebih membosankan dan tidak berkesan.

Hal-hal yang Perlu Diingat Ketika Bad Mood Menyerang Ketika Mengajar

Ada lagi pengaruh lain dari bad mood di kelas?

Apapun itu… pengaruhnya memang enggak baik, ya. Ketika mengalaminya lagi, ada banyak hal yang mesti kita ingat. Yaitu…

  • Kita sangat berpengaruh terhadap dinamika kelas. Guru bahagia, kelas juga kemungkinan besar akan cerah-ceria. Guru bad mood, kelas akan bad mood?
  • Siswa akan mudah mendeteksi perubahan mood gurunya, sehingga mereka bisa takut, canggung atau bahkan kecewa terhadap kita.
  • Mood buruk tak akan membantu KBM sama –sekali. -_-
  • Hal lain yang perlu diingat; siswa tidak bertanggung-jawab apa-apa atas mood kita. Kecuali kalau kita memang bad moodnya ketika KBM berlangsung.

Cara Mengatasi Bad Mood Ketika Mengajar

Ada pepatah mengatakan,

“Tersenyumlah dan dunia akan tersenyum padamu~”

Tapi pepatah atau kata bijak apapun kadang enggak bisa kita telan begitu saja, ya. Tidak mudah. Tidak sederhana. Namun mau enggak mau mesti diatasi. Beberapa tips atau usaha yang perlu kita lakukan ketika bad mood melanda di kelas adalah:

  • Kalau memungkinkan, selesaikan dulu masalah yang membuntuti kita.
  • Kalau tetap bad mood, kerahkan skill akting kita. Yang penting, begitu kita melihat pintu kelas… tinggalkan masalahnya di luar, jangan di bawa ke dalam dan merepotkan aktivitas kita dengan para siswa.
  • Segaring apapun, usahakan untuk melepas joke atau candaan, supaya tensi di kelas yang sedikit tegang bisa berubah regang. Hal ini bermanfaat ketika siswa sudah bisa ‘mencium’ bad mood kita. Tapi dengan bercanda, kita seperti memastikan pada mereka kalau segala sesuatunya baik-baik saja. Ah yeah…
  • Menyetel musik di kelas (karena di tempat les, daku biasa melakukannya). Pilih lagu yang sesuai, yang bisa membuat suasana jadi rileks.
  • Hargai kedatangan atau keberadaan siswa. Mereka sudah repot-repot mendatangi kelas kita untuk belajar dengan bahagia, bukan untuk menyicipi didih darah kita, bukan?
  • Perhatikan, barangkali ada siswa yang butuh pertolongan. Dengan menolong seseorang, apalagi kalau kita dihadiahi ucapan ‘terima kasih’ dan senyuman… bad mood pasti berkurang, ‘kan?
  • Bergerak, kelilingi kelas atau hampiri masing-masing siswa. Jangan biarkan kita nempel terus di tempat duduk, lalu makin larut terhadap apapun hal menyebalkan yang sudah mengganggu.
  • Bicarakan. Maksudnya, kita bisa saja curhat terhadap rekan kerja atau teman via sms, telpon atau media sosial.
  • Makan sesuatu. Cokelat atau sup panas, misalnya?
  • Menangis. Tapi tentu tidak live di depan para siswa.

*Menghela napas.

Iya. Bad mood adalah salah-satu pengalaman yang sering melintasi kehidupan. Namun bukan berarti kita mesti pasrah dan membiarkannya ‘menunggangi’ segala aktivitas. Sebaliknya, kita yang mesti mengendalikan itu semua. Lagipula…

Bicara soal mood, kadang sebenarnya orang-orang juga tidak begitu paham kita ini maunya apa. Diri kita sendiri yang lebih tahu dan memahami. Err… sepakat, ‘kan? [#RD]

2 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *