Mengajari Laki-laki, Mempelajari Laki-laki

Mengajari Laki-laki, Mempelajari Laki-laki

mengajari laki-laki, mempelajari laki-laki, sifat laki-laki dari cara berpakaian, memahami karakter laki-lakiKata laki-laki, perempuan adalah makhluk yang sulit dimengerti. Kalau dibalik, kata perempuan, laki-laki juga jadi makhluk yang sulit dipahami. Bagaimana? Setuju, tidak? 😀

Ya udah deh…

Bicara soal karakter, kita memang enggak bisa ‘pukul rata’, ya. Ah semua perempuan itu sama saja. Ah semua laki-laki gitu-gitu juga. Well, setiap individu pasti punya keunikan karakter masing-masing. Ada yang gampang ditebak, ada pula yang menyimpan misteri. Iya, ‘kan?

Ekhem, jadi  ceritanya… untuk periode April ini, salah-satu kelas yang daku handle di lembaga kursus yaitu kelas privat. Kelas ini terdiri dari 3 laki-laki. Anak SMA (D), lulusan SMA baru (A) dan lulusan SMA lama (H). Karena statusnya privat, maka ada perbedaan mencolok untuk mereka. Ya, pembayaran dobel dan waktu belajar kami yang sampai 2 jam lamanya. Daku juga secara otomatis menambah porsi materi di tiap pertemuan.

Sebenarnya ini bukan kali pertama daku berurusan dengan ‘murid’ yang semuanya laki-laki. Tahun kemarin daku sempat diberi amanah untuk mengajar 2 orang bapak-bapak. Alhamdulillah mereka sudah ‘lulus’. Mudah-mudahan ilmu komputernya bermanfaat ya, Pak Ade dan Pak Dudin. Aamiin. 🙂

Dari awal kami ketemu, daku bisa pastikan mereka memiliki karakter yang berbeda. D itu cukup enerjik, tangkas dan mudah menyerap. A itu kalem dan seperti lebih hati-hati atau banyak pertimbangan. Sementara H… pendiam di awal, tapi lama-lama mulai bisa menginisiatif obrolan. Rasa ingin tahunya juga cukup tinggi.

Ada beberapa catatan awalku untuk mereka:

 

“Mengintip” Karakter Laki-laki dari Outfitnya

Jadi daku suka enggak sadar mengantisipasi pakaian mereka -_-‘. Daku suka cara ketiganya berpakaian; simpel, tapi fashionable. Kalau D sama A gemar menambahkan aksesoris baik berupa gelang atau jam. Nah, biasanya dari cara berpakaian seseorang, kita bisa ‘meraba-raba’ karakternya juga, ‘kan? Hehe…

Kebetulan ada yang cukup konsisten memakai kemeja. Biasanya mereka itu orangnya ‘lurus’, maksudnya taat dan disiplin. Ia juga terlihat memiliki kemauan keras dan siap berkorban untuk apa yang ia mau itu. Kalau yang memakai kaus, ia orangnya bisa santai, bisa juga sangat serius. Tapi daku mesti hati-hati, sepertinya ia tipikal yang ‘enggan diintervensi’ pekerjaannya. Hehe…

Oh ya, ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan namun menarik. Daku, D, A sama H memakai pakaian dengan warna senada; biru jeans tua.

Laki-laki yang On Time

Ini jadi catatan pentingku, sebab pada pertemuan perdana, D dan A datang lebih dulu dariku. Daku simpulkan mereka ini orang on time. Sementara H menyusul kemudian. Semakin ke sini, D dan A selalu datang tepat waktu, lalu H keteteran tapi kemudian mengikuti irama kami. Ini modal yang bagus buat… kami.

Antusiasme

Daku berusaha untuk menetralkan perasaan ketika mengajar. Maksudnya tidak ‘begitu antusias’ ketika akan bertemu grup A, lalu malah ‘berubah bad mood’ ketika bertemu grup B. Hal ini beneran sulit. Daku kadang bertanya-tanya, apa mereka juga seperti ini. Maksudnya memiliki semangat yang kadang up dan kadang juga down. Apalagi di usia labil begini (?) :p

Salah-satu tanda yang bisa daku lihat tentu dari kehadiran dan proses belajarnya. Sampai postingan ini ditulis, grup D-A-H selalu hadir. Lengkap. Ketika belajar pun mereka masih memiliki rasa ingin tahu. Jadi daku malu sendiri kalau sampai merasa lelah sebelum melangkah. x_x

Apa Laki-laki bisa Terbuka akan Hal-hal Privatnya?

Daku yakin kebanyakan laki-laki itu tidak mudah menjatuhkan kepercayaan, apalagi mengenai hal-hal pribadi dalam dirinya. Maka dari itu, kebanyakan persahabatan bromance lebih mereka pilih. Selain punya sahabat sesama laki-laki, biasanya mereka juga akan membangun brother bond yang keren. Saling mendukung dan menguatkan.

Suatu kehormatan bagi seorang perempuan, andai ada laki-laki tertutup yang menaruh kepercayaan padanya. Ia mesti memberinya waktu, tidak terlalu mendorong akan menumpahkan isi hatinya, lebih banyak jadi pendengar dan bertindak, berusaha menyisihkan waktu sesering mungkin, dst.

Soal keterbukaan hal-hal yang pribadi, daku lihat hal itu ketika memberi latihan berupa isian kolom. Di sana ada isian yang cukup pribadi semisal tanggal lahir dan status (kawin/belum kawin). Ada yang mengabaikannya alias tidak mengisinya. Di sini daku mesti menghormati. It’s not a big deal, tapi tetap jadi ‘bocoran’ kalau sebagian dari mereka kurang nyaman untuk membuka diri.

Apa Laki-laki Senang Dipuji atau Digombalin?

Apa perempuan itu senang digombalin? Iya. Tapi banyak faktor yang bisa membuat gombalan itu berhasil, atau justeru gagal total. Sekarang sebaliknya… apa laki-laki senang digombalin? Hmm.. kalau daku boleh bilang, iya… laki-laki itu amat senang diapresiasi. Baik itu keberadaannya, usahanya, penampilannya, dsb. Khusus untuk murid-murid anak sekolahan, daku bisa sedikit gombal mengapresiasi mereka. It works. 😀

Mereka tak akan nyaman jika dikritik atau dikoreksi, apalagi di depan orang lain. Baik itu di sekitar teman sejawat apalagi yang lawan jenis. Bagaimanapun, laki-laki punya ego tersendiri.

Makanya daku enggak heran ketika ada kasus seorang anak laki-laki tidak senang belajar sama guru A, karena dia punya pengalaman buruk. Guru tersebut menyuruhnya maju ke depan untuk menampilkan sesuatu. Dia enggan karena enggak bisa, sementara sorot mata semua teman – laki-laki dan perempuan – tertuju padanya. Dari sana dia merasa dipermalukan dan merasa sebal dengan sang guru. Padahal tujuan guru tersebut baik, buat melatih rasa percaya diri sekaligus menguji kemampuannya. Tapi ya… itu.

Laki-laki itu Konsentrasinya Bagus, Tidak?

Ada kebiasaan kecil yang sering daku dan murid-murid SMA-ku lakukan ketika kami belajar. Karena belajar komputer, kadang mereka daku beri bahan buat diketik. Nah ketika proses mengetik itu, kami sering mendengarkan musik. Beruntung ada file lagu-lagu Peterpan lengkap. Hehe… daku bahkan (tadinya) hendak meminta mereka untuk membawa air minum. Tapi karena takut berisiko tumpah, jadinya kebijakan itu urung daku laksanakan.

Nah ketika pertama-tama belajar sama D-A-H, daku sedikit enggak nyaman. Situasinya itu… hening banget. Awkward. Hanya ada suara keyboard dan kertas yang terusik. Jadi heran sendiri, mereka bisa begitu fokus dan seperti nyaman dengan suasana yang ada.

Sementara daku ketika menulis, seringnya itu sambil mendengarkan musik. Daku jadi berpikir, apa laki-laki itu cenderung jadi pendengar yang baik? Maksudnya mereka bisa begitu konsentrasi sama apa yang sedang dihadapi. Sementara kalau perempuan… meski sedang mendengar teman curhat pun, kalau ada suara lain yang terdengar, telinga pasti langsung merespons. Hehe…

Agar daku enggak tidur dan agar bisa tahu apa mereka oke-oke aja kalau belajar disertai musik, daku pun berinisiatif menerapkan kebiasaan mengetik sambil mendengar musik. Sampai sekarang sepertinya metode tersebut berjalan lancar. Walau daku sempat memutar beberapa jenis lagu. Awalnya slow rock barat (biasa saja), R n B (sepertinya suka yang macam Rihanna, sebab mereka terlihat menggerak-gerakkan kepala tanpa sadar), lagu-lagu Peterpan (karena familiar, mereka ikut bersenandung) dan lagu pop Indonesia yang enggak kekinian aka jadul. Walau daku pengin dengerin Scorpion, tapi sepertinya dua lagu terakhir jadi hasilnya.

~

Ini hanya pengalaman kecil ketika mengajar. Sebenarnya pembahasan yang satu ini bisa merambat. Tapi daku sudahi saja, ya. Oh ya, tidak semua Bro-Sist mesti percaya dan setuju pandanganku soal lelaki (khususnya yang daku kupas ini). Pendapat orang bisa berbeda, bukan? Hehe…. [#RD]

*Gambar: Cover Buku Mystery Man (Dream Man) By Kristen Ashley

4 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann
    • prajuritkecil99
  2. deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *