13 Hal yang Membuat Perempuan Begitu Menyesal

13 Hal yang Membuat Perempuan Begitu Menyesal

13 penyesalan hidup seorang perempuan

via: lostmyv.com

Adakah Bro-Sist yang tidak pernah mengenal kata “menyesal”?

Rasa-rasanya hampir tidak mungkin, ya? Hehe~

Sebagian besar orang tentunya pernah mengalami penyesalan. Baik itu level rumit atau pun level sederhana seperti salah memilih salah memilih warna kerudung, salah masuk gang untuk menuju ke suatu tempat, atau salah masuk angkot yang ternyata di dalamnya ada orang sedang merokok.

Dalam hal “sesuatu yang disesali” oleh laki-laki dan perempuan memang cukup berbeda. Sekarang daku pengin membahas khusus dari sudut pandang perempuan. Oh ya, daku tidak membuat ranking untuk penyesalan tingkat tinggi sampai yang rendah. Sebab, penyesalan seseorang tentunya berbeda-beda. Namun sepertinya kita setuju kalau penyesalan terbesar kita adalah…

…sesuatu yang amat sangat ingin diubah, tapi sudah terlambat dan tak bisa diotak-atik lagi.

13. Tidak Menjadi Saksi Pertumbuhan Anak

poto ibu mengabaikan pertumbuhan anak

via: dailymail.co.uk

Poin ini jadi sesuatu yang disesalkan oleh laki-laki atau perempuan. Namun sepertinya, perempuan lebih terkena dampaknya. Memang… zaman sekarang perempuan itu tak mesti terus-terusan diam di rumah. Sudah lumrah kalau perempuan itu ‘keluar’, bekerja, berbisnis, berkarier dan pokoknya ikut menjadi penopang keluarga. Namun realita inilah yang kadang membuat seorang perempuan, yang sudah memiliki anak, untuk menyesali waktu yang dihabiskannya.

Ada momen di mana ia begitu terpukul. Misal ketika menyadari sang anak yang ternyata sudah tinggi-besar atau sudah bisa ini-itu. Namun mereka seperti tidak memiliki ikatan yang kuat dengan ibunya dan lebih dekat dengan pengasuhnya (neneknya, tante-tantenya atau mungkin baby sitter). Saat itu kemungkinan si perempuan memikirkan sesuatu yang tidak mungkin,

Andai anakku kembali jadi bayi~

~

12. Tidak Memiliki Anak atau Memiliki Anak, Tapi Tidak Menjadi Ibu yang Baik

tidak menjadi ibu yang baik

via: phdinparenting.com

Tidak memiliki anak karena takdir bukanlah sesuatu yang perlu disesalkan. Mungkin ada ‘pesan atau hikmah tersembunyi’ di dalamnya. Namun melakukan usaha karena sengaja tidak ingin memiliki anak mestilah dipertimbangkan konsekwensinya. Lebih lagi… anak adalah anugerah, sumber rezeki, sumber kehangatan keluarga, sumber pahala dan tentunya jadi keturunan yang akan mengalirkan pahala manakala orang tuanya tiada.

Yang satu ini juga mirip dengan poin sebelumnya (13). Tapi kondisinya sedikit lain. Sekarang si perempuan memang bisa menghabiskan waktu dengan anaknya, namun ia sadar sudah jadi ibu yang cukup buruk. Terlihat dengan anaknya yang (maaf) bandel, tidak dekat/ terbuka dengannya, dstb. Apalagi kalau si perempuan itu memiliki lebih dari seorang anak dan tidak bisa mengekspresikan rasa sayangnya dengan adil.

~

11. Tidak Menjadi Anak yang Baik

menjadi anak yang baik, anak perempuan mencium jidat ibunya

via: stiryoursouls.blogspot.com

Perempuan itu enggak akan menyadari betapa berharganya seorang ibu, sampai nanti ia sendiri memiliki anak dan menjalani kehidupan sebagai seorang ibu…

Begitu salah-satu kata-kata Mimih yang selalu daku ingat. Hhh… Ada fakta yang menyedihkan namun tak bisa kita hindari; kalau kita dan orang tua, suatu saat nanti, akan dipisahkan masa. Mereka yang terlebih dahulu ‘pulang’, atau sebaliknya.

Bagi seorang perempuan (pasti laki-laki juga), ada bagian hidup yang paling menyedihkan, tragis dan bikin menyesal. Yaitu ketika ia menyadari sudah jadi anak yang buruk, namun tak punya daya upaya untuk memperbaikinya sebab orang tua sudah tiada. Ia juga sudah tak memiliki kesempatan untuk bilang ‘maaf’ secara langsung, apalagi memeluk dan mencium punggung tangannya.

~

10. Kecanduan yang Sulit Dikendalikan

perempuan frustasi karena kecanduannya

via: decodingabundance.com

Seperti yang kita tahu, banyak hal negatif yang bersifat adiktif aka bikin kecanduan. Termasuk merokok, nge-drugs, ‘minum’, dst. Semua itu bisa menyerang siapa saja, dengan gender laki-laki maupun perempuan. Khusus bagi kaum hawa, tentu saja kecanduannya ini amat mengganggu dan mengusik kualitas hidup. Apalagi kalau kebiasaan itu begitu sulit untuk dipupus. Para perempuan yang terpelanting ke dalamnya banyak yang menyesal sebab sudah mendekat, mencoba dan akhirnya ‘nempel’ dengan sesuatu yang bikin nyandu itu.

~

9. Melakukan Perawatan yang Justeru Merugikan

perawatan tubuh atau wajah yang justeru membahayakan

via: dreamstime.com

Daku ingat betul betapa ‘mewanti-wantinya’ Mpok Atiek, yang tidak merekomendasikan kaum perempuan untuk melakukan operasi silikon. Beliau bilang, pasang silikon itu murah (menurut kantongnya) dan efeknya lumayan. Tapi ternyata pengaruhnya hanya sementara. Kalau sudah lama-kelamaan malah wajahnya terasa ‘makin tidak beres’. Beliaupun mesti mencabut kembali silikonnya dan harga yang mesti dibayar untuk usaha itu amat sangat mahal. Perawatan lain bisa berupa diet yang ternyata mendatangkan penyakit anorexia, operasi plastik yang ternyata tidak sesuai harapan, dsb.

~

8. Menolak Cinta Demi Harga Diri/ Ego

perempuan menyesal karena membiarkan cinta sejatinya pergi

via: cekc.mn

Pernahkah mengalami kondisi seperti ini? Di mana ada seseorang yang menyatakan perasaannya. Di mata kita, sebenarnya dia itu baik. Tapi entahlah, ada sesuatu yang membuat kita ragu. Lebih tepatnya ego kita yang menghalangi diri untuk belajar menerimanya. Semua itu tak akan berubah derita, sampai kemudian orang yang kita tolak itu bangkit dan sukses move on dengan orang lain. Mereka bahagia dan si perempuan sempat meringkuk dalam penyesalan.

~

7. Tidak Sempat Mengapresiasi Orang-orang Di Sekitar

menyesal karena belum mengungkapkan cinta atau apresiasi pada orang-orang sekitar

via: myview-shy.blogspot.com

“Aku mencintaimu~”

“Terima kasih, kamu sangat berharga bagiku~”

“Sungguh, kalian begitu berpengaruh dalam hidupku~”

Mengatakan kalimat-kalimat di atas pada ibu, pada kakak, adik, sahabat atau orang-orang penting dalam hidup kita, bagaimana rasanya?

Mungkin canggung, ya? Kita biasanya bercanda, adu argumen atau gokil-gokilan. Entah apa jadinya kalau kita benar-benar mengatakan hal-hal semacam itu secara live? Kalimatnya terbilang sederhana dan cheesy, tapi itulah suara hati kita sebenarnya.

Bagaimanapun, ungkapan perasaan itu cukup penting untuk dilakukan. Karena itu, seorang perempuan bisa menyesal manakala tak bisa memutar waktu untuk ‘berterima kasih’ pada orang-orang di sekitarnya. Kalau belum berani bilang secara langsung, paling tidak, mereka bisa mengutus diary sebagai perwakilannya.

~next-page-RD-300x100-1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *