13 Tips Bergabung dengan Haters Pensiun

13 Tips Bergabung dengan Haters Pensiun

13 tips bergabung dengan haters pensiun

papamore.blogspot.com

Tak hanya preman saja yang bisa pensiun, haters juga bisa. Hehe~

Sebagaimana rasa cinta, rasa benci pun memang nyata adanya. Tapi apa kita mesti gabung jadi haters dan menebarkan kebencian itu? Pada para artis, tokoh, tetangga, rekan kerja, teman sekolah atau bahkan orang lewat, misalnya? Hmm… kedengarannya evil juga, ya? Negatif, gitu.

Mungkin kita akan membela diri dengan bilang, “hey daku ini punya alasan tertentu untuk membenci seseorang!”

Baiklah. Tapi paling tidak, kita ‘kan sedang bertatapan dengan bulan Suci Ramadhan. Indah rasanya kalau segala sesuatu yang negatif mulai kita tanggalkan, termasuk juga aura benci. Lebih nyaman rasanya kalau memandang sesuatu, kejadian atau orang-orang, dengan pandangan baik atau positif.

Tapi kalau kita sudah nyemplung jadi ‘penganut’ haters, bagaimana? Sama. Hehe… daku juga pengin tahu tips-tipsnya. Jom!

  

#1. Ingat-ingat Awal Mula Jadi Hater. Sadar atau tidak, kadang kita sudah memiliki perasaan benci berlebihan terhadap sesuatu atau seseorang. Sebelum benar-benar pensiun jadi hater, ada baiknya kita evaluasi diri lagi; kenapa sih kita membenci Si A? atau grup musik X? atau film Z? Periksa kalau-kalau kita ini iri/ cemburu atas kesuksesan mereka. Kalaupun bukan, lalu? Terus, apakah kebencian ini sudah mengubah diri kita jadi orang lain yang jahat?

 ~

#2. Kita Semua Ciptaan Allah Swt. Pernah enggak, merasa benci karena fisik? Duh daku dan teman pernah mendiskusikan hal ini. Kami sampai pada satu kesimpulan kalau membenci karena alasan ini sama-sekali enggak bikin pamor naik. Jelek, malah. Kala kita membenci seseorang karena dia tidak cantik/ ganteng tapi pede minta amplop, atau karena bibirnya anu, kulitnya anu, dsb, saat itu juga kita sedang mengomentari ‘kreasi’ Allah Swt. Berarti kita juga mengejek-Nya? Oh…

~

#3. Mulai Hindari/ Hentikan Sikap Membandingkan Diri dengan Orang Lain. Bagaimanapun, sikap seperti ini biasanya lebih mengarah pada efek negatif. Antara tinggi hati dan rendah diri. Tinggi hati karena kita menganggap orang lain lebih kurang dari kita; penampilan kita lebih oke dari mereka, selera musik kita lebih tinggi dari mereka, fansclub yang kita ikuti lebih kece dari mereka, dst. Tak jarang, banyak yang saling benci karena perbedaan ini. Padahal… perlukah?

Atau kita justeru berpikiran; popularitas mereka lebih menanjak dari kita, gaya hidup mereka lebih keren dari kita, hidung mereka lebih menjulang dari kita, dst. Padahal kita mesti sadar kalau Allah Swt tidak menciptakan produk massal. Dia memberikan keistimewaan pada masing-masing makhluknya.

 ~

#4. Mulai Stop Sikap “Menjudge” Orang Lain. Daku selalu ingat satu dari sekian pesan Ustadz Jefri (Alm). Intinya jangan sampai menjudge orang yang (terlihat) dari luar seperti lebih ‘rendah’ dari kita. Misal ketika bertemu dengan orang bertatto lalu kita langsung menghakimi (walau dalam hati).

Mungkin sebagian sudah familiar dengan ucapan “orang alim punya masa-lalu, orang pendosa punya masa depan”. Padahal who knows atuh kalau mereka (yang kita judge itu) ternyata lebih mulia. Bisa saja mereka punya sisi baik, amalan yang belum tentu bisa kita jalankan atau punya masa depan yang barangkali lebih cerah dan mencerahkan dibanding kita.

Hidayah Allah Swt, siapa yang tahu. Umar Bin Khattab, sosok yang dulunya sangat benci dan dibenci Islam pun, pada akhirnya jadi panutan bagi umat.

kampanye lets love more and judge less

“Jom perbanyak sikap mencintai dan kurangi sikap menghakimi.”

 ~

#5. Miliki Makna Hidup Tersendiri. Sebagaimana kita tahu, banyak hal dalam hidup yang didefinisikan secara berbeda oleh orang-orang. Cinta, kebahagiaan, kesuksesan, dsb. Sebut saja ‘sukses’. Orang ada yang menganggap kalau sukses itu adalah ketika seseorang memiliki jabatan tinggi, atau memiliki uang banyak, atau memiliki fans bejibun, dsb.

Deskripsi seperti itu tentunya keliru. Karenanya, kita mesti ‘berani’ untuk keluar dari kekeliruan yang pastinya mayoritas itu. Jadi diri sendiri, berbahagia dan membahagiakan orang lain… ketimbang dengan ‘terlalu mencurahkan perhatian’ pada kebahagiaan orang, lalu mencemburui atau mengharapkan yang jelek-jelek pada senyuman mereka.

~

#6. Pertimbangkan Sebelum Bertindak. Hmm… di zaman media sosial seperti sekarang, orang bisa asal bikin akun dan asal jeplak juga ketika mengekspresikan dirinya. Apalagi ketika kita menjadi haters sesuatu. Perkataan kasar, meme keterlaluan, komentar nyelekit atau video sarkastik berhamburan. Padahal sebelum semua itu kita lakukan, ada baiknya kita mempertimbangkan hal-hal seperti:

  • Apa-apaan sih tujuannya? Kita ngelakuinnya buat apa?
  • Perolehan keuntungan sama kerugiannya lebih banyak mana?
  • Kalau semua itu ditujukan sama kita, bakal gimana ya? Pasti ‘perih’ banget.
  • Dosakah? (yakin masih bertanya?)
  • Andai orang itu ada di hadapan kita, apa berani tetap mengungkapkan kebenciannya? kalau enggak, apa kita enggak ada bedanya sama seorang pecundang? yang berani koar-koar kebencian dibalik layar PC, lepi, neti atau ponsel?

~

menghindar

tomstuart.org

#7. Hindari Saja Apa yang Dibenci. Benci penyanyi A? ya sudah jangan dengar lagunya, jangan menonton penampilannya, jangan nge-like FP-nya, jangan follow IG-nya, jangan membeli kasetnya dan jangan juga aktif di forum yang sedang membahas tentangnya. Mungkin hal inilah yang kadang unik dari seorang hater; membenci tapi terus ‘mengikuti’. Padahal sebenarnya kita bisa balik badan, yakni dengan fokus pada apa yang kita suka.

~

#8. Jawab dengan Jujur dan Adil (macem pemilu aja -_-), Apa dengan Jadi Haters… Kita dan Orang yang Dibenci Bakal Lebih Baik dan Sama-sama Masuk Syurga? Tiap kali menanyakan hal ini pada diri sendiri, daku pengin beli stok makanan dan minuman, terus gali lubang, terus ditutup lubangnya dan menghindari diri untuk menjawabnya. Malu~~

~

#9. Ingat Orang Tua. Kok bisa bawa-bawa orang tua? Hmm… bayangkan saja kalau orang tua kita tahu kalau anaknya seorang haters, apa mereka bakal bangga? Kalau bangga, sepertinya ada ‘sesuatu enggak beres’ dengan orang tua itu. Pastinya mereka tidak bangga dan malah bertanya-tanya, “Nduk, daddy sama mommy ‘kan sudah mendidikmu dengan baik dan benar? kok..? duh.”

~

#10. Kita Tidak Benar-benar Tahu dan Memahami Orang Lain. Di zaman sekarang, berita-berita mengejutkan sudah hampir tidak lagi menjadi kejutan. Ini amat sangat mengerikan. Maaf… kita sepertinya tak akan menganga atau pingsan lagi ketika mendengar berita “guru mencabuli muridnya”, “artis X mengemudi dalam keadaan mabuk”, “Kyai Kondang Z Selingkuh”, “Pasangan P-Q Mengakhiri Pernikahan 62 Tahun Mereka”, dst.

Sudah bisa dibayangkan kalau judul-judul itu akan berpotensi haters. Semua orang akan menghujat, menghakimi, mengecam pokoknya mengucurkan komentar bahkan semacam doa-doa jelek. Selain semua itu tak banyak berpengaruh (toh sudah kejadian), hal itu juga jadi tanda kalau kita ini sebenarnya tidak tahu apa-apa.

kita tak saling memahami

sweetanniesjewelry.wordpress.com

Mungkin masalah besar hinggap di bahu mereka? mungkin masa lalu pahit masih menghantui mereka? mungkin mereka selama ini tengah berjuang melawan nafsu namun suatu waktu khilaf dan jatuh? mungkin seseorang menjebak mereka? dan kemungkinan-kemungkinan lain. Hanya Allah Swt yang Maha Tahu alasan-alasan memungkinkan di balik tindakan mereka.

Namun bukan berarti kita membela keburukan. Kita hanya mesti ‘mengalihkan’ sikap. Yang tadinya hanya menumpahkan sumpah-serapah, jadi memilih untuk mendoakan saja. Berbuat dosa bukan berarti pintu ampun dari Allah ditutup rapat, digembok dari dalam bahkan mesti memakai password yang membingunkan untuk membukanya. Dia saja Maha Pengampun, kenapa tidak kita memilih untuk mensupport dengan mendoakan kebaikan bagi mereka? sekaligus memohon perlindungan untuk diri kita dan keluarga?

~

#11. Menjadi Haters itu Melelahkan Tapi Tidak Menghasilkan. Haters mesti ‘berjuang’ mencari info soal sesuatu atau seseorang yang dibencinya, mesti kreatif memberi komentar atau kritik, mesti berpikir keras agar orang lain terpengaruh dengan opininya, dst. Sayang… usaha-usaha itu tidak akan menuai kebaikan. Sebaliknya.

~

#12. Pikirkan dan Evaluasi Diri Kita Sendiri. Ternyata selama jadi haters ini, apapun alasannya, kita sudha terjebak dalam ‘labirin’ kenegatifan. Kita lebih fokus pada kejelekan pihak lain, ketimbang diri sendiri. Mending kalau fokus dalam memperbaikinya… lha kebanyakan malah fokus membenci, menebarkan kebencian, memengaruhi agar orang juga sama-sama benci dan lupa pada misi memperbaiki diri sendiri.

~

#13. Ada Opsi Lain Selain Jadi Haters. Ketika sesuatu yang dibenci naik ke permukaan, ‘tawaran’ menjadi hater begitu terbuka lebar. Saking lebarnya, kita bisa masuk dan bergabung dengan mudah. Namun ada pintu-pintu yang bisa kita masuki. Kita bisa memilih menjadi bahu yang disandari orang dengan nyaman, menjadi sahabat yang selalu mensupport kebaikan, menjadi ‘komentator dunia nyata atau maya’ yang berkualitas, dsb. Intinya menjadi… seorang muslim yang menjalankan ajaran Islam dengan baik dan benar.

~~~

Ya. Haters juga manusia. Punya rasa, punya hati. Tapi isi hatinya masa kebencian melulu? pasti ada cinta di sana. Cinta bisa jadi salah-satu modal penting untuk ‘keluar’ dari dunia haters.

Jangan benci haters. Sesama haters, baiknya saling mengingatkan dan mendorong kebaikan. Mari membuat dunia ini jadi tempat singgah yang indah. Mari… belajar lagi. #RD

2 Comments
  1. Anisa AE
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *