Cerita Ngabuburit; Yasin itu Nama Panggilanku

Cerita Ngabuburit; Yasin itu Nama Panggilanku

cerita lucu dan inspiratif yasin itu nama panggilanku

metro.co.uk

Nisrina Tuminah Ayu memang ayu alias cantik. Tak heran jika banyak sekali laki-laki yang mendekatinya. Bukannya senang, Nis justeru dilemma.

Dia memegang teguh prinsip untuk tidak memanfaatkan wajah cantik demi menjerat dan menyakiti siapapun. Sayang… dari sekian banyak lelaki yang berusaha mencuri hati, ia menyukai 3 diantara mereka. Begitu curhat pada teman-temannya, mereka malah menyarankan agar Nis menjalani hubungan dengan ketiganya saja. Ide itu langsung Nis tepis. Teman-teman Nis memang kadang-kadang somplak.

Ia juga curhat sama Mommy. Sang Mommy menyarankan agar Nis sholat istikhoroh. Namun karena Nis tidak sabar dan merasa tidak mendapat petunjuk apapun, diam-diam dia curhat juga sama neneknya. Sang nenek malah menggoda. Beliau terus-terusan tepuk tangan sambil bilang,

“Ciyeee…”

Nis yang dongkol langsung menuju ruang depan. Ia mendapati bapaknya tengah mendengar lagu-lagu Sami Yusuf. Walau badannya besar dan jenggotnya menyeramkan, namun sang bapak menyelipkan hati yang lembut, selembut suara Sami Yusuf.

“Poppa~~~”

“Hmm…”

“Poppa,” Nis menggamit lengan Poppanya dengan manja, “Aku bingung, Poppa, mesti milih yang mana?”

Sang Poppa menurunkan volume suara Sami Yusuf, lalu perhatiannya tertuju pada sang puteri, “Siapa aja mereka, hmm?”

“Ada Nasri, Anas sama…” Nis malu-malu menyebut nama terakhir, “Yasin, Poppa~”

“Kamu condong ke siapa?”

Nis mesem-mesem,

“Yasin, Poppa. Dia suka beliin apa yang Nis mau. Tapi Anas itu ganteng banget lho, Poppa! Mirip Charlie Puth! Terus Nasri sama keluarganya juga baik banget sama Nis. Aaaargghhh… Nis bingung!”

“Err… mereka nyata, ‘kan?” pertanyaan Poppa bikin alis Nis naik, “Maksud Poppa, mereka pernah ketemu sama kamu, ‘kan? Enggak cuma di dunia maya?”

Nis mengangguk.

“Emang mereka bikin kamu deg-degan, ya?”

Nis menunduk, menyembunyikan mukanya yang memerah. Ia lalu mengangguk.

“Hmm… kamu tahu latar belakang mereka? keluarga atau saudara mereka, gitu?”

Nis mendongak, mengerjap-ngerjapkan mata sejenak lalu kembali mengangguk.

Pertanyaan Poppa yang lain menyusul. Nis hanya bisa mengangguk dan mengangguk sampai kepalanya pegal. Poppa bertanya “mereka suka ngasih sesuatu?”, “gombal, enggak?”, “bisa ngelindungin kamu, enggak?”, dsb.

“Ya udah… besok suruh ketiganya datang menghadap Poppa, ya?” Poppa mengelus ubun-ubun Nis.

Anak perempuan itu mengangguk sekali lagi, lalu ia ambruk ke pangkuan Poppanya. Sang Poppa yang menganggap Nis tertidur hanya menertawakan, sambil terus mengelus kepala puterinya. Ia tak tahu kalau Nisa pingsan karena kecapean mengangguk.

Esok harinya…

Poppa, Nis, Anas, Nasri sama Yasin duduk di ruang tamu. Mommy absen, sebab beliau mesti mencegah Nenek agar tidak keluar kamar. Maklum saja, begitu nenek tahu siapa yang datang, beliau langsung tepuk tangan dan bersorak,

“Ciyeee…”

Obrolan kecil menggelinding diantara Poppa, Nis, Nasri, Anas dan Yasin. Poppa pengin membuktikan apa satu dari ketiganya ada yang benar-benar cocok mendampingi Nis, puteri satu-satunya yang ia cinta.

“Oke. Sekarang…” Poppa menatap tajam ke arah 3 pemuda di depannya, “Poppa akan ngasih tes kecil sama kalian.”

“Tes kegantengan?” tantang Anas, “Gampang, Poppa!”

“Tes keluarga terpandang?” sambung Nasri, “Bisa, Poppa!”

“Apa tes kekayaan, Poppa?” Yasin tak mau kalah, “Bisa diatur!”

Poppa hanya tersenyum sambil menggeleng-geleng, “Nah Nak Anas, silakan baca surat An Nas.”

Anas yang tidak menduga tes tersebut sedikit gelagapan. Ia butuh beberapa menit untuk menenangkan diri. Namun ia kemudian bisa menyelesaikan pembacaan surat Annas tersebut.

“Sekarang giliran Nak Nasri, silakan baca An nasr.”

Anas yang gugup sering salah. Bukannya membaca An nasr, ia malah mengulang-ulang surah Anas. Setelah beberapa kali koreksi, barulah Anas bisa menyelesaikan tesnya.

Pandangan Poppi beralih pada Yasin. Semua yang hadir berpikir keras. Nis takut Yasin akan menyerah. Sementara Anas dan Nasri begitu senang, sebab mereka yakin Yasin tak akan mampu menjalani tesnya. Keduanya mengaku kalau Yasin adalah saingan terberat mereka.

“Sekarang kamu, Nak Yasin,” Poppa menyeringai menatap anak remaja lelaki di depannya, “Silakan baca surat Yasin.”

“Poppa, Yasin itu cuma nama panggilanku,” Yasin dengan kasualnya tersenyum, “Poppa belum tahu apa nama lengkap aku, ‘kan?”

“Memang apaan?”

“Al Fatihah Yasin Fadhilah,” jawab Yasin penuh kemenangan, “Jadi aku baca surat Al Fatihah aja, ya?”

“………..”

~~~

Pesan:

  • Kriteria pasangan yang dianjurkan mesti memang meliputi penampilan, kekayaan dan keluarga. Namun tetap saja aspek agama jadi yang paling utama.
  • Kalau dilema, kita bisa berdoa pada Allah Swt agar diberi petunjuk sekaligus curhat terhadap orang lain yang amanah dan bijak.
  • …..
2 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *