Cerpen; Dekap Sahabat

Cerpen; Dekap Sahabat

cerpen ega noviantika tema persahabatan

ign.com

Lilin-lilin putih berilah terangmu

Lilin-lilin putih temanilah aku

 

Senandung dan pijatan lembut Evi pada kulit kepala Ega membuatnya begitu rileks. Tubuhnya terasa makin ringan, sementara matanya makin berat. Kelopak matanya mulai tertutup, lalu terbuka dan tertutup lagi. Ia kemudian mendengar seseorang cekikikan,

“Kalau ngantuk ya tidur aja, Beb,” suara Evi, yang pijatannya terasa enak di kepala, “Nanti Gue bangunan kalau udah beres.”

Ega membuat lingkaran dari jempol dan telunjuknya, “Oke, Kak. Suara Kakak bagus juga, euy!”

Matanya yang setengah tertutup melihat Evi lewat kaca besar di depannya. Orang yang selama ini menjaga kesehatan dan kebersihan rambut Ega sekaligus memilihkan kerudung untuknya hanya geleng-geleng, apalagi melihat sosok yang dianggap adiknya itu menguap dengan roman wajah lucu. Namun baru saja Ega melihat gerbang mimpi, ponselnya bergetar.

“Uh!” Ega tersentak, “Siapa sih?” Dia mengambil ponsel yang tergeletak di depannya.

Aura lelah bercampur marah terpancar di wajahnya. Dibangunkan ketika ia begitu mengantuk memang hal yang menyebalkan baginya. Apalagi ia belum sampai dua menit memejamkan mata.

“Ck,” Ega berdecak begitu melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

“Siapa, Beb?” Evi melongokkan kepalanya, namun sambil tetap memberikan treatment terhadap rambut Ega, “Kok enggak diangkat?”

“Biasa, fans,” kata Ega berbohong, lalu membiarkan ponselnya tetap bergetar.

Setelah layarnya mati, Ega menonaktifkan dan kembali meletakannya di atas meja. Ia menyandar dan memijat dahinya sampai merah.

“Aw… Loe baik banget sih, Beb?” Ega dan Evi bertatapan lewat kaca, “Loe nunggu telepon fans berhenti dulu, baru dimatiin, keren!” lanjutnya lalu mengangkat jempol.

Bukannya bangga, Ega justeru merasa sesuatu sudah mencubit hatinya. Yang memanggilnya lewat telepon bukanlah privat number atau nomor asing, melainkan sebuah nama yang dulu sempat menghiasi hari-harinya. Ega menghela napas, sementara hatinya menggumamkan nama… Ika, sahabatnya.

Awal-awal ketika Ega lolos audisi sebuah kompetisi dangdut, dia masih sering berhubungan dengan Ika dan Intan. Mereka bertiga adalah trio sahabat yang tidak terpisahkan.

Di SMA-nya, mereka kerap menghabiskan waktu bersama. Ke kantin, belajar kelompok, window shopping atau menghadiri pengajian di mesjid Syiarul Islam Kota Kuningan.

Namun semenjak Ega masuk 10 besar, bahkan sampai kini sudah keluar, mereka sudah jarang berkomunikasi. Ega tidak suka mengangkat telepon Ika dan Intan, tak akan menghiraukan mention mereka di twitter bahkan tak bertemu langsung ketika pulang kampung ke Kuningan. Kesibukan ia jadikan alasan untuk membenamkan harapan dua sahabatnya.

Apalagi begitu ia menyetujui tawaran dua seniornya, Titik dan Tria.

“Hey,” suara Evi serta sentuhan lembut di pipinya membuat Ega terbangun dari lamunan, “Loe nakut-nakutin Gue aja, Beb. Dari tadi dipanggil-panggil malah enggak ngerespons. Mending kalau matanya ketutup. Loe malah enggak ngedip-ngedip!”

Ega tersenyum lemah, “Maaf atuh, Kak. Hmm…”, telunjuknya menepuk-nepuk dagu sambil manyun, “Ega teh capek~”

Evi menarik napas, tersenyum melihat tingkah adiknya. Dia lalu mendaratkan dua tangannya pada bahu kiri-kanan Ega, “Mau cerita enggak sama Gue?”

Ega tidak buru-buru menjawab. Dia menatap dan menelisik kalau-kalau orang di depannya ini memang dapat dipercaya. Ia memang sedikit trauma untuk mencurahkan isi hatinya. Soalnya ia pernah dikhianati. Kecuali sama Ika dan Intan. Mereka begitu terpercaya.

~~~

Ketika di asrama, Ega sekamar dengan Tria dan Titik. Mereka lebih dewasa darinya. Karena itu, Ega berharap keduanya bisa melindungi dan membimbingnya. Meski Tria dan Titik suka menyuruh-nyuruh, namun Ega menghormatinya.

Suatu hari, Evi dan Tria pernah menginterogasinya. Ega ditanya-tanya apakah suka sama Irwan atau tidak. Ega sempat mengelak, sebab ia sendiri tak meyakini perasaannya. Menurutnya, Irwan memang tampan, tapi ia yakin perasaannya hanya sekadar naksir dan kagum. Tidak lebih.

Ega pun curhat dengan jujur pada Tria dan Titik. Namun tanpa ia sangka, dua orang yang sudah ia anggap kakak itu malah menyebarkannya ke seluruh penghuni asrama. Mereka mengatakan kalau Ega mencintai peserta asal Madura itu. Ia jadi begitu malu dan canggung tiap kali mesti bertemu dengan Irwan.

“Ya udah enggak apa-apa kalau Loe enggak percaya sama Gue, Beb,” lagi-lagi suara Evi membawanya ke dunia nyata, “Santai aja, yang penting Loe bisa segera ngatasin apapun yang lagi Loe hadapin,” lanjut Evi lagi dengan senyum palsu yang ia pamerkan.

“Kak…”

Ega bangkit dari duduknya. Kursi berderit dan menggeser ke belakang. Evi yang kaget tak bisa apa-apa ketika adik kesayangannya sudah melingkarkan tangan ke lehernya.

“Beb?”

Evi hanya memanggil satu kali. Ia lalu membisu, apalagi ketika bahunya terasa hangat. Pasti airmata Ega penyebabnya. Ia pun memilih mengusapkan tangan ke balik punggung Ega. Ke atas dan ke bawah senyaman mungkin.

“Duh maaf pisan, Kak,” Ega melepaskan pelukan, lalu mengusap-usap bahu Endah, seolah-olah sedang mengeringkannya, “Jadi basah, Kak?”

“Untung Loe kiyut, jadi Gue maafin,” Evi mengusap airmata Ega sambil mencubit pipinya, “Nah… udah siap cerita, belum?”

Ega menangis

Baru saja Ega membuka mulut, pintu ruangan make up itu terbuka dengan cukup keras. Suara derap langkah kemudian makin mendekat. Baik Ega dan Evi melirik, lalu melihat Tria dan Titik berjalan tergesa ke arah mereka.

“Eh malah di sini! Ayo, pulang!” tangan kanan Titik mencengkeran lengan Ega, sampai membuatnya meringis, “Hapenya pake matot segala, lagi!” tangan kirinya menepis ponsel Ega dengan kasar, untung Tria langsung sigap menangkapnya.

“Kalau mau kemana-mana tuh ngomong dulu!” kecam Tria dengan nada menahan amarah, namun sambil menyerahkan ponselnya pada Ega, “Kamu lupa sekarang kita mau ngebahas apa?”

Evi berdehem, sampai mencuri perhatian tiga orang di depannya.

“Sorry, nih. Tapi Ega mau ada urusan apa ya sama kalian?”

Titik melepaskan cengkeramannya, lalu menatap ke arah Evi, “Jangan ikut campur!”

~~~

Baca kelanjutannya –> Next..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *