“Do You Diary?”

“Do You Diary?”

do you diary, gadis anime

commons.wikimedia.org

Di kaos yang dipopularkan Kim Taeyeon, ada tulisan, “Do You Instagram?”. Daku yakin, semakin hari semakin banyak yang menjawab, “Yes, I Do”. Iya, ‘kan?

Memang, ya. Sesuatu yang baru bisa menyisihkan bahkan menghapuskan sesuatu yang sudah lama ada. Zaman sekarang saja, ketika dunia media sosial ‘meratulela’… berapa gelintir orang yang menjawab “I Do” pada pertanyaan “Do you diary?”.

Kita semua bisa sama-sama maklum ketika orang menjawab, “No, I Don’t”. Orang-orang yang tidak menulis diary mungkin merasa tidak memerlukannya, malah merasa menulis diary itu jadi beban diri(?).

Beda lagi dengan beberapa orang yang justeru bilang “Yes, I Do”. Mereka inilah orang-orang yang masih setia mengisi diary-nya. Lalu kita mungkin penasaran, kok bisa?

Masih Nulis Diary?

Daku pribadi berusaha menulis diary sekonsisten mungkin. Desakan ini timbul dari hati, bukan suruhan apapun atau siapapun. Sebelumnya tak terpikirkan untuk mempublishnya, baik lewat media sosial, penerbit atau pun blog.

Semenjak Sekolah Dasar, daku sudah menulis diary. Kebiasaan itu terus berlanjut. Ada yang ditulis khusus dalam buku, banyak juga yang tercecer dalam lembar demi lembar kertas. Ada yang blurt (mengungkapkan ala kadarnya), ada juga yang berupa kode atau samar-samar. 😀

diary SMP, diary masa sekolah, menulis diary

Diary #RD lama (tahun 2005)

Senang, puas, bangga dan plong saja rasanya ketika bisa menuliskan segala sesuatu secara detail. Kita seperti merekam hidup sendiri. Sayang… seiring waktu, aktivitas menyenangkan itu menurun. Daku tidak bisa ‘menyambangi’ diary setiap hari. Kadang-kadang hanya mencatat di memo ponsel atau di layar netbook. Itu pun tidak rutin.

Hal itu membuatku seperti merasa bersalah tanpa melakukan kesalahan. Atau seperti didera perasaan kehilangan tanpa ditinggalkan suatu hal. Berlebihan, ya?

Bagaimana lagi? perasaaan-perasaan itulah yang sering menyadarkan kalau… diary itu dibutuhkan. Makanya ia masih ditulis, masih dipertahankan.

Kenapa Kita Mesti Tetap Nulis Diary?

Jawaban untuk pertanyaan ini sebenarnya cukup personal, sehingga orang yang menulis diary bisa jadi memiliki jawaban yang beragam. Kenapa orang masih menulis diary? kenapa orang mesti mencoba untuk mulai menulis diary? Berikut 15 alasan kenapa masih terus menulis diary:

  1. Karena manusia itu pelupa. Sebagaimana kita tahu, otak dan memori manusia memang luar-biasa bagusnya. Namun beberapa hal membuat fungsinya terbatas. Karena itu, diary bisa jadi salah-satu alat yang tepat untuk mengikat kenangan tentang orang-orang, tentang tempat yang pernah kita singgahi, kejadian yang pernah kita lalui, pengetahuan, informasi, dsb.
  2. Karena manusia itu enggan dilupakan. Suatu saat nanti, diary bisa jadi salah-satu ‘perwakilan’ eksistensi kita. Seperti diary yang terkenal, Diary Anne Frank, yang nama dan perannya masih diingat orang karena ia ‘mewariskan’ buku hariannya.
  3. Karena kita bisa merekam aneka kejadian. Kita tahu momen menyenangkan, momen datar, momen konyol sampai momen menyedihkan sempat menghinggapi hidup. Kayaknya sudah naluri manusia, untuk ingin ‘mengabadikan’ beberapa momen berpengaruh itu. Kita akan sadar betapa diary sudah menemani ‘pertumbuhan hidup’ kita. Ya pertumbuhan fisik, pertumbuhan pikiran, pertumbuhan karier, dsb.
  4. Kita bisa mengungkapkan perasaan dan pikiran sebebas mungkin. Kalau ‘di dunia nyata’, kita mungkin terbelenggu oleh banyak hal. Sehingga, isi pikiran dan perasaan kita yang sebenarnya kadang terkunci. Hal itu akan membuat banyak hal terasa mengganjal. Tentu kurang baik, ‘kan?
  5. Menjadi terapi. Mencatatkan kejadian buruk mirip fungsinya dengan menangisi itu semua. Kita seperti punya wadah yang siap menampung muntahan amarah, kesedihan atau kegelisahan. Sehingga beban hati yang tadinya menggunung jadi berkurang. Terapi menulis juga masih bisa nikmati manakala kita dalam keadaan baik-baik saja atau stabil. Bisa dibayangkan… berduaan dengan diary, sambil menuliskan peristiwa yang sudah kita perankan, ditemani minuman atau cemilan. Duh~
  6. Melatih skill menulis. ‘Efek samping’ yang satu ini tentu begitu bermanfaat bagi kita yang serius menggeluti dunia kepenulisan. Baik untuk profesi, atau sekadar hobi. Hampir semua penulis besar memberi saran untuk mengasah skill kita, tidak lain lewat praktik menulis itu sendiri. Dan diary jadi media paling bersahabat.
  7. Merekam kebahagiaan. Kita bisa menjadi saksi bagaimana seseorang menjepret momen bahagia dengan antuasias dan mata berbinar-binar. Alangkah lebih sempurnanya kalau poto atau video kebahagiaan itu disertai dengan informasi detailnya, yang kita sampaikan lewat tulisan. Kita tahu, kebahagiaan itu abstrak. Kadang berita bahagia juga sudah membuat senyum kita melengkung. Kala itulah, kita bisa merekamnya dengan menuliskan aura bahagia itu dalam diary. Jika suatu saat nanti kita kembali membukanya, insya Allah sensasi bahagianya bisa kembali menjalar. Kita akan ‘merasa dilempar’ ke kebahagiaan masa-lalu lagi.
  8. Menuliskan kesalahan. Pernahkah dihantui perasaan bersalah? Hal itu tentu tidak nyaman. Rasa-rasanya kita seperti dibuntuti sesuatu. Karena itu, diary selalu siap-sedia menampung curahan hati kita. Pada siapa merasa bersalah, apa kesalahan kita, apa yang sudah dilakukan untuk memupusnya, dst. Aktivitas ini bisa sedikit meringankan kecemasan.
  9. Menuliskan janji yang belum terpenuhi. Salah-satu hal yang paling dibenci semua orang adalah… janji yang diingkari. Namun kadang, kita sendirilah pihak yang sudah terlanjur berjanji. Agar tak menyakiti pihak lain dan tak membuat diri sendiri gundah, maka penting bagi kita untuk ‘menaruh kepercayaan’ pada diary, agar menjadi alarm yang bisa mengingatkan semua janji itu. Diary adalah salah-satu hal yang bisa diandalkan. Kita bisa menuliskan janji apa yang sempat terucap, pada siapa, kenapa belum dipenuhi, dst.
  10. Menjadi Data UtangPiutang. Hal ini yang jadi salah-satu ‘isi diary’-ku. Daku mencatatkan utang pada manusia, khususnya yang berupa materi. Misalnya utang pulsa ke teman. Lalu daku catat pula utang pada-Nya. Misalnya utang puasa Ramadhan. Hal ini dilakukan, kalau-kalau kita ‘pergi’ tanpa disangka-sangka. Tentu diary ini akan jadi petunjuk yang baik bagi keluarga yang ditinggalkan, serta jadi modal ketenangan bagi yang meninggalkan.
  11. Menjadi semacam catatan wasiat. Lagi-lagi, diary siap menjadi ‘juru bicara’ kita dalam keadaan apapun. Bahkan dalam keadaan bentuk fisik kita sudah tiada. Selama masih bernapas, kita bisa mencurahkan apa yang kita mau seandainya mesti ‘pulang’ dari dunia ini. Syukur-syukur kalau ada keluarga atau orang terdekat yang membuka dan mewujudkannya.
  12. Menjadi wujud apresiasi hidup. Kalau dipikir-pikir, kita sudah mengalami berbagai peristiwa menakjubkan selama ini. Jangan dulu jauh-jauh pada penjuru dunia mana yang sudah dikunjungi. Mengingat kita sudah menarik dan membuang napas selama sekian tahun pun, rasanya diri ini jadi malu. Sebab, lebih sering mengeluhkan hidup ketimbang mensyukurinya. Karenanya, diary jadi wujud betapa kita mengapresiasi apa saja yang sudah dikaruniakan Tuhan. Entah berupa peristiwa yang melengkungkan tawa, atau momen-momen yang memberi pelajaran berharga.

    Poto gadis memeluk aksara dalam buku atau diary

    pinterest.com

  13. Bisa jadi mesin waktu manakala kita pengin ‘kembali reuni’. Ada kalanya bagi kita untuk ‘menengok’ ke belakang. Ke masa kecil, masa sekolah, masa-masa dengan sahabat lama, dst. Kalau kita rindu itu semua, alangkah lebih beruntungnya ketika bisa membaca diary lama. Insya Allah bisa senyum-senyum atau justeru menangis sendiri.
  14. Bisa jujur. Kalau kita bisa menjadi diri sendiri apa adanya di depan Si A, kita pasti merasa nyaman ketika bersamanya. Bisa tertawa lepas, menyampaikan emosi dengan leluasa, berpenampilan ada adanya, dst. Beda cerita ketika bersama Si B, kita seperti jadi orang lain. Penuh kepura-puraan. Percaya atau tidak, peran si A ini bisa diganti oleh sebuah diary. Lewat catatan harian itu, kita bisa membeberkan perasaan dan pikiran sebenarnya. Misalnya tentang kita yang sebenarnya kurang nyaman di tempat kerja, kita yang sedikit terusik dengan seseorang (dengan atasan, rekan kerja, sahabat, pasangan dsb), kita yang keberatan dengan pendapat keluarga, dst.
  15. Menjadi ‘Mak Comblang’ Diri Sendiri. Sadar atau tidak, kadang kita punya ‘banyak suara’ dalam diri. Pikiran ngomong ini, hati ngomong itu. Kita butuh orang lain untuk ikut terlibat dalam ‘diskusi pikiran versus hati’ tersebut. Namun manakala kita tidak bisa meluapkannya pada orang lain, diary bisa jadi jembatan yang tepat. Diary bisa jadi ruang diskusi terbuka, yang insya Allah secara perlahan menggiring kita pada suatu keputusan.

Daku rasa, masih banyak lagi alasan lain kenapa orang menulis diary. Kenapa yang sudah menulis diary mesti tetap mempertahankan kebiasaannya, atau kenapa orang yang belum menulis diary untuk mulai mencobanya.

Yang jelas… diary secara tidak langsung membuat kita, minimal memahami diri sendiri. Atau lebih jauhnya, kita jadi begitu mengapresiasi peranan orang, peristiwa dan tentu Dia yang ada di balik itu semua.

Bagaimana? Do you diary? [#RD]

4 Comments
  1. masmimow
    • deeann
  2. RIZKA ILMA AMALIA
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *