Ketika Hati Tak Merasakan Aura Ramadhan

Ketika Hati Tak Merasakan Aura Ramadhan

merasa hampa ketika berpuasa, tak merasakan aura ramadhan

“Bangku atau Kursi Kosong” karya: Victor Bezrukov

“Ramadhan sekarang kok rasanya beda, hampa, enggak kayak yang dulu-dulu…”

“Kok kayak sama aja dengan bulan-bulan biasa? Bedanya cuma enggak makan dan minum?”

“Karena pulang kesorean, jadi suka bolong sholat taraweh. Terus karena capek, suka enggak keburu tadarus. Bablas tidur sampai ketinggalan sahur. Feeling Ramadhannya bener-bener enggak dapet.”

Astaghfirullaah. Daku mohon maaf kalau “pembukaan” postingan ini sedikit enggak nyaman dan terkesan negatif. Apa yang ditulis adalah beberapa contoh kasus yang akhir-akhir ini kerap dialami beberapa orang.

Apa ada yang mengalaminya juga?

Jangankan yang merasa hampa di tengah riuh-rendahnya Ramadhan, yang tidak melakoni bulan suci ini pun banyak. Iya, ‘kan? Yah… prihatin juga ketika melihat orang, well muslim tepatnya, yang secara terbuka makan dan minum siang bolong.

Tapi ya sudah… Bicara soal “hasil akhir”, kita serahkan saja sama Allah Swt. Ada baiknya kalau lebih fokus pada agenda puasa sendiri. Begitu ‘kan, ya?

Nah ceritanya, suatu hari sebuah akun twitter penerbit ngetweet. Isinya cukup menarik. Intinya mereka menawarkan kesempatan pada followers yang hendak bertanya seputar Agama Islam. Hastagnya #KlinikHati. Namun hanya 2 pertanyaan yang akan dijawab atau dibahas. Daku pun langsung tertarik dan mengirim tweet berikut:

tweet ramadhan hampa pada qultummedia

Tak ada respons, namun daku yakin pertanyaannya sampai. Hari-hari pun berlalu. Daku pikir, oh mungkin pertanyaanku tidak terpilih. Sampai kemudian, akun penerbit @qultummedia kemudian memfollowku [@Dee_Ann_Rose]. Mereka kemudian nge-mention:

Mention Qultum Media

dan…

Mention Qultum Media 2

Daku tak lagi membuang waktu dan segera mengklik link yang mereka berikan. Awalnya daku pikir akan dialihkan ke website resminya, ternyata dibawa ke Fanspage Fesbuk mereka. Berikut inilah jawaban kerennya:

#‎KlinikHati‬ BERSAMA UST. H. A. FULEX BISYRI (PEMIMPIN REDAKSI QULTUMMEDIA)

Pertanyaan:
Saat Ramadhan saya kadang-kadang merasa senang tapi kadang juga merasa hampa. Apa yang terjadi dengan hati kita, ya? Bagaimana solusinya? #KlinikHati (dari @Dee_Ann_Rose)

Jawaban:
Dee Ann yang baik, beruntung banget kalo kita senang ketika Ramadhan tiba dan bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk dan penuh keimanan. Ibarat menyambut kekasih pujaan, hati kita berdebar-debar dan segalanya kita persiapkan. Setelah datang, kita sambut dengan riang dan penuh kehangatan.

Nah, bagaimana kalau hati kita hampa dengan kedatangan Ramadhan? Tenang. Tak perlu galau. Justru masih beruntung kalau kita menyadari dan merasa bahwa hati hampa ketika datang Ramadhan, karena banyak juga orang yang cuek saja dengan kedatangan Ramadhan dan tak melaksanakan ibadah sebaik-baiknya.

Meski hati hampa, kita mesti berusaha menjalankan ibadah bulan Ramadhan. Ini tandanya kita masih punya iman. Hati hampa itu bisa jadi karena ada masalah dengan teman, dengan keluarga, dengan kerjaan, atau mungkin karena tak tahu keutamaan-keutamaan Ramadhan. Yang penting kita berusaha menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan segala kebaikan.

Kalau hati hampa, solusinya sebagai berikut:

  1. Perbanyak zikir, karena dengan berzikir hati kita akan jadi tenang;
  2. Jangan malu ikut mengaji, baik ikut pengajian maupun baca buku-buku agama;
  3. Banyak bersyukur atas kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk berbuat kebaikan, karena umur kita tidak ada yang tahu. Bisa jadi kita tidak bertemu Ramadhan tahun depan dikarenakan kita sudah dipanggil Yang Mahakuasa. Maka, jangan sia-siakan kesempatan berharga ini.

Semangat ya!

~~~

Nah, sekalian daku kutip juga pertanyaan sekaligus jawaban lainnya. Berikut hasilnya:

#‎KlinikHati‬ BERSAMA UST. H. A. FULEX BISYRI (PEMIMPIN REDAKSI QULTUMMEDIA)

Pertanyaan:
Mana yg lebih utama bagi seorang musafir saat puasa Ramadhan, berpuasa atau tidak? #KlinikHati (dari @sriimulyaa19)

Jawaban:
Sri Mulyani yang saleha…
Kalau kita sedang bepergian jauh (kira-kira 80 km), kita boleh berpuasa dan boleh juga tidak kok. Karena, musafir itu diberi rukhshah atau keringanan. Meski demikian, berpuasa lebih utama asal tidak memberatkan diri kita.

Ini pernah dialami pada saat Nabi masih hidup. Dalam sebuah perjalanan jauh, sejumlah sahabat memutuskan tidak berpuasa, sementara Rasulullah sendiri tetap berpuasa.

Para sahabat tidak berpuasa karena mereka memang mendapat keleluasaan untuk tidak berpuasa, sebab sedang dalam perjalanan jauh. Sementara Rasulullah tetap berpuasa karena beliau merasa masih sanggup melakukannya. Perjalanan jauh adalah salah satu sebab kita bisa mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.
Allahu a’lam.

~~~

Demikian, Bro-Sist. Daku ucapkan terima kasih banyak pada pihak Penerbit Qultum Media, terutama pada Pak Ustadz yang sudah menjawab dan membagikan jawabannya. Mudah-mudahan Allah Swt membalas kebaikan tersebut. Aamiin…

Mudah-mudahan bisa membantu dan mencerahkan Bro-Sist juga, ya. Selamat melanjutkan ibadah puasa… ^_^

10 Comments
  1. Anisa AE
    • deeann
  2. prajuritkecil99
    • deeann
    • prajuritkecil99
    • deeann
  3. oh andrian
    • deeann
  4. fanny fristhika nila
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *