101 Alasan Kenapa Mesti Menulis Diary

101 Alasan Kenapa Mesti Menulis Diary

101 alasan kenapa menulis diary

rebloggy.com

Menulis diary itu bukannya jadul? Kenapa kita mesti mempertahankannya?

Sebagian dari kita mungkin pernah berpikir dan bertanya-tanya demikian. Orang-orang sudah begitu sibuk, baik dengan aktivitas utama maupun ‘lain-lainnya’. Yang ‘lain-lain’ ini termasuk juga curhat dan berekspresi di media sosial. Kegiatan yang padat merayap.

Jadi apa gunanya meluangkan waktu untuk sebuah diary?

Alasan orang pasti berbeda-beda. Mulai dari iseng untuk mengisi waktu, mengungkapkan unek-unek, mengabadikan kejadian atau peristiwa, dsb. Sebenarnya tulisan yang serupa pernah daku posting dengan judul “Do You Diary?”. Tapi sekarang daku mencoba untuk menuliskan lebih detail, apa yang sudah dipaparkan oleh easyjournaling dua tahun kemarin. Siapa tahu bisa memotivasi.

Untuk mempermudah, daku bagi saja menjadi beberapa segmen ya, Bro-Sist?! Jom!

Alasan untuk Perkembangan Diri

menulis diary untuk diri sendiri

rebloggy.com

  1. Menemukan kedamaian diri sendiri. Selalu ada fase di mana kita pengin sendirian, bukan?
  2. Melepas stress. Daripada melampiaskannya pada alat rumah tangga yang tidak bersalah?
  3. Untuk perencanaan sesuatu; mulai dari menuliskan rencana umum, menyusun langkah-langkahnya serta mencapai target. Mimpi atau rencana yang ditulis akan jadi semacam alarm dan motivator tersendiri.
  4. Harapan tercapainya kesuksesan jadi lebih besar. Hasil studi pun menyatakan hal senada jika kita bisa menuliskannya.
  5. Mengembangkan kemampuan untuk membuat list sesuatu. Kalau membuat daftar ‘sesuatu yang ingin dicapai dalam hidup’ pastinya banyak. Tak ada salahnya untuk menuliskan daftar tersebut. Segera syukuri jika tercapai dan pelajari apa yang keliru ketika ada yang meleset. Btw, hal ini juga mulai daku terapkan. Eh, enggak ada yang nanya, ya? Huft.
  6. Bisa menemukan jawaban dari pertanyaan “siapa sih daku?”. Jawaban ini berdasarkan pendapat kita tentang diri kita sendiri, bukan berdasarkan opini atau tebak-tebakan orang lain.
  7. Menggali apa yang kita sukai. Entah menyukai orang, benda tertentu, grup musik tertentu, dsb. Gali juga alasannya kenapa dan untuk apa.
  8. Menemukan sisi lemah diri kita. Jika kita merasa sudah strong, diary akan sedikit ceriwis dan membocorkan apa yang sebenarnya jadi kelemahan kita.
  9. Menemukan cara untuk mengatasi kelemahan diri. Kita yang mengakui lemah dari sisi anu, kita juga yang mengolahnya jadi kelebihan.
  10. Menggali bakat dan cara mengembangkannya. Skill kita kadang ada yang terlihat jelas, ada yang tersembunyi dan banyak juga yang mesti diseriusi (karena tidak terlalu berbakat tapi begitu diminati.
  11. Mengukur pencapaian hidup tiap waktu. Hal ini terlihat jelas ketika daku membuka diary lama dan pernah mengeluhkan hal sepele, lalu amnesia akan hal-hal keren yang dikaruniakan Dia. Kadang ada masa-masa di mana kita jadi sadar, oh sudah mengalami pergeseran pemikiran rupanya…
  12. Tanda apresiasi atas apa yang sudah dilalui. Apapun, termasuk hal-hal yang tidak menyenangkan. Kalau sudah jadi tulisan, hal pahit kadang mulai mengeluarkan hikmah atau pelajaran yang bisa dipetik.
  13. Menjadi pengingat diri kita yang lalu. Misal dulu daku sempat penasaran sama yang namanya e-mail, lalu kita ingat kalau waktu itu teknologi enggak semaju sekarang.
  14. Menemukan trik untuk berbahagia dari dalam. Cukup bahaya kalau kita menggantungkan senyum sama orang lain atau sama sesuatu.
  15. Belajar mensyukuri hal-hal kecil atau sederhana. Seperti mudah, tapi cukup sulit. Simpel, tapi berefek hebat. Bahkan agama pun sudah menjanjikan, siapa yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah.
  16. Belajar mengendalikan diri. Di dunia ini, andaikata semua orang bisa mengendalikan diri, insya Allah semua akan damai permai. Pantesan Rasulullah Saw pernah bersabda kalau orang yang bisa berperang melawan diri sendiri (hawa nafsu) itu sangat kuat.
  17. Memberdayakan diri sendiri. Kadang kita lebih banyak berpikir soal memberdayakan hal-hal di luar diri sendiri.
  18. Merajut rasa percaya diri. Setidaknya itu yang dirasakan ketika mampu menulis segala pikiran, isi hati termasuk daftar mimpi.
  19. Menertawakan diri sendiri. Kalau diingat-ingat, kadang banyak hal yang membuat kita tertawa karena diri sendiri (misal sudah menangisi orang yang bahkan laik menerima airmata kita’)
  20. Merenungi hal-hal baik dalam hidup. Kalau hal-hal buruk dalam hidup sudah terlalu banyak, ya.
  21. Mempercayai diri sendiri. Pernah mempercayakan sesuatu terhadap diri sendiri? Misalnya kita sempat bicara pada diary, target bulan depan sudah bisa nabung, eh ternyata tidak. Mungkin kita mesti lebih menuliskan detailnya, bagaimana agar sesuatu yang kita percayakan pada diri sendiri bisa terlaksana.
  22. Membuat hidup lebih sehat. Menulis diary bisa sedikit meredakan stress kita. Emosi terlampiaskan. Hal ini tentu berpengaruh pada kesehatan fisik juga, ‘kan?
  23. Pikiran jadi lebih terbuka. Ya, kita tidak ‘mengisolasi’ pikiran. Dengan diary, kita belajar membebaskan pikiran.
  24. Mempelajari sesuatu dari kesalahan orang lain. Sebelum kita melakukan hal yang sama dan menanggung akibat yang sama juga, maksudnya.
  25. Merasakan sensasi atas pencapaian-pencapaian kita. Ini bisa dirasakan ketika membaca diary, di mana kita pernah menuliskan prestasi-prestasi. Selain bangga, rasanya senang saja kalau ternyata dulu kita sudah mendapat atau mencapai sesuatu.
  26. Ungkapkan bagaimana kita ingin diperlakukan dan bagaimana membalas perlakuan orang. Kita ingin dihormati, misalnya. Apa kita juga sudah menghormati orang lain?
  27. Hidup lebih terorganisir. Ingin segala sesuatunya terorganisir atau tersusun tapi tidak menuliskannya, hmm… sepertinya sulit.
  28. Menempa diri untuk “tidak terlalu peduli” akan hal-hal yang kurang penting. Kalau kembali membaca isi diary lama, apa yang lebih banyak ditulis? Apa sekarang hal yang dominan jadi isi tulisan itu berstatus penting?

Alasan untuk Kreativitas Diri

101 alasan menulis diary, anak kecil menulis diary

touchn2btouched.tumblr.com

 

 

 

 

 

 

 

  1. Jadi bisa nge-doodle. Ya namanya juga doodle. Kalau tidak beraturan, sebut sebagai lukisan abstrak saja. Hehe…
  2. Menemukan banyak kosa-kata baru. Kita sendiri akan bosan kalau membaca diary dan kata-katanya yang begitu-begitu saja.
  3. Jadi terbiasa dengan “pesan rahasia”. Meski menulis di diary, kadang tetap saja ada yang kita sembunyikan. Dengan inisial nama seseorang, sandi atau mungkin rumus-rumus tertentu.
  4. Menulis surat untuk diri sendiri. Dari kita untuk kita. Kreatif, ‘kan? 😀
  5. Menjadi sedikit “pemberontak”. Dalam diary, kita yang membuat aturan. Pelaksana dan pelanggarnya pun diri sendiri.
  6. Mengekspresikan diri dengan cara sendiri. Menulis puisi 140 karakter, mengungkapkan rahasia dengan kode, menyisipkan perasaan dengan permainan warna, dsb.
  7. Membangun gudang penyimpanan gambar atau poto favorit. Gambar disertai dengan caption selalu menarik.
  8. Menyadarkan betapa banyak keterbatasan yang ternyata diciptakan oleh sendiri. Kala menuliskan apa yang kita anggap tidak mungkin, lalu pada kenyataannya memang terjadi atau bisa diusahakan.

Alasan yang Menyangkut Keluarga

gadis menulis diary malam malam

lumbungpuisi.com

  1. Menjadi anggota keluarga yang lebih baik. Dengan niat baik untuk berubah, lebih perhatian, lebih mengutamakan keluarga, dsb. Bagus juga kalau kita mencatatkan apa yang sudah ingin dipersembahkan untuk keluarga.
  2. Mendiskusikan kebingungan akan keluarga pada diary. Meski serumah, ada kalanya kita seperti ‘jauh’ dan seperti ‘tidak dimengerti’ oleh keluarga sendiri.
  3. Memaknai cinta keluarga. Walau jarang, keluarga harmonis pun sempat mengalami gonjang-ganjing. Ketika berada di masa-masa ‘perang dingin’, diary bisa membantu mengingatkan kenapa kita, sejauh apapun mengelana, ujungnya pengin kembali ke pangkuan keluarga sendiri.
  4. Merekam momen-momen penting. Ketika adik lulus SD, ketika punya keponakan baru, ketika keluarga kemping bareng, dsb. Oh…
  5. Menjadikan diary sebagai salah-satu warisan dari kita untuk keluarga. Apa? Ya… *garuk-garuk.
  6. Memberitahu keturunan kita tentang siapa kita. Kalau di majalah-majalah lokal, nasional atau internasional tidak ada poto dan profil kita, hmm… keturunan kita akan sulit mengenal siapa pendahulunya. Hmm…
  7. Melestarikan sejarah. Mungkin kita akan sedikit menghibur keturunan nanti, misal dengan menyebutkan media sosial yang booming di zaman kita, atau berapa harga cabe perkilonya di zaman kita atau mungkin siapa penyanyi yang naik daun di zaman kita.
  8. Pengingat cerita-cerita bersejarah dan penting. Kalau tidak jadi hiburan, pastinya akan jadi pembelajaran untuk masa-masa nanti.
  9. Selalu mengingatkan, dari mana kita berasal. Kala kita ‘sedang lupa’, buka dikit isi diary-nya.
  10. Mengabadikan momen anak-anak kecil. Bisa anak sendiri, keponakan atau saudara lainnya. Pengin juga sih mengabadikan momen masa kecil kita sendiri, tapi waktu kecil belum kepikiran soal diary. -_-
  11. Menjadi bahan cerita buat anak-cucu kelak. Kedengaran tua, tapi mau bagaimana lagi?! tua adalah kepastian bagi semua manusia, sedangkan tetap muda adalah salah-satu pilihannya.
  12. Mencontohkan pada keturunan kita untuk membuat diary juga. Mereka juga mesti merasakan bagaimana menyenangkannya jika kita menulis diary.
  13. Mencatatkan kutipan favorit dari anggota keluarga. Ibu, kakak bahkan keponakan yang masih mbalelo

Alasan Skill Menulis

diary membantu mengembangkan skill menulis

au.reachout.com

  1. Menjerat ide sebelum ia kembali pergi. Ide kadang datang tiba-tiba, kalau tidak segera dicatat, kita hampir selalu lupa.
  2. Meningkatkan skill berbahasa kita. Tanpa mengambil kursus bahasa atau kuliah di jurusan bahasa, diary mengajarkan hal penting ini.
  3. Selalu belajar bagaimana cara mengawali tulisan, bagaimana menceritakan sesuatu lewat tulisan dan bagaimana mengakhirinya. Kedengaran simpel, tapi kadang banyak orang yang memegang pulpen dan menatap lama-lama pada kertas kosongnya karena dia… tidak tahu harus mulai nulis dengan kata apa, atau bagaimana cara mengawali tulisannya. Diary sangat membantu mengasah skill ini.
  4. Belajar ngelawak. Diary kadang bersifat asal jeplak. Tanpa direncanakan pun, hal-hal aneh atau lucu selalu datang.
  5. Melatih kecepatan menulis. Baik kecepatan dalam arti sebenarnya (mengetik atau tulis tangan), juga kecepatan dalam mengolah tulisan.
  6. Sebagai latihan skill menulis. Kemampuan berbahasa berupa menulis ini terlihat sederhana namun rumit. Tapi sesuatu yang rumit kita urai kalau selalu latihan. Dan menulis diary adalah ‘latihan’ yang kita inginkan sendiri.
  7. Mengembangkan kemampuan membangun plot. Diary akan menuntunnya.
  8. Percaya diri dalam menulis. Ya ampun, ternyata kita sudah pernah menuliskan sesuatu tentang hidup ini!
  9. Menjawab rasa penasaran kita; suka menulis atau tidak, sih? Kalau tidak, jangan dipaksakan menulis diary. Kembali ke aktivitas lama.
  10. Tepis yang namanya “writers block”. Momen kurang menyenangkan bagi penulis ini memang ‘mengganggu’. Apa-apa jadi serba sulit dan rumit. Beda ketika kita menuliskan sesuatu dengan mengalir begitu saja, apa adanya.
  11. Mengetahui tulisan bagaimana yang tidak kita suka. Diary akan sedikit memberi gambaran tentang hal ini. Apa kita lebih senang mendeskripsikan sesuatu dengan detail? apa kita menikmati saat harus menuliskan pengalaman menakutkan? kita tertawa atau tidak ketika membaca tulisan sendiri? dsb.
  12. Menemukan kekuatan dan kelemahan tulisan kita. Mungkin kita unggul ketika menuliskan hal-hal berbau humor, tapi payah ketika mesti mendeskripsikan sesuatu. Kalau sudah begitu, kita jadi tahu mana yang mesti dikembangkan dan mana yang mesti dipelajari lagi.
  13. Menumbuhkan keberanian untuk menulis buku dan menerbitkannya. Setidaknya membagikan tulisan di internet atau lewat penerbit. Kita jadi lebih siap untuk menerima apapun respons pembaca.
    writing

    Cr: onceuponanimagines | Tumblr

    Sebagai Pemecah Masalah

  14. “Jadi kipas”. Ketika hati lagi panas-panasnya, setidaknya dengan menumplekkan unek-unek, kita jadi lebih plong.
  15. Menjadi “jembatan” antara hati dan pikiran ketika mereka beradu argumen. Tuliskan, sisir bagaimana kata perasaan dan bagaimana kata akal. Mudah-mudahan bisa segera dicapai kata mufakat.
  16. Memprediksi sesuatu. Banyak sekali hal yang sebelumnya sempat kita hadapi lalu sekarang terulang kembali. Kalau menuliskannya di diary, coba baca ulang. Apa yang dulu kita putuskan bagaimana dulu hasilnya.
  17. Bersih-bersih pikiran. Kalau pikiran sedang “berdebu”, kedatangan solusi pun jadi ragu-ragu.
  18. Tempat pembongkaran rahasia. Yang ini opsional. Tapi kadang ada rahasia yang begitu mengganggu kita. Kalau enggak disampaikan gimana, kalau disampaikan juga gimana. Di saat-saat seperti ini, wajah diary biasanya langsung teringat.
  19. Meningkatkan rasa cinta kita pada orang-orang sekitar, dengan menuliskan apa yang kita apresiasi dari mereka. Silakan pilih siapa orang tersebut. Tuliskan hal-hal baik tentang mereka. Rasanya itu sedikit manis. 🙂
  20. Membuat orang-orang tercinta kita tidak khawatir. Tidak enak rasanya kalau mesti menanggung masalah, namun kita tak bisa leluasa bercerita pada orang-orang dekat. Tapi hal itu bisa sedikit diatasi ketika diary datang untuk menawarkan rasa tenang. Orang-orang terkasih pun tak akan ikut galau.
  21. Membangun rasa percaya diri, walau tak ada yang memerdulikan kita. Well, menulis diary itu pada dasarnya untuk diri kita sendiri. Mau seburuk atau sepolos apapun, diary tak perlu diberi nilai atau ranking oleh orang lain.
  22. Siap-siap jika “dilabrak”. Manfaat ini bisa dirasakan ketika kita tengah dalam masalah dengan orang lain. Kita bisa menuliskan tebakan akan reaksi mereka, lalu bersiap-siap juga dengan cara menghadapinya.
    menulis

    Cr: john.do

    Dari Segi Spiritualitas

  23. Mendekatkan diri pada Tuhan. Menuliskan kejadian yang menyenangkan, lalu mensyukurinya. Hal sederhana itu saja bisa membuat kita makin mendekap sang Pencipta.
  24. Sebagai bengkel hati. Kala ‘rusak’, kita bisa menuliskan dalam diary tentang jalan mana yang mestinya dituju.
  25. Menjadikan kita lebih taat. Kalau gelisah karena sudah berbuat salah, bisa kita tumpahkan dalam diary. Niatkan agar kelak lebih patuh dan taat.
  26. Menguatkan iman. Seperti jalanan, keyakinan pun naik-turun. Namun kalau kita sudah memegang teguh suatu ajaran, sudah kewajiban kita untuk terus berada di jalanNya.
  27. “Merekam doa dan harapan”. Begitu dibaca, kita akan termotivasi. Tak hanya untuk meng-aamiin-kan, melainkan mengusahakannya juga.
  28. Mengikat ayat-ayat favorit. Suatu saat menemukan kata-kata yang pas dengan hati, tulis saja. Sebab tulisan tersebut akan kembali dibaca dan kembali memberikan rasa takjub yang sama.
  29. Merekam hari-hari dekat kita dengan-Nya. Meski manusia itu tidak sempurna dan sangat cinta dunia, ada kalanya kita merasa sangat dekat dan begitu fokus padaNya. Rekam momen tersebut, suatu saat kita akan membaca dan merindukannya.
  30. Menjadi tempat pengakuan dan mendamaikan diri. Allah Swt Maha Tahu, tapi kadang kita merasa suka ada banyak hal yang “disembunyikan”. Ingin berbagi? Diary selalu ada di sisi.
  31. Menjadi pereda kebisingan dunia. Bisa kita lihat ke sekitar, betapa berisik dan rumitnya segala sesuatu, ya? Kita bisa ‘mengamankan diri’ dalam diary.
  32. Merekam inspirasi yang kita rasakan. Kadang inspirasi itu malah dirasa susah ketika kita mencarinya. Maka ketika inspirasi datang, baiknya segera kita sergap dan pahat di dalam diary. Suatu saat pasti perlu juga.
  33. Merekam pengalaman keagamaan. Tak hanya ibadah, melainkan hal-hal yang berbau agama. Semisal pergi ziarah, merayakan hari raya, pergi ke pengajian, dsb.
    menulis 2

    Cr: inspireportal.com

    Dari Segi Pengalaman Sehari-hari

  34. Membuat hari-hari jadi menyenangkan. Kadang kita sadar sendiri kalau hari-hari yang dilalui akan ditulis dalam diary. Karena itu, kita selalu berusaha agar mengisinya dengan sesuatu yang menyenangkan.
  35. Sebelum lupa, segera catat segala peristiwa. Jika tiba-tiba ada yang bertanya “bulan September tahun kemarin ngapain aja?”, kita bisa segera membuka diary dan menjawab pertanyaan itu.
  36. Membuat kita belajar mencatat hal-hal kecil atau sederhana. Semisal percakapan singkat dengan seseorang di pinggir jalan, yang siapa tahu bisa jadi inspirasi karya. Entah cerpen, artikel, lukisan, dsb.
  37. Bisa menjadi refleksi diri. Di tengah kesibukan dunia, diary bisa jadi tempat selonjoran. Meski hanya dengan membaca hal-hal konyol yang pernah kita rasakan.
  38. Menjadi pembeda antara fiksi dan fakta. Ada masanya kita terjebak antara kenyataan dan imajinasi. Diary bisa jadi sesuatu yang lebih menegaskan.
  39. Menjadi “gudang” quote. Kutipan atau quotes dari tokoh agama, tokoh internasional, pebisnis, artis, tweet, status fesbuk seseorang, atau sekadar ocehan orang dsb. Pasti menggugah dan bermanfaat.
  40. Guna lain dari diary, apalagi ketika kita bosan atau ingin mendapat inspirasi.
  41. Membuat kita selalu sibuk. Dalam hal ini, tak ada waktu yang tak terisi. Setidaknya, menulis diary lebih bisa jadi pilihan ketimbang bengong.
  42. Menjadi bukti untuk hal-hal berat. Siapa tahu, gitu. Apa yang selalu kita dokumentasikan akan menjadi saksi atau bukti yang suatu saat memberi peran penting. Apalagi pasti ada tempat atau tanggal detailnya.
    diary

    Cr: lifeblessons.blogspot.com

    Berhubungan dengan “Logging”

  43. Menjadi jurnal kerja sehari-hari. Daku sebenarnya pengin sekali menulis diary setiap hari secara detail. Ada yang disimpan untuk pribadi, ada juga yang di-share di blog ini. Pastinya seru kalau bisa konsisten!
  44. Menjadi Jurnal Makanan. Daku belum mempraktikkan yang satu ini. Tapi diary memang bisa menjadi ‘alarm’ atas apa yang kita makan hari ini, apa yang ditargetkan akan dikurangi, atau apa yang dibidik akan banyak dikonsumsi.
  45. Menjadi Jurnal Olahraga. Sebagai pelengkap catatan makanan, maka kita juga bisa menuliskan catatan seputar aktivitas olahraga. Mungkin tengah menargetkan abs indah, otot berisi, mengurangi gelambir, dsb.
  46. Diary Orang Sakit. Ketika sedang tidak enak badan atau didiagnosis mengalami gejala penyakit anu, daku kerap curhat pada selembar kertas. Saat itu kita bisa menuliskan bagaimana menderitanya sakit, bagaimana menyesalnya sudah menyia-nyiakan nikmat sehat dan mengucurkan doa serta harapan terbaik juga. Insya Allah kesesakkan hati akan berubah ringan. Bagaimanapun, sehat itu tidak hanya dilihat dari kondisi fisik belaka, melainkan mentalnya juga.
  47. Diary Perjalanan. Yang satu ini cukup popular di kalangan traveler. Memang sayang sekali, kalau kita banyak melakukan perjalanan atau travelling namun tidak mencatatnya. Alangkah lebih utuhnya kalau dilengkapi juga dengan poto atau gambar.
  48. Diary Tentang Hobi. Nah, setiap orang tentunya memiliki hobi yang berbeda-beda. Tak ada yang bisa mengaturnya, sekalipun pekerjaan kita tidak nyambung. Sebab, hobi itu memang seperti panggilan hati.
  49. Diary Tentang Bayi atau Anak. Yang satu ini belum daku alami, tapi bisa dipertimbangkan juga. Khusus bagi perempuan, tentu bisa menuliskan bagaimana proses kehamilan dari bulan ke bulannya, terus bagaimana perkembangan janinnya, proses kelahirannya, perawatannya, dsb. Begitu pun dengan laki-laki, yang bisa menuliskan bagaimana bangganya menjadi seorang ayah.
  50. Diary Tim atau Grup. Kita tentu tidak bisa bekerja sendirian. Di sekolah, sesekali ada kerja kelompok. Demikian juga di perusahaan atau tempat kerja. Kita bisa menulis bagaimana pencapaian dan langkah-langkah yang sudah ditempunya.
  51. Diary Tentang Mimpi. Seperti jurnal perjalanan atau travelling, yang satu ini juga begitu popular. “Mimpi” di sini bisa bermakna sebenarnya, bisa juga bermakna impian atau hal-hal yang memang diidamkan.
  52. Diary Tentang Keuangan. Bisa tentang rencana penggunaan uang, atau strategi kita menjemput rezeki atau memperbanyak pundi-pundi. Tentu dengan tujuan membahagiakan diri sendiri dan orang sekitar.

Ada lagi? Yang ke-102? 103? 104? Dsb?

Fiyuh…

Akhirnya…

Tunai sudah komitmenku untuk menandaskan ke-101 alasan ini. Mohon maaf agak menguras waktu. Daku rasa… membuat postingan bersambung itu enggak lagi-lagi deh, kecuali kalau kita sudah memiliki draft siapnya. Heuheu.. #RD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *