20 Tips Agar Bisa Menghindar atau Berhenti Ngegosip

20 Tips Agar Bisa Menghindar atau Berhenti Ngegosip

20 Tips menghindari atau berhenti ngegosip

clipart.me

Siapa yang pernah bergosip? Atau justeru suka ngegosip?

Daku sudah ngacungin tangan di pojokan. 😀

Apa bergosip terbatas pada kaum perempuan?

Daku rasa tidak. Iya,’kan ? Eh malah balik nanya. -_-

Disadari atau tidak, bergosip kadang menjadi salah-satu agenda sehari-hari kita. Di sekolah, di tempat kerja, di angkot, di pasar, dsb. Ada saja ‘objek’ yang pas untuk ‘diseret’ ke meja pembicaraan. Mulai dari teman sendiri, tetangga sampai orang-orang asing macam artis dalam maupun luar negeri. Cerewetnya… Hehe…

Rasanya suka aja gitu kalau membicarakan orang lain. Tapi kadang kita sadar juga, kalau semua itu hanya jadi ‘ampas’. Waktu memang terisi, tapi dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Bahkan agenda itu bisa berubah bencana kala orang yang kita gosipkan tahu. Atau, kala teman gosip kita ternyata jadi mata-mata, dalam arti dia jadi penggosip tidak terpercaya yang juga menggosipkan kita ke mana-mana. Omo!

Lebih lagi sekarang masih ada di momen Ramadhan, momen yang pas untuk mulai belajar mengurangi gosip. Lalu bagaimana langkah-langkahnya? Jom!

#1. Jadilah “Orang yang Egois & Enggak Peduli Urusan Orang Lain”

Terdengar evil juga, ya?

Ketika dalam suatu perkumpulan penggosip, pasti jadi ujian berat bagi kita untuk tidak nimbrung. Namun pasti juga, akan jadi suatu kehormatan bagi kita jika bisa menghindarinya. Kita bisa mengatakan kalau ‘masalah orang yang tengah digosipkan’ bukanlah urusan kita. Al Hasan Al Basri pernah berkata:

“Tanda bahwa Allah Swt sudah balik badan dari hambanya adalah, Dia membuat hambanya itu sibuk dengan urusan yang bahkan tidak berkaitan dengan dirinya”.

#2. Tanya Diri dan Teman-Teman Ngegosip Kita (bagian 1);

Apa urusan itu penting untuk diketahui? Apa harus ya, kalau semua khalayak tahu tentang urusan orang lain? Apa informasi tentang urusan orang lain itu benar-benar kita butuhkan? Kalau kita tidak mengetahuinya, apa ada efek negatif yang bakal datang?

#3. Tanya Diri dan Teman-Teman Ngegosip Kita (bagian 2)

Apa informasi dari kegiatan gosip yang didapat itu benar? Siapa yang berani mempertanggungjawabkannya? Apa nanti tidak akan berujung pada fitnah?

#4. Tanya Diri dan Teman-Teman Ngegosip Kita (bagian 3)

Apa modus sebenarnya ketika bergosip? Apa karena kita kurang kerjaan? Apa karena kehidupan “mereka” lebih seru? Apa karena kita ini iri? Jadi ingat ceramah Mamah Dedeh. Kata beliau, kita boleh iri pada 2 orang; pada orang kaya yang mendermakan hartanya dan pada orang berilmu yang mengamalkan ilmunya.

#5. Beri Pujian Terhadap Orang yang Sedang Jadi Bahan Gosip

Memang sedikit lucu juga ketika orang-orang tengah membongkar kejelekan Si Anu, kita malah menyembulkan kebaikannya. Tapi sejahat-jahatnya orang, pasti dia memiliki sisi putih juga, ‘kan? Kita pasti makin tergiur setelah mengetahui hadist Riwayat Tirmidzi yang berisi:

“Siapapun yang membela kehormatan saudaranya, maka Allah Swt akan melindungi wajahnya dari api ketika Hari Kebangkitan nanti”.

#6. Ubah Topik Gosip

Kita pasti akan dipandang annoying di sini. Namun usaha ini manjur dilakukan kala gosip tengah panas-panasnya bergulir. Kita bisa mengganti temanya jadi sesuatu yang lain, yang sekiranya masih diminati. Semisal cerita sinetron atau apa. Kalau enggak, kita juga bisa menggiring obrolan terhadap kehidupan diri kita sendiri dan mereka (saja), tanpa membawa-bawa orang lain.

#7. Kabur

Langkah ini mau tidak mau mesti kita ambil ketika usaha alternatif lain tidak berhasil. Kita memang akan ketinggalan ‘berita terkini’, namun kita juga akan menjemput suatu kemuliaan.

#8. Hindari Rasa Penasaran Berlebihan

Langkah ini tidak mudah pastinya. Sebab, penasaran itu sudah seperti bagian dari naluri manusia. Namun rasa penasaran berlebih terhadap urusan orang lain aka kepo tentunya menggiring kita pada jurang gosip. Untuk menghindarinya, kita bisa menyibukkan diri atau mencari berita lain yang lebih diperlukan.

#9. Kumpulkan dan Klarifikasi Kebenarannya. Aksi ini sedikit gimana juga sih, namun hal ini jadi sangat penting. Selain untuk meluruskan masalah, kita juga secara tidak langsung menyelamatkan reputasi seseorang serta memberi pelajaran agar hati-hati dalam memberi komentar.

#10. Bayangkan Diri Sendiri dan Teman Ngegosip Ada Di Posisi Korban Gosip

Apa enak kalau mesti jadi topik obrolan orang-orang? Apa enak kalau dibicarakan di belakang? Apa enak kalau di-judge dengan bebas tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan?

Baca Juga: 6 Tips Utama Ketika Kita Digosipkan “Mereka”

perempuan marah, ketahuan ngegosipin

pathtogod.wordpress.com

#11. Bayangkan Kalau Korban Gosip Kita Tiba-Tiba dan Di Belakang

Atau, bayangkan jika salah-satu diantara penggosip malah jadi mata-mata korban gosip. Bagaimana efeknya? Apa reputasi kita di hadapan Dia dan di hadapan manusia akan terganggu? Pasti, ya?

#12. Ingat-Ingat Ada Dia

Kalau pun korban gosip tidak tahu atau semua penggosip yang ada bisa dipercaya, tapi bagaimana dengan Allah Swt? Dia Maha Tahu, bukan? Dan, Dia tidak suka dengan aktivitas gosip, bukan?

#13. Kampanyekan Aksi Menyetop Gosip Pada Teman-Teman Tertentu Dulu

Kita bisa begitu lemah kalau melakukan niat berhenti ngegosipnya sendirian. Karena itu, tak ada salahnya jika membentuk tim kecil-kecilan terlebih dahulu. Tim ini bisa sangat bermanfaat untuk saling memotivasi, mengingatkan dan menguatkan.

#14. Ingat-Ingat Pahala Dunia dan Pahala Akhiratnya

Pahala adalah reward, yang tentunya selalu menggiurkan jika kita bisa meraihnya. Termasuk pahala ketika menghindar atau berhenti ngegosip. Pahala di dunia misalnya waktu kita jadi lebih produktif, jika jadi terhindar dari ‘perang saudara’, kita jadi mendapat reputasi bagus, dsb. Pahala di akhirat, ya kita sama-sama tunggu saja.

#15. Balikkan Kejelekan Korban Gosip Terhadap Diri Sendiri

Kata lain untuk poin ini yaitu instrospeksi diri. Kita pasti sadar kalau menemukan ketidaksempurnaan dari diri orang lain itu lebih cepat dan lebih mudah, ketimbang dari diri sendiri. Kita juga sadar, ternyata diri sendiri pun banyak nodanya, eh malah membahas noda orang lain? Jadi tambah kotor. Huft!

Baca Juga: Ketika Jadi Bahan Gosip, Kita Mesti Bagaimana?

#16. Jauhi Perlahan

Teman-teman ngegosip itu pastinya fun. Kita banyak berterima kasih karena mereka kadang-kadang menghibur dan bisa membunuh kesepian kita. Namun di sisi lain, mereka cukup berbahaya juga. Karena itu, kita bisa memilih opsi untuk menjauhinya perlahan. Bukan memutus silaturahim, melainkan sedikit merenggangkan diri agar tidak makin larut dalam acara gosip. Langkah ini bisa kita ambil kala diri kita lemah dan kala teman-teman ngegosip kita ‘terlalu kuat’ untuk diajak berubah.

#17. Manfaatkan Diary untuk Menulis Kejelekan Orang Lain

Ini bisa jadi alternatif kalau kita “ngebet” pengin membicarakan orang lain. Lagipula diary tak akan ‘ember’. Kecuali kalau dia dibaca orang lain. Karena itu, sesekali kita mesti membaca ulang diary sendiri. Kalau ada info atau sangkaan yang ternyata salah, tulis lanjutannya dan klarifikasi kebenarannya. Kalau tidak, kuatkan diri untuk merobeknya, takut-takut suatu saat nanti memberi info keliru juga terhadap pembacanya.

#18. Sesali dan Niatkan Betul-Betul untuk Stop Gosip.

Yang satu ini jadi langkah ekstrim sekaligus tegas. Kita bisa terus mengingat soal dosa gosip serta ancaman yang ditimbulkannya. Hal ini pasti membuat kita menyesal dan sangat merasa bersalah. Hal ini juga pasti mendorong kita untuk “menambal” kesalahan dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.

#19. Berdoa

Sudah tahu kita ini makhluk kerdil, makhluk yang masih rentan tergoda, karenanya kita mesti mencari back up Yang Maha Kuat. Dzat mana lagi selain Allah Swt? Dekatkan diri dan rutin berdoa agar terhindar dari segala keburukan dan fitnah dunia. Insya Allah kalau kita mendekat, Dia akan makin lekat. Ketenangan pun bisa kita peluk dalam kehidupan yang menggalaukan ini.

#20. Konsisten

Tentu, apalah arti usaha kita kalau tiba-tiba kita membatalkan semuanya dengan kembali terjun ke ranah gosip. Karena itu, konsistensi adalah sesuatu yang mesti kita junjung tinggi. Sengaja daku simpan langkah ini di belakang. Tingkat kerumitannya pasti tinggi, bukan?

Sedikit curcol, daku sempat bilang dalam hati,

“Aih dakunya sendiri doyan ngegosip, eh malah nulis posting kayak ginian?!”

Lalu sisi hatiku yang lain nyeletuk,

“Kalau terus-terusan berpikiran gitu, gak bakal ada postingan yang jadi kaliii?!”

Perdebatan berlangsung.

Kesimpulannya, enggak perlu menunggu sempurna dulu untuk saling belajar dan menasihati, bukan? Kenapa? Karena kesempurnaan itu tak akan datang… #RD

2 Comments
  1. umi
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *