Apa Manusia Sudah Malas Ke Syurga, Ya?

Apa Manusia Sudah Malas Ke Syurga, Ya?

apa manusia sudah malas ke syurga

mymorningmeditations.com

Kalimat pertanyaan yang jadi judul postingan ini adalah sesuatu yang disembulkan oleh saudaraku.

Ceritanya beliau mendatangi kios Mimih. Waktu itu daku dan Mimih sedang menghadapi seorang pembeli. Tapi beliau langsung merangsek masuk. Romannya datar.

“Hey, apa kabar?” sapa Mimih dalam Basa Sunda.

Lelaki itu menutup wajah dan berkata,

“Apa manusia sudah malas ke syurga, ya?”

Mimih, daku dan seorang pembeli terdiam. Betapa tidak, bertanya apa dijawabnya apa. Jadinya perlu waktu bagi kami untuk mencerna, ini kira-kira mau diarahkan ke mana. Kok tidak membalas dengan bilang, “Baik-baik aja. Sebaliknya bagaimana?” atau apa. Ternyata tidak.

Lelaki yang daku maksud merupakan saudara yang rumahnya agak jauh, tapi tidak terlalu jauh. Hubungannya… beliau itu puteranya Paman Mimih. Atau katakanlah, beliau itu puteranya Abah daku. Nah bingung, ya? Hehe…

“Orang-orang sudah malas silaturahim,” Beliau melanjutkan, “Apa manusia enggak mau panjang umur, ya? Enggak mau banyak rezeki, ya? Sudah jelas-jelas manfaat silaturahim itu memanjangkan usia dan menambah rezeki kita, tapi ya ampun… betapa malasnya kita!” cerocosnya lagi, masih dengan tangan yang menutupi setengah wajahnya.

Memang, mestinya beliau sebagai ‘saudara yang lebih muda’ mengunjungi Mimih. Tapi sudah kebiasaan dari tahun ke tahun, beliau hanya mampir ke kios pasca idul fitri. Usai basa-basi, lalu bersalaman, bermaafan khas lebaran, lalu selesai sudah. Kami akan kembali terpisahkan oleh kesibukan.

“Ini mah kita ngobrolin diri sendiri aja, orang lain mah pasti rajin silaturahimnya,” pungkas beliau.

Apa yang saudaraku katakan (mungkin) bertujuan bercanda dan menyindir dirinya sendiri. Tapi tanpa beliau tahu, daku juga tersindir. Sangat.

Di zaman sekarang… ketika segala sesuatu sudah serba praktis, justeru ada beberapa hal baik yang makin dipersulit. Dibikin sulitnya oleh diri kita sendiri. Padahal kita tahu, kita sudah sering baca bahkan sering saling menasihati… kalau hal baik yang kita persulit itu sangat bermanfaat.

Contoh kecilnya adalah isu silaturahim ini. Padahal kendaraan sudah mudah didapatkan (pribadi atau umum), tapi langkah ini serasa berat. Padahal juga, media sosial sudah membuka peluang untuk mengeratkan ikatan persaudaraan, tapi gerak jari-jemari serasa kikuk.

Parahnya, kadang kita diliputi berbagai perasaan dan pikiran negatif yang entah benar atau bohong. Semisal; “kalau enggak direspons bagaimana?”, atau “kalau dia sudah berbeda dan berubah gimana?”, atau “apa nanti aja nunggu dia yang menghubungi duluan?”, dll.

Duh.

Mudah-mudahan Allah Swt mengampuni kelemahan dan kebrengsekan kita. Mudah-mudahan juga kita cepat tanggap atas segala kekeliruan hidup dan segera memperbaikinya. Aamiin #RD

4 Comments
  1. awen
    • deeann
  2. prajuritkecil99
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *