Cerita Ngabuburit; Tempat yang Enggak Ada Muslimnya

Cerita Ngabuburit; Tempat yang Enggak Ada Muslimnya

dua lelaki ngobrol dalam pesawat

Ilustrasi aja… (travel.cnn.com)

“Daku udah enggak tahan nih, Nisrina!” gerutu seorang bule sambil memilin-milin ujung kerudungnya, “Daku semprot aja ya mereka?”

“Ck,” Nisrina berdecak sambil menutup dan meletakkan majalahnya ke atas paha, “Sabar, Caroline. Dikau udah memeluk Islam, mesti bisa membawa kedamaian buat sesama dong? termasuk buat mereka yang  bukan pemeluk Islam.”

Inilah salah-satu yang membuat hati Caroline, orang Irlandia yang sudah lama berkarier di Indonesia, tersentuh oleh agamanya Nisrina. Tapi…

“Halah! terlalu baik kamu, Nis!” Caroline mendengus, “Kalau mereka ngapain-ngapain agama daku, ya enggak bisa didiemin  gini lah!”

“Ya udah jangan didengerin, ya?”

“OMG, Nis! Gimana enggak didengerin? Mereka di belakang kita! Di – belakang – kita!” Caroline memelototkan matanya, mendramatisir keadaan, “Mana mereka ngomongnya keras banget. Pasti sengaja tuh!”

“Gini aja, hmm…” Nisrina mulai meraba-raba tasnya, lalu mengeluarkan sesuatu, “Dikau dengerin aja lagu-lagunya Om Sami Yusuf, ya?” tanpa menunggu persetujuan Caroline, Nisrina sudah menutup telinga temannya dengan earphone dan memberikan ponsel berisi mp3-nya itu, kalau-kalau dia hendak memilih playlist-nya.

Meski masih manyun, Caroline nurut. Itupun sambil narik napas secara teratur dengan dada naik-turun. Ia terus berusaha meredamkan amarahnya.

Yang tidak disadari Nisrina, ternyata Caroline tidak mendengarkan musik apapun. Bukannya tidak senang dengan lagu yang ditawarkan, melainkan mood-nya kepalang hancur untuk menikmati lagu apapun. Ia pun masih waspada, kalau-kalau dua lelaki di belakang kursi penumpang mereka masih nyinyir.

Ceritanya mereka sedang berada dalam pesawat terbang. Tak lama setelah mereka duduk, datang dua lelaki berjas dan berdasi. Mereka menempati kursi belakang. Melihat ada dua muslimah, keduanya lalu membicarakan Islam. Obrolannya dibuat panas dan keras, sebab mereka sengaja ingin mendapat perhatian Caroline dan Nisrina.

Awal-awalnya dua lelaki itu menyebut pemeluk Islam sebagai agama yang kampungan. Tangan Caroline sudah mengepal, namun Nisrina menahannya. Mereka juga bilang kalau muslim itu teroris. Caroline hampir saja melompat hendak menamparnya. Beruntung, Nisrina masih siaga.

“Mereka masih ngejek muslim, bukan Islamnya. Santai aja!”

Kini Nisrina kembali membaca majalah. Sementara Caroline berlagak seperti mendengarkan musik. Padahal ia tetap memasang kuping. Setelah hening sekitar 45 detik, dua lelaki di belakangnya kembali bergosip.

“Apapun itu, sekarang gue senang, Bro!” suaranya masih keras, “Akhirnya bisa bebas dari Indonesia.”

“Gue juga kali, Bro!” timpal temannya, “Loe gak tahu betapa risihnya ketika masuk ke pelosok negeri ini, masa kebanyakan penduduknya muslim sih!”

“Liat cewek, tubuhnya pada tertutup!”

“Pengin mabok aja dilarang!”

“Tiap hari, mereka nyanyi di mesjid lima kali. Berisik!”

“Tiap hari, mereka jumpalitan di tempat lima kali juga, Bro!”

“Maksud Loe solat? Hahaha…”

“Iya. Hahaha…”

Mereka terus saja saling timpal, tanpa tahu kalau darah Caroline sudah mendidih. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia menerima ejekan. Ketika dirinya log in di media sosial, banyak sekali akun yang melecehkan orang Islam. Ingin sekali ia berteriak langsung di hadapan wajah mereka. Namun ketika hendak membalas komentar dengan kata-kata kasar, Nisrina selalu datang untuk mencegahnya.

“Islam itu sempurna, tapi muslimnya yang sering ngerecokin,” Nisrina memperingatkan, “Kalau kamu komen kasar, nah itulah contoh muslim yang ngerecokin.”

atau…

“Jangan kebawa emosi. Apa bedanya kalau kita terbawa ngejek penganut agama mereka?”

Caroline menutup mata sejenak. Dirinya masih tidak bisa tenang. Lebih lagi ketika dua suara lelaki di belakangnya terus saja menggema.

“Gue kepaksa mau bertugas di Indonesia, soalnya si Bos ngasih bonusnya gede,” suara lelaki 1, “ Awal-awalnya bos nyuruh ke Iran dulu. Gue langsung nolak tuh, Bro!”

“Ya iyalah! Gilak aja di sana muslimnya banyak,” sembul lelaki 2, “Gue aja waktu diminta ke Malaysia langsung ogah!”

“Waktu ditawarin ke Saudi Arabia juga, Bro! Iiih…”

“Amit-amit deh kalo gue gaul sama pemeluk agama rese itu!”

“Hooh,” ada jeda sejenak, “Yang gue enggak habis pikir, pas travelling ke Korea Selatan aja, ada juga yang muslim. Ih!”

“Hahaha… sebenarnya jangan jauh-jauh sih, Bro. Di kampung halaman kita aja,  Amerika Serikat, pemeluk Islam tetep ada tuh! Huft!”

“Heran?! Apa istimewanya sih agama gituan!”

“Agama banyak aturan!”

“Agama banyak perintah!”

“Agama pengekang!”

“Agama kejam!”

CUKUP SUDAH.

emoji marah besar

imagefriend.com

Caroline tak tahan lagi. Dia mencopot earphone dengan kasar. Matanya bertemu dengan mata Nisrina. Wajah Nisrina pun sudah memerah, nampak sekali kalau dia menahan amarah. Caroline mengangguk ke arah temannya, dan kali ini – untuk pertama kalinya – Nisrina mengangguk, seolah-olah memberi izin.

“Di mana ya daerah yang enggak ada orang Islamnya?” suara lelaki 1, masih belum puas dengan topik yang sedang mereka bahas.

Tapi sebelum si Lelaki 2 menjawab, Caroline sudah berdiri dan balik badan menghadap mereka. Kedua lelaki itu sampai tersentak. Lutut mereka gempa.

Go to hell, kalian! Pergi sana, ke neraka!” hardik Caroline, “Setahu daku, di sana itu enggak ada muslimnya!”

Suaranya mengundang perhatian penumpang lain. Mereka saling berbisik dan bertanya-tanya soal apa yang terjadi. Nisrina yang menjelaskan, dibantu dengan penumpang lain yang duduknya berdekatan.

“Saya kristen, dan saya juga denger apa yang kalian ceritain,” seorang penumpang dari belakang menghampiri dua lelaki penggosip,”Tapi saya enggak suka cara kalian ngejek agama lain.”

“Saya budha…”

“Saya Islam…”

“Saya Hindu…”

“Saya atheis…”

Satu per satu dari penumpang mulai mengerumuni dua lelaki itu. Mata mereka menyala, laksana mata harimau yang siap menerkam rusa. Dua lelaki itu makin ketakutan.

Sebelum menyaksikan aksi kekerasan dalam kapal terbang berlangsung, Nisrina langsung menarik Caroline ke kamar kecil pesawat. Melihat ekspresi Caroline yang makin merah, ia khawatir teman Irlandianya akan memakan dua penumpang itu hidup-hidup. Namun diam-diam, tanpa diketahui Caroline yang membelakanginya, Nisrina menjitak pelan dua pemuda itu.

Begitu sampai di kamar kecil, dua sahabat dapat mendengar teriakan si dua lelaki malang.

“Aww!”

“Aduh!”

“Aaaaakkkkkk!”

“Ampun!!!”

~SELESAI~

Pesan:

  • Hormati agama sendiri.
  • Hormati agama orang lain.
  • ….
4 Comments
  1. prajuritkecil99
    • deeann
  2. sari widiarti
    • deeann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *